Gambar: http://www.ecouterre.com

Analisa berikut dilakukan oleh BBC News, dan dipublikasikan melalui situs www.bbc.co.uk

Setelah beberapa tahun tertinggal dari retailer fashion Eropa yang mampu memberikan item fashion yang lebih segar dan up to date, perusahaan retail pakaian AS mencoba mengejar ketinggalan.

Dalam usaha pengejaran tersebut, beberapa retailer seperti Gap Inc, American Eagle Outfitters, dan Macy’s Inc memilih untuk melempar order yang lebih kecil kepada lebih banyak pabrik, dan menunggu hingga menit terakhir untuk memberi informasi mengenai warna dan gaya busana seperti apa yang harus dibuat oleh pabrik (berdasarkan preferensi pelanggan). Mereka juga memperpendek jangka waktu penyimpanan produk di gudang. Begitulah informasi yang disampaikan oleh para pakar industri.

“Retailer Inggris yang memiliki keragaman dan fluktuasi pergantian produk yang cepat, kecepatan proses produksi, kebaruan dan kesegaran akan selera fashion, membuat para retailer Amerika tertinggal. Kini mereka harus mengejar dan meningkatkan kecepatan dalam pengejaran tersebut,” kata Matt Katz, konsultan dari Boston Consulting Group, yang memberikan konsultasi untuk perusahaan retail.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pakaian Amerika tenggelam dalam kebiasaan mereka yang bersifat lambat; waktu yang dibutuhkan bagi sebuah konsep produk untuk terwujud di etalase membutuhkan setidaknya enam hingga sembilan bulan. Sebelumnya bahkan mereka butuh 12 bulan untuk menjalani proses mulai desain hingga pemasaran di toko-toko.

Apa yang telah dicapai akan nampak seperti kemajuan besar hingga Anda tahu sampai mana kemampuan para pesaing Anda.
“Popularitas H&M dan Zara dan kemampuan mereka untuk mengikuti tren fashion dan memproduksi item dalam kurun waktu kurang dari enam minggu menambah banyak tekanan dalam persaingan,” kata Katz.

CEO baru American Eagle, Robert Hanson, sedang mencari cara untuk memoton waktu pengiriman dan bagaimana merespon gaya dan tren fashion terbaru. Macy’s juga tengah mencari cara untuk mempercepat keputusan mereka atas produk pakaian seperti apa yang akan mereka pajang di rak.

Sebesar apa kemampuan dan keharusan retailer fashion AS mengejar ketinggalan, sangat bergantung kepada segala hal mulai dari margin hingga budaya perusahaan, juga ketergantungan terhadap manufaktur Asia yang murah namun berjarak jauh.

Baca juga  Tugas Edukasi Masih Menjadi Tantangan bagi Fintech

“Brand-brand tradisinonal memiliki banyak lapisan dalam pengambilan keputusan,” kata Jennifer Pritchard, mantan eksekutif di retailer pakaian Chico’s, dan kini bekerja untuk konsultan bisnis Alvarez & Marshal di Atalanta.

Perusahaan seperti Fast Retailing Co (paret company Uniqlo), pemilik H&M, Hennes & Mauritz AB, Forever21 dan pemilik Zara, Inditex, sangat terkenal dengan julukan “fast-fashion” retailer karena kecepatan mereka mengganti koleksi yang ada.
Walaupun tidak terlalu eksis di Amerika, H&M dan Zara telah melipat gandakan jejak mereka untuk 1 persen di pasar AS yang terfragmentasi, menurut laporan Euromonitor International.

Pencapaian tersebut terjadi akibat kemunduran yang dialami brand asal AS seperti Gap dan American Eagle, yang juga sedang berjuang dengan margin tipis dan penolakan pelanggan atas produk berharga tinggi. Zara dan H&M juga telah mengambil posisi Gap sebagai retailer pakaian terbesar di dunia.

Taktik Cepat

Insiders mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa biasanya menempatkan desainer mereka untuk bekerja bersama dengan pihak pabrik dan membuat pakaian mereka di negara-negara yang relatif dekat, seperti Maroko, Turki dan Rumania.

Taktik demikian dapat menciptakan “tampilan” pakaian yang sepenuhnya baru hanya dalam beberapa minggu. Bahkan pakaian yang dibuat di Asia dapat menjadi bagian dari “fast fashion” jika lini pakaian tersebut menjadi top seller.

“Dalam kasus Zara, mereka mengoperasikan kargo yang telah disewa seminggu sekali, dari Bangladesh,” kata Munir Mashooqullah, pendiri dan presiden dari Synergies Worldwide yang berperan sebagai pertantara bagi retailer dengan manufaktur. Zara adalah salah satu klien mereka.

Retailer AS Memiliki Beberapa Rencana ‘Serangan Balik’

American Eagle berencana untuk mengurangi penumpukan t-shirt, dress dan jeans yang ada pada stok. CEO Hanson mengatakan bahwa ia lebih memilih untuk memiliki lebih sedikit barang di toko, tapi mampu menjual semuanya.

Dalam konverensi via telepon BBC dengan Hanson, ia menyatakan bahwa perusahaannya selama ini telah “membeli fashion untuk dijual”. Pernyataannya ini mewakili retailer lain yang sekelas dengan American Eagle.

