Airbus menargetkan pendapatan naik tiga kali lipat dari bisnis pesawat komersial menjadi $10 M dalam waktu tujuh tahun ke depan dan mengurangi jumlah jet yang bermasalah karena alasan teknik . Mereka juga menargetkan 450 juta euro ($ 555 juta) pada tahun 2018 untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya pembuatan jet terbarunya – A320neo dan A350.

Seperti pesaingnya, Boeing, selain menurunkan biaya produksi Airbus juga melakukan percabangan pada layanan yang lebih menguntungkan, sebagai upaya meniru pihak ketiga yang secara tradisional mengendalikan pasar untuk perbaikan layanan. Namun sejauh ini Airbus hanya memberikan sedikit panduan terperinci tentang target aktivitas bisnis mereka.

Seorang juru bicara Airbus memberikan konfirmasi kepada Reuters bahwa target pendapatan layanan $ 10 miliar adalah untuk divisi jet utama. Dia mengatakan perusahaan dalam beberapa tahun memiliki target produktivitas yang bergulir, namun menolak memberikan rincian. “Seperti perusahaan terkemuka lainnya … tahun ke tahun kami mengupayakan perbaikan terus menerus, melepaskan efisiensi lebih lanjut di setiap area bisnis, memperkuat daya saing dan memusatkan perhatian pada pelanggan kami,” kata juru bicara tersebut.

Digital Service

Chief Executive Tom Enders mengatakan kepada analis bulan lalu bahwa total bisnis jasa di bidang pesawat terbang, helikopter, pertahanan dan ruang angkasa milik Airbus bernilai 9 sampai 10 miliar euro.

Dia mengatakan bahwa Airbus akan memperbaiki hal tersebut melalui pertumbuhan organik dari bisnis layanan (internal), berbeda dari Boeing yang lebih eksplisit mengenai perolehan akuisisi untuk mewujudkan pendapatan layanan tiga kali lipat hingga $ 50 miliar pada tahun 2027.

Airbus Commercial menghasilkan 76 persen pendapatan pada 2017. Enders telah memberi penekanan pada layanan berbasis digital baru seperti sistem prediksi pemeliharaan Skywise, berikut kesepakatan dengan AirAsia, Asiana Airlines dan Etihad Airways.

Dengan layanan berbasis digital tersebut Airbus berencana mengurangi insiden “aircraft on ground” paling sedikit 30 persen dalam dua tahun ke depan. Ini juga bertujuan untuk memangkas 20 persen jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengidentifikasikan masalah ketika pesawat memasuki masa pemeliharaan.

Di dalam pabriknya, ini bertujuan untuk mengurangi jumlah pekerjaan mahal atau out-of-sequence yang mahal. Masalah biaya dan kualitas akan selesai ketika Airbus mampu mempercepat keluaran produknya untuk memenuhi permintaa – sebuah tren masalah akan tercipta jika produktivitas tertinggal. Pada tahun 2018 ini Airbus menargetkan peningkatan pengiriman 11 persen menjadi 800 pesawat, termasuk 30 yang tidak bisa diserahkan tahun lalu karena kendala mesin.

Baca juga  Recalling: Lean Manufacturing