Menjadi seorang pemimpin adalah posisi penting, tetapi terkadang bisa menjadi genting terutama jika Anda berprofesi sebagai manajer sepak bola. Di Inggris, terhitung ada puluhan manajer klub yang telah dipecat dalam beberapa bulan terakhir. Dan perdebatan mengenai salah satu mantan manajer sepakbola paling terkenal di Liga Premier Inggris, Jose Mourinho dari Manchester United pun terus berlanjut. Mourinho menjadi manajer ke-11 yang meninggalkan klub setan merah ini. Sementara, pemilik klub selalu cepat merekrut manajer baru untuk segera mengakhiri hasil yang buruk.

Demikian pula dengan bisnis, seringkali kita terlibat dalam pertemuan untuk berbicara tentang masalah yang terjadi, atau tentang bisnis yang tidak berjalan dengan baik. Seringnya akan ada satu orang yang dengan semangat mengatakan bahwa tidak perlu khawatir karena kita akan merekrut orang baru (seperti mendatangkan pahlawan), sehingga menimbulkan kelegaan kolektif: masalah terpecahkan dan kita bisa move on.

“Tetapi apakah kita benar-benar telah memecahkan masalah?”

Anda bisa mengambil kesimpulan sendiri setelah membaca artikel ini.

Ketika situasi menuntut solusi, sepertinya saya telah menemukan masalah yang tidak dapat saya selesaikan bersama dengan tim, alih-alih terus mencari penyelesaian terbaik, kami ingin mencari seseorang yang tidak kami kenal untuk menyelamatkan kami dari situasi yang sedang kami hadapi saat ini. Artinya kita akan menaruh kepercayaan besar pada seseorang yang belum kita temukan, yang bisa jadi tidak tahu apa-apa tentang kita, organisasi kita, atau budaya kita.

Saat ini bisnis bersifat multidimensi dan sangat kompleks, jika kita mengambil opsi tersebut penting untuk kita juga mempertimbangkan fakta “dimana orang baru selalu membutuhkan waktu untuk memahami multi struktur, proses, dan hubungan yang sudah saling terkoneksi” dalam waktu yang lama, dan menjadi bagian dari DNA organisasi. Kondisi akan menjadi lebih mengkhawatirkan lagi ketika The Institute of Leadership & Management’s research, Beyond the Honeymoon, menemukan bahwa 30% dari para pemula baru berencana untuk meninggalkan pekerjaan mereka dalam 12 bulan pertama. Sehingga ketika kita berbicara secara realistis maka