Oleh Arie Frederik, S.Psi., MM.

Praktisi HR

Sudah jelas tidak ada yang menyukai toxic leader, negative leader, atau segala tipe pemimpin yang dipandang buruk dan negatif. Kepemimpinan adalah tentang gaya memimpin orang, mengelola tugas dan obyektif yang harus dicapai. Sudah pasti setiap orang akan memiliki gaya yang unik dan berbeda-beda. Tidak ada satu pemimpin pun yang memiliki kesamaan secara total dengan pemimpin lainnya.

Tulisan kali ini akan membahas kepemimpinan dari sudut pandang seorang pemimpin. Saya menyadari bahwa jika kita menggunakan sudut pandang team member maka akan sangat bervariasi tipe dan gaya kepemimpinan yang diinginkan ataupun yang dianggap paling sesuai. Jumlah anggota kelompok di bawah satu kepemimpinan jauh lebih banyak dan berkali-kali lipat dari jumlah pemimpin itu sendiri. Sudah pasti akan banyak pro dan kontra terhadap gaya kepemimpinan. Ada yang senang dengan pemimpinnya dan ada juga yang tidak senang dengan pemimpinnya. Itu adalah hal yang wajar. Sama seperti pada anggota tim yang memiliki kecenderungan bekerja tertentu harus menyesuaikan diri dengan pemimpinnya. Belum lagi latar belakang dan pengalaman hidupnya yang mengarahkan dirinya untuk menyukai dan percaya pada satu gaya kepemimpinan saja. Dan dengan banyaknya anggota yang dipimpin, membuat seorang pemimpin tidak luput dari penilaian positif dan negatif, disukai atau dibenci oleh timnya.

Melihat pemimpin dari sudut pandang lain, kita melihat seorang pemimpin dengan tipikal dan gaya yang berbeda. Pemimpin yang positif adalah pemimpin yang murni. Akan sangat memudahkan jika saya membahasnya dengan menunjukkan cara pandang psikologi positif itu sendiri dari tokoh terkenal psikologi, Alfred Adler. Banyak juga yang mengatakan bahwa aliran psikologi positif adalah Adlerian alias pengikut ajaran Adler. Ini hanya salah satu tokoh dan dia adalah tokoh yang pertama-tama mencetuskan ide tentang psikologi positif.

Mengawinkan konsep positivity dalam psikologi dan kepemimpinan adalah hal yang mungkin. Psikologi selalu berbicara tentang kualitas pribadi dan kondisi kejiwaan seseorang. Dengan psikologi yang positif, maka apapun posisi, jabatan, pekerjaan seseorang akan ikut menjadi positif. Hal ini disebabkan karena apa yang ada di dalam diri seseorang sangat positif, tumbuh positif dan memancarkan aura positif dimana pun dan dalam situasi apapun.

Menjadi POSITIVE LEADER

Positive Leader atau Pemimpin Positif harus memenuhi beberapa kriteria yang ada di dalam psikologi positif. Itulah di awal saya menekankan bahwa berbicara pemimpin yang positif cukup dari sudut pandang pemimpin itu sendiri. Dalam psikologi positif, kualitas individu itu ditentukan oleh diri sendiri, bukan dari penilaian orang lain terhadap dirinya. Bukan pula dari penilaian lingkungan sosial terhadap dirinya. Pemimpin positif adalah pemimpin yang menjadi positif karena insiatif dan kesadaran diri sendiri, bukan karena paksaan ataupun tekanan lingkungan sosial. Setidaknya ada 3 hal mendasar yang menjadikan seorang pemimpin menjadi pemimpin yang positif:

