Banyak industri manufaktur yang sudah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keuntungan seperti Internet of Things (IoT), 3D printing, 5G, dan Artificial Intelligence (AI)  atau kecerdasan buatan.

Teknologi di atas sangat berbeda dengan siklus adopsi teknologi manufaktur di masa lalu. Karena kini teknologi tidak lagi sepenuhnya digunakan untuk peningkatan proses secara bertahap, tetapi juga digunakan untuk menciptakan model bisnis baru dan revenue stream yang benar-benar mengubah lanskap industri manufaktur.   

Lalu apa saja perubahan yang akan terjadi di sektor manufaktur? Antony Bourne di Industryweek mengatakan perubahan menghantam di industri manufaktur dari sejumlah arah, namun perubahan yang paling mengganggu sebenarnya adalah perubahan yang dapat dan harus segera dilakukan oleh pabrikan itu sendiri. Dengan kata lain, pabrikan harus mengambil keuntungan dari teknologi itu sendiri. Menurut Bourne, bidang manufaktur  akan mengalami tiga perubahan besar berkat kemajuan teknologi, yaitu koneksi 5G, munculnya model B2B2C, dan investasi AI.


1. 5G akan menggerakkan industri

Pada akhir 2020 diperkirakan akan ada lebih banyak perangkat manufaktur yang terhubung oleh 5G dibanding orang-orang di jaringan 5G.

Bernard Marr dalam Forbes mengatakan 5G akan memberikan dampak yang luar biasa dalam hal mengaktifkan teknologi lain. Streaming musik, nonton film bisa dilakukan tanpa terputus sebab teknologi 5G akan membuat perangkat seluler lebih mudah dan lebih terjangkau. Tetapi yang lebih transformasional lagi, 5G bisa digunakan untuk menggerakkan proses industri secara otomatis.

“Kemajuan ini akan memungkinkan mobil terhubung dan mengemudi secara otonom,” tulis Marr. Menurutnya 5G akan membuat dampak terbesar dalam otomasi industri. Konektivitas ultra, di mana-mana akan menyalakan sensor pada mesin industri, memungkinkan mereka untuk berbicara satu sama lain dan menghasilkan banyak data. Melalui machine learning, pabrikan akan mendapat kunci baru untuk penghematan biaya dan efisiensi. Model ini pun sudah diterapkan oleh China, Korea Selatan dan AS.

Baca juga  Merangkul Pemimpin dalam Pembelajaran Lean

2. Model B-2-B-2-C akan muncul dan bersaing dengan model B-2-C

Pada awal 2018, data IFS menunjukkan bahwa 62% produsen sudah mendapatkan keuntungan dari pendapatan aftermarket, baik itu melalui suku cadang, garansi atau kontrak layanan proaktif. 16% responden penuh menawarkan kontrak perawatan dengan perjanjian tingkat layanan tertentu (SLA), tetapi hanya 4% dari produsen yang menawarkan produk layanan penuh. Apa artinya ini?

Produsen menjual produknya melalui saluran distribusi, mereka mungkin mendukung atau melayani produk secara langsung selama siklus hidupnya. Nah, ketika kemudian mereka menjadi perusahaan business to business to consumer, mereka bisa memiliki layanan terhubung yang akan mendorong pendapatan. Di sisi lain, pengalaman pelanggan akan meningkat ketika model business to business to consumer berlangsung karena akan ada lebih banyak komunikasi langsung antara produsen dan konsumen akhir suatu produk. Model ini juga akan bermanfaat bagi lingkungan karena jumlah barang yang sedang dibangun dan sumber daya yang masuk ke dalamnya cocok dengan persyaratan daripada keinginan konsumen.

3. Teknologi AI meningkatkan produktivitas hingga lebih dari 10%

Sebagian besar pabrikan sudah memanfaatkan otomatisasi mulai di lantai pabrik hingga front office. Misalnya pabrik buah dan camilan kering Whitworths, mereka menggunakan otomatisasi tingkat tinggi dalam manajemen kualitas, beralih dari uji acak produk secara berkala dan perekaman manual ke proses efisien yang didorong langsung oleh pesanan dari toko.

Sementara otomatisasi memperlancar proses, AI akan dapat membuat proses baru. Jadi Whitworth mungkin dapat memprediksi masalah kualitas sebelum terjadi, atau menciptakan rasa yang didorong oleh AI untuk memenuhi selera pelanggan individu.

Bidang lain yang akan terus berkembang di tahun-tahun mendatang adalah perencanaan dan perkiraan permintaan yang didukung AI. Ketika AI bertemu perangkat data yang tepat, produsen akan dapat menyelaraskan rantai pasokan mereka dengan proyeksi permintaan untuk mendapatkan wawasan yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Baca juga  Dari Internet Menjadi Ordernet, Revolusi dunia Supply Chain

Studi IFS pada November 2019 lalu, 40 persen responden  yang merupakan produsen mengatakan berencana mengimplementasikan AI untuk perencanaan persediaan dan logistik, diikuti oleh penjadwalan produksi dan manajemen hubungan pelanggan, masing-masing sebesar 36 persen  dan 60 persen responden mengatakan mereka menargetkan peningkatan produktivitas dengan investasi ini.

Setelah beberapa dekade, inisiatif lean – otomatisasi – disiplin tinggi telah mendorong produktivitas. Di masa depan, pabrikan akan menggunakan teknologi bukan sekedar mengoptimalkan bisnis tetapi juga menciptakan bisnis baru, dan AI akan menjadi cara baru pabrikan dalam melakukan sesuatu.

Sumber : Industryweek, Forbes