Baca juga  Tugas Edukasi Masih Menjadi Tantangan bagi Fintech

Macy’s mengemukakan strategi mereka berupa percepatan dalam pengambilan keputusan untuk membeli dan menyimpan pakaian dalam stok. Pakaian yang mereka maksud adalah lini yang ditujuan untuk usia antara 13 hingga 30 tahun. Usaha ini jelas dimaksudkan untuk memenangkan kembali antusiasme pelanggan muda terhadap produk mereka.

“Kami sekarang lebih cepat merespon tren yang dikeluarkan oleh merek INC dan BAR III, jadi barang yang kami tawarkan lebih segar dan baru,” kata juru bicara Macy’s, Jim Sluzewski. Kedua merek tersebut menawarkan barang yang lebih edgy dan berorientasi pada fashion dan aksesori untuk wanita muda.

Para analis bisnis retail mengatakan bahwa perusahaan seperti Ralph Lauren Corp, Ann Inc, PVH Corp (Tommy Hilfiger), VF Corp dan Limited Brands telah membuat beberapa kemajuan seiring dengan terbangunnya relasi dengan supplier manufaktur mereka dan eksperimen dengan cara-cara baru dan cepat untuk menyalurkan barang ke toko-toko.

“Untuk perusahaan apparel yang menggunakan supply chain mereka sebagai senjata, saya menempatkan VF di posisi teratas,” kata Brian Kinsella, senior director of product management for Manhattan Associates, yang menjual software untuk menolong retailer mengoptimasi distribusi mereka. “Mereka mengerti bagaimana mengoperasikan multiple brand dan mengambil keuntungan dari variasi skala dan ukuran yang ada.” VF Corps memiliki beberapa brand seperti The North Face, Timberland dan 7 For All Mankind.

Tirani Jarak Jauh

Jarak yang jauh dari Cina dan manufaktur Asia lainnya merupakan hambatan terbesar dari retailer pakaian Amerika.

“Retailer tradisional akan membeli dari Cina karena harganya yang rendah. Itu artinya ketika mereka memiliki masalah dengan inventori, mereka akan butuh waktu 6 hingga 12 bulan untuk mengatasinya,” kata Rahul Sharma, managing director Neev Capital, sebuah perusahaan manajemen investasi.

Namun margin yang tipis untuk beberapa item membuat mereka sulit mengambil keputusan apakah akan berpindah kepada manufaktur yang lebih dekat atau tetap mengambil manufaktur di Asia.

Baca juga  Tugas Edukasi Masih Menjadi Tantangan bagi Fintech

Amit Miglani dari Nahar Industrial Enterprises, manufaktur besar yang menyuplai beberapa brand asal Amerika dan juga retailer besar Eropa seperti Topshop, Zara, Esprit dan H&M mengatakan bahwa retailer asal AS kini seringkali meminta manufaktur untuk tetap menyimpan stok bahan yang tidak habis, dan menunggu komentar dan ‘permintaan’ dari pelanggan mengenai apa yang harus dilakukan dengan stok kain tersebut. Mereka lalu meminta manufaktur untuk membuat gaya tertentu yang sesuai dengan selera pelanggan saat ini. Ini adalah praktek yang dipopulerkan oleh fast-fashion.

Perusahaan AS juga kini menyebarkan jumlah pesanan mereka kepada pabrik yang berbeda-beda, sehingga setiap pabrik dapat menyelesaikan jumlah produksi lebih sedikit dengan cepat.

Mostafiz Rahman, yang memiliki pabrik di Bangladesh, membuat hooded sweatshirt untuk Gap. “Dua tahun lalu mereka akan memesan sekitar 50.000 hoodies dan kini mereka hanya memesan 15.000-20.000 item,” kata Rahman.

Paterno dari Jones Group mengatakan bahwa hubungan dengan manufaktur kini bertujuan untuk mempercepat turnaround. “Ini adalah masalah bagi brand asal Amerika yang, sejujurnya, tidak memayar dengan harga setinggi brand Eropa,” katanya.

Perubahan Perilaku

Diluar faktor-faktor ekonomis, percepatan juga bergantung kepada budaya perusahaan. Pritchard, sang konsultan, mengatakan bahwa mempercepat lingkaran fashion membutuhkan banyak perubahan, dari memastikan manufaktur memiliki akuntabilitas yang cukup, hingga memberikan kualitas yang tinggi kepada pelanggan.

“Banyak brand tradisional yang akan kesulitan mengimplementasikannya dan benar-benar menerapkan serta membiasakan diri terhadap perubahan tersebut, karena untuk itu juga diperlukan komitmen dari pimpinan teratas organisasi,” katanya.

Mashooqullah, agen apparel sourcing, berpendapat serupa. Retailer-retailer asal Amerika yang telah lama beroperasi memiliki organisasi yang terlalu terstruktur rapat sehingga akan menemukan kendala jika ingin melakukan perubahan.

“Merek-merek tradisional harusnya memiliki jalur komunikasi yang lebih pendek antara penjual dan pembeli. Mereka harusnya membiarkan setidaknya beberapa pembeli untuk memberikan ‘keputusan’ mengenai apa yang harus dilakukan. Itulah kuncinya.”

Sumber: BBC News (www.bbc.co.uk)