1. Penerimaan Diri

Semua hal dimulai dari diri sendiri. Menerima diri sendiri, menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri, menerima kondisi fisik diri sendiri, menerima peran dan tanggung jawab diri sendiri. Dengan begitu kita dapat merasa puas dengan diri sendiri dan apapun atribut yang melekat pada diri kita tanpa perasaan penolakan dan penyesalan. Yang terpenting bagi seorang pemimpin adalah mampu menerima diri sendiri sebelum dapat menerima orang lain di lingkaran pengaruh ataupun lingkaran kendalinya. Ada banyak aspek dalam diri kita yang terkadang tidak kita sadari. Lalu kita menolaknya bukan karena kita tidak menyukai atau menerimanya, melainkan karena kita tidak mengetahui dan menyadarinya bahwa kita memiliki sesuatu yang sangat berharga di dalam diri kita. Apa yang sudah kita latih bertahun-tahun, apa yang sudah kita miliki saat ini, apa yang bisa kita lakukan adalah hal yang kita butuhkan. Termasuk dengan kondisi fisik dan psikologis kita. Tidak ada yang salah dengan itu jika kita menyadari dan menerimanya.

Untuk menjadi pemimpin yang positif, seseorang perlu menerima dirinya terlebih dahulu sebelum dapat menerima orang lain. Itulah Adler mengatakan dalam segala hal pertama-tama diperlukan adalah sikap menerima diri sendiri sebagai pribadi yang utuh dan apa adanya. Menerima diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita sadari. Memang prinsip dari Adler ini sangat dekat dengan konsep religi tentang pribadi yang unik, pribadi yang sempurna dan diciptakan sempurna. Sehingga manusia selayaknya menerima keberadaan diri kita melebihi apa yang belum kita miliki dan apa yang masih kita pikirkan ataupun harapkan.

Baca juga  Peran Black Belt Semakin Dibutuhkan di Situasi Pandemi

Pemimpin yang positif dipastikan adalah seorang yang sudah dapat melihat diri mereka sendiri secara positif. Dalam psikologi, seseorang yang tidak dapat menerima diri sendiri, menganggap diri sendiri negatif, menolak diri sendiri – tidak dapat menjadi orang yang bersikap positif dalam interaksi sosialnya. Aura negatif yang dihasilkan dari penolakan terhadap diri sendiri atau penilaian negatif terhadap diri sendiri akan terpancar dan termanifestasi dalam bentuk perilaku dan bahasa tubuhnya. Kita semua paham bahwa orang yang belum selesai dengan dirinya, menyimpan permasalahan dalam dirinya akan terlihat oleh orang di sekitarnya.

Semua yang berbau wangi akan sampai di hidung orang di sekitar kita dan mereka akan menyukai wangi-wangian itu. Begitu pula dengan bau-bauan yang tak sedap akan tercium oleh orang di sekeliling kita dan menyadari bahwa ada sesuatu yang tak sedap untuk didekati. Itulah faktanya tentang kehidupan. Walaupun apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita tidak terlihat oleh orang lain, tapi itu dapat dirasakan oleh orang yang berinteraksi dengan kita. Itu tidak dapat disembunyikan lagi.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang positif, maka hal pertama yang harus dilatih dalam diri kita adalah menerima diri sendiri apa adanya. Jangan karena kita melihat orang lain, atau mengidolakan seseorang membuat kita menolak diri sendiri dan gagal menerima diri sendiri. Mulailah dengan menerima diri sendiri dan segala hal positif yang dimiliki diri sendiri. Lihatlah diri sendiri dengan sudut pandang yang positif daripada menilai negatif diri sendiri. Karena jika anda menilai diri anda negatif, maka anda tidak berhak untuk memaksa atau mengharapkan orang menilai anda sebagai pribadi yang positif. Mulailah dari diri sendiri yang berpikir positif kepada diri sendiri. Mulailah dari diri sendiri untuk menerima diri sendiri apa adanya dan dengan berpikiran positif.

Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Selalu ada keterbatasan yang dimiliki oleh setiap orang. Tidak ada orang yang sempurna dan menguasai semua bidang dan semua hal. Manusia hidup dalam keterbatasan dan kekurangan. Sadari itu, terima itu dan pandanglah itu sebagai sesuatu yang positif. Untuk itulah kita hidup dalam interaksi sosial dengan orang-orang lain yang dapat kita bantu atau terkadang dapat menolong kita. Hidup menjadi positif jika kita memandangnya dari kaca mata yang positif, begitu pula menjadi pemimpin sangat perlu menjadi positif terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar kita.

2. Kesetaraan Hubungan Interpersonal

Tidak ada senioritas dalam kehidupan ini. Semua orang hidup dalam peran dan tanggung jawab masing-masing, dimana keberadaan setiap manusia itu bertujuan saling berinteraksi dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Alih-alih memandang diri sendiri lebih hebat, lebih kaya, lebih berpengaruh daripada orang lain, Adler menganjurkan satu sudut pandang baru dalam psikologi positif, yaitu memandang kehidupan sebagai suatu kehidupan yang setara. Yang membedakan kita dengan orang lain adalah peran, tanggung jawab, waktu, kesempatan dan apa yang dapat kita lakukan. Pada prinsipnya tidak ada yang menginginkan lahir dari keluarga yang susah dan menderita, tidak ada orang yang mau dilahirkan dari seorang ibu yang memiliki sakit bawaan genetik. Sama halnya dengan orang-orang yang kaya, lahir dari keluarga yang sukses. Kita semua tidak dapat memilih untuk dilahirkan sebagai apa dan dari keluarga atau orang tua seperti apa. Itulah kehidupan. Yang membedakan kita dengan orang lain adalah apa yang saat ini kita miliki dan apa yang saat ini harus kita jalani dan kerjakan.

Kabar baiknya adalah semua orang di muka bumi ini hidup sama seperti kita. Disinilah peran sebagai pemimpin yang positif dapat memahami lebih baik keberadaan diri sendiri dalam lingkungan sosial, dalam interaksi sosial masyarakat. Setiap orang memiliki misi dalam kehidupannya. Setiap orang memiliki peran dan tugas yang harus mereka jalankan dan selesaikan dalam hidup mereka. Apa yang dimiliki saat ini bukanlah sesuatu yang pasti dimiliki selamanya. Tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk. Adler beranggapan bahwa tidak ada kompetisi dalam kehidupan ini. Setiap orang memiliki urusannya masing-masing di dunia sesuai dengan sikap penerimaan diri yang sudah mereka lakukan.

Baca juga  Waspada, Inilah 6 Kesalahan Rookie Saat Menjalankan Peran Manajerial

Hidup itu saling melengkapi. Itulah kenapa pemimpin yang menyadari diri sendiri, menerima diri sendiri dapat memimpin dengan positif. Posisi, tugas dan peran sebagai pemimpin itu tidak mutlak. Pemimpin ada karena ada pengikutnya. Tapi bukan berarti pemimpin lebih baik daripada pengikutnya. Pemimpin menjadi pemimpin karena peran, tugas dan tanggung jawabnya lebih besar dari anggota dan pengikutnya. Tapi dalam pelaksanaannya seorang pemimpin akan merasa lengkap jika ada pengikut atau anggotanya yang aktif dan mahir dalam hal-hal yang harus diselesaikannya.

Tugas, peran dan tanggung jawab dapat berbeda, tapi sebagai manusia kita setara dan kita adalah manusia yang saling melengkapi kekurangan dan kelebihan kita di dunia untuk menjalankan misi yang kita harus selesaikan. Disinilah pentingnya sudut pandang psikologi positif bagi pemimpin. Bahwa dengan memandang bahwa manusia itu adalah setara dalam kehidupan ini, maka konflik itu bukanlah sebuah konflik yang perlu dibesar-besarkan lagi. Konflik adalah sesuatu yang terjadi karena sebetulnya ada kepentingan yang perlu diseimbangkan antar individu. Semua orang memiliki tujuan dalam hidupnya dan itulah yang perlu dibicarakan dan dimediasikan. Karena kepentingan dan tujuan kita bukanlah yang paling benar dan harus diikuti oleh orang lain. Orang lain memiliki tujuan yang sama dengan kita. Konflik seperti ini pasti bisa dibicarakan dan dirundingkan karena setiap orang memiliki tujuan dan berusaha menghindari konflik. Mereka ingin tujuan mereka sama-sama tercapai. Inilah kehebatan yang dapat ditunjukkan oleh pemimpin positif dalam menghadapi konflik dan perbedaan pendapat. Semua hal terlihat jelas, tidak ada yang akan mendominasi dan tidak akan ada yang lebih lemah. Yang ada adalah bahwa tujuan, kepentingan bersama dapat dicapai dengan baik tanpa harus terjadi konflik.

