Tentu Anda masih ingat saat 7-Eleven pertama kali hadir di ibu kota. 7-Eleven begitu meyakinkan dengan ekspansi bisnis yang begitu masif. Gerai demi gerai berdiri dengan cepat, hingga dalam sekejap saja, ke mana mata memandang, di sana ada gerai 7-Eleven yang selalu dipenuhi anak-anak muda yang sekadar jajan dan hang out. Bahkan sempat tercatat saat itu, terdapat sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru dibuka di Jakarta setiap tahunnya. Wow!

Ya, dalam beberapa kurun waktu tersebut, 7-Eleven tampak sukses menggaet pasar. Para konsumen disuguhi tempat yang nyaman di mana mereka bisa berlama-lama duduk bersama teman, ditemani minuman dan camilan yang ditawarkan, dan tentunya keju cair yang bisa didapatkan sepuasnya secara gratis. Konsumen benar-benar dimanjakan.

Namun, belum sampai satu dekade, bisnis 7-Eleven mulai rontok, satu per satu gerai-gerai mereka berguguran. Pengunjungnya terus berkurang. Hingga akhirnya di bulan April 2017, Grup Modern yang mengendalikan bisnis inipun menyerah, dan memilih melepaskan bisnis 7-Eleven. Apa yang terjadi?

Tidak tercapainya target perusahaan di beberapa toko, situasi ekonomi semat melemah di tahun 2015 yang menyebabkan melemahnya daya beli konsumer, kinerja toko yang tidak mencapai target untuk mengurangi biaya operasional, daya saing yang tinggi antar minimarket, adalah beberapa faktor yang mendera bisnis ini.

Belum lagi larangan penjualan minuman beralkohol di minimarket, yang menjadi kambing hitam sebagai penyebab bertambah buruknya angka penurunan penjualan. Target penjualan semakin merosot, penutupan gerai mulai dilakukan untuk menutup kerugian yang dialami akibat beban biaya operasional seperti membayar pajak, dan kewajiban membayar listrik dan sewa.

Apa yang tidak dilakukan bisnis waralaba ini adalah menciptakan inovasi dan mengembangkan kreativitasnya agar tidak mati. Tengoklah saat pesaing-pesaingnya membuka gerai hingga luar Jakarta, 7 Eleven tetap bertahan dengan pasar ibu kota. Salah satu penyebab 7 Eleven di ibu kota akhirnya mengalami kerugian, adalah karena tidak adanya inovasi baru dari bisnis mereka.

Pada saat bisnis turun, saat itulah sebuah strategi kreatif dibutuhkan untuk menyelamatkan bisnis. Misalnya, saat makanan sudah direspons kurang baik, dapat ganti menu dengan yang lain. Saat konsep sudah tak lagi dilirik konsumen, segera diganti dengan konsep lain.

Lantas, apakah kebangkrutan 7-Eleven membuat bisnis waralaba di Indonesia menjadi ikut lesu? Tentu saja tidak. Indonesia merupakan pangsa pasar franchise yang baik. Dengan jumlah penduduk yang banyak dan dikenal konsumtif, perkembangan waralaba baik nasional atau asing masih bertumbuh. Bisnis berbasis konsumsi di Indonesia masih menjadi lahan yang menguntungkan. Kuncinya adalah strategi dan tanggap terhadap apa yang terjadi.