Menurut World Economic Forum (WEF), kecerdasan buatan akan menciptakan 58 juta pekerjaan baru pada tahun 2022.

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan  dan otomasi tidak lagi menjadi teknologi inovatif “keren” yang dibicarakan para pakar teknologi dan ahli manajemen. Sebaliknya, beberapa perusahaan di dunia kini telah menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas dan laba. Bagi pakar manajemen HR, revolusi kali ini juga membawa tantangan yang luar biasa, seperti yang mereka alami di awal-awal internet muncul. Hal ini disampaikan oleh Khalil Zafar, kontributor Entrepreneur.com yang juga seorang profesional HR.

Menurut Khalil, sistem berbasis robot dan AI telah masuk di hampir setiap sektor ekonomi dan kecepatan teknologi sangat luar biasa. Tidak dapat disangkal bahwa teknologi otomasi dan kecerdasan buatan telah mengganggu tempat kerja, baik secara positif ataupun negatif. Banyak yang membenarkan bahwa AI dan otomatisasi berdampak positif untuk produktivitas dan efisiensi, tetapi apakah ini sepenuhnya menguntungkan? Sementara para ahli HR meyakini bahwa AI dan otomatisasi akan menggantikan pekerjaan manusia.

Berbicara tentang AI, World Economic Forum (WEF)memprediksi pada tahun 2022 nanti AI berpeluang menciptakan hampir 58 juta pekerjaan baru.Meskipun 133 juta peran baru akan muncul,75 juta pekerjaan yang ada saat ini akan tergeser oleh AI dan otomatisasi. Seiring dengan itu, hampir 50 persen perusahaan yang ada saat ini berharap memiliki jumlah tenaga kerja yang ideal (pengurangan) dengan otomasi pada tahun 2022. Sementara 40 persen perusahaan berharap dapat memperluas tenaga kerja dan 25 persen lagi berharap otomatisasi akan memunculkan peran baru di perusahaan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang dengan keterampilan yang tepat akan tetap diminati pasar yang semakin kompetitif. Dalam tulisannya, Khalil juga menyebutkan bahwa Canada Economic Development (CED) untuk Wilayah Quebec telah mengumumkan investasi sebesar $6,3 juta untuk mendukung berbagai bisnis AI untuk memperluas pasar baru.

Baca juga  Menurut Forbes, Indonesia Akan Jadi Macan Asia

Banyak hal yang menunjukkan manfaat AI, dan saat ini para pemimpin bisnis harus segera mengambil keputusan penting akan hal ini. Perusahaan yang memanfaatkan AI akan memperoleh keunggulan kompetitif dengan berkurangnya biaya operasional, tetapi di sisi lain ini akan memunculkan kekhawatiran bagi mereka yang bekerja dalam peran yang berisiko mengalami transisi.  

Tim HR di perusahaan memiliki tantangan untuk menemukan dan mengembangkan orang-orang yang terampil untuk membawa otomasi ke tingkat yang lebih tinggi. Tim HR juga memiliki tugas besar untuk mengembangkan peran pekerjaan yang sesuai untuk karyawan yang bekerja dengan AI. Kemungkinan juga akan terjadi shifting besar-besaran dalam hal kualitas dan lokasi dimana karyawan harus bekerja.

Di sisi lain, banyak karyawan optimis bahwa perubahaan yang didorong oleh AI akan menciptakan lebih banyak pekerjaan yang bermanfaat dan kreatif. Ketika AI berkembang lebih maju, keterampilan baru dan pekerjaan baru akan dibutuhkan untuk menjalankan sistem, proses, dan pengaturan AI tersebut.

Meningkatnya produktivitas karena otomasi juga akan memberi peluang yang lebih besar untuk karyawan. Ada kemungkinan bahwa pekerjaan yang diadopsi oleh otomasi akan tetap ada, tetapi pekerjaan yang dilakukan secara berulang (bersifat rutin) pada akhirnya akan terganti. Teknologi pintar dan sistem berbasis AI akan menjadi pengambil keputusan menggantikan manusia dalam pengaturan industri, kasir mungkin digantikan oleh stasiun otomatis dan gadget, demikian pula dengan layanan pelanggan.

Ketika perangkat berteknologi tinggi dan otomasi mengambil alih, pekerjaan yang dilakukan oleh manusia akan mengalami transformasi. Jika perusahaan bisa mengatasi dan mengelolalnya dengan bijak, tranformasi ini akan membawa perusahaan kepada era baru yang lebih produktif. Tetapi jika dikelola dengan buruk risiko kesenjangan keterampilan, ketidaksetaraan, dan masalah etika akan semakin luas.

Baca juga  Operational Excellence, Aktualisasi Ide Para Karyawan

Tidak ada waktu lagi, kita harus membentuk masa depan pekerjaan dari sekarang. Kecerdasan buatan dan otomasi memberikan peluang untuk tumbuh tetapi yang bisa bertahan di masa depan hanyalah orang-orang dengan keterampilan yang tepat.