Menjadi pemimpin positif menurut Adler sangat perlu untuk memahami kesetaraan antar individu di sekitar kita. Dan semua itu dimulai dari menerima diri sendiri terlebih dahulu. Kesetaraan berarti kita menerima bahwa diri kita adalah manusia yang memiliki peran dan tanggung jawab serta misi yang harus kita selesaikan. Kita menyadari bahwa kita memiliki kelebihan dan kekurangan yang dalam interaksi sosial kita dapat menjadi pelengkap bagi kekurangan orang lain ataupun membutuhkan orang lain sebagai pelengkap kehidupan kita. Pemimpin yang positif akan melihat orang lain sebagai individu yang positif, bukan sebagai seorang yang dapat di-bully, direndahkan, dimanipulasi, karena setiap individu adalah spesial dengan kelemahan dan kelebihan mereka masing-masing.

3. Berkontribusi pada Lingkungan

Menjadi pemimpin positif tidak hanya berhenti pada keberhasilan menerima diri sendiri, dan membangun hubungan yang positif dengan orang lain dalam kesetaraan. Lebih dari itu semua perlu dipahami lagi bahwa menerima diri sendiri apa adanya, kemudian dapat menerima orang lain secara positif belumlah lengkap. Peran dan tanggung jawab sebagai pemimpin harus diselesaikan dengan baik. Tanpa embel-embel pemimpin sekalipun, Adler mengatakan bahwa individu yang positif adalah individu yang menyadari keberadaannya, menyadari misi kehidupannya dan fokus untuk memberikan kontribusi pada lingkungan sekitarnya.

Menjadi pemimpin yang positif adalah sebuah perjalanan mental. Jika kita berharap orang lain melakukan sesuatu kepada kita, justru dalam konsep positif Adler kitalah yang menggerakkan kehidupan kita dengan menciptakan kontribusi-kontribusi yang dapat kita berikan kepada lingkungan kita. Dengan berbekal penerimaan diri, mengenali diri sendiri, kekuatan diri sendiri, menyadari bahwa apa yang kita miliki dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik, kita memberi kontribusi pada lingkungan kita. Jika anda saat ini menjadi seorang pemimpin, maka dengan menjadi pemimpin positif ada dapat membeirkan kontribusi pada tim anda, pada pekerjaan anda, pada perusahaan tempat anda bekerja. Anda dapat berkontribusi dalam pekerjaan anda, dalam keluarga, bagi orangtua, bagi lingkungan sekitar anda.

Baca juga  Tanpa Kendali, Improvement Gagal Dilakukan

Menariknya dari pandangan Adler ini dan menjadi alasan saya menuliskan ide pemimpin positif ini adalah bahwa setiap orang yang dapat menerima diri sendiri dengan cara yang positif, maka dia akan melihat hal positif yang ada dalam dirinya dan melihat positif pada lingkungan sekitar dan orang-orang sekelilingnya. Maka dengan bermodalkan itu, individu yang positif ini jika menjadi pemimpin akan tahu jelas apa yang dapat dilakukannya dan dikerjakannya untuk berkontribusi pada dunianya secara proaktif. Dan menurut saya seorang pemimpin adalah penggerak yang membawa sesuatu yang positif, baik, berdampak, bermanfaat pada lingkungannya. Tentu itu akan menjadi modal penting bagi orang-orang yang menjalankan perannya sebagai pemimpin yaitu dengan berkontribusi pada lingkungan sesuai dengan apa yang mereka lakukan.

Menjadi pemimpin positif berarti mereka mampu berpikir dengan jelas dan positif berkontribusi sesuai dengan apa yang mereka miliki dan bisa mereka lakukan. Mereka tidak lagi hidup dengan persaingan, manipulasi, rasa iri dan dendam dengan diri sendiri ataupun orang lain. Berkontribusi pada apa yang dapat mereka lakukan dan berikan itu menjadi pilihan hidup mereka daripada mempermasalahkan posisi, kehidupan dan apa yang mereka miliki saat ini.

Ada banyak cara dan jalan untuk berkontribusi. Namun yang pasti memberi kontribusi pada lingkungan adalah bukti bahwa kita adalah pribadi yang positif. Jika anda saat ini sebagai karyawan, berkontribusilah melalui pekerjaan anda. Jadikanlah apa yang anda tahu, pekerjaan anda jalan untuk berkontribusi positif bagi perusahaan dan lingkungan sekitar. Memberi kontribusi berarti menjadi aktif melakukan sesuatu secara proaktif. Berkontribusi berarti memberikan sesuatu yang berdampak, bukan karena anda diminta untuk melakukannya, melainkan karena anda menyadari bahwa anda mampu dan dapat melakukannya. Tidak perlu risaukan apakah ada orang lain yang dapat melakukannya juga sama seperti anda, karena menjadi positif berarti berhenti membandingkan diri anda dari orang lain. Berkontribusilah, berdampaklah dengan apa yang anda miliki serta melalui apa yang dapat anda kerjakan. Dan tidak ada yang lebih baik daripada menjadi aktif dan berkontribusi pada kehidupan yang anda jalani. Hidup tidak dapat ditunggu, dan anda tidak dapat menunggu orang lain melakukannya untuk anda. Justru yang diperlukan untuk menjadi pemimpin positif adalah bergerak lebih dulu dan berkontribusi secara mandiri tanpa diminta.

Apa yang Paling Penting?

Menjadi positif itu hal yang perlu diperjuangkan di tengah kehidupan yang dipenuhi oleh pandangan dan penilaian negatif. Hidup kita terkadang bergantung pada penilaian dan tekanan sosial, padahal dengan pandangan positif seperti yang Adler sampaikan, semua orang itu positif jika dapat menerima diri sendiri, melihat kesetaraan dalam hubungan antar manusia dan fokus pada kontribusi atau apa yang dapat dilakukan dibandingkan pada menilai diri sendiri, menilai orang lain atau menilai kehidupan yang dijalani.

Kehidupan sudah menjadi milik kita, bahkan tanpa kita rencanakan, kita pilih dan tentukan, kita memiliki kehidupan. Justru yang terpenting dalam menjadi pemimpin positif adalah apa yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita agar kehidupan kita dapat berdampak positif, menyelesaikan misi kehidupan kita dengan baik tanpa membuat konflik di sekitar kita. Ketiga hal diatas perlu dikuasai oleh seorang pemimpin untuk dapat menjadi pemimpin yang positif dan berdampak. Hidup perlu memberi dampak positif bagi sekitar kita dengan apa yang kita miliki dan bisa kita lakukan. Percayalah bahwa kita memiliki kekuatan, kelebihan yang lebih besar daripada kelemahan kita. Dan oleh karena itu, maksimalkan itu agar kehadiran kita di dunia dapat berkontribusi dan membuat dunia lebih baik.

Ini adalah artikel Community OPEX. Community OPEX merupakan wadah bagi Para Profesional untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar dunia continuous improvement dan operational excellence. Isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis. Anda juga dapat menjadi bagian dari Community OPEX, kirimkan artikel Anda ke tim shiftindonesia.com melalui emailĀ redaksi@shiftindonesia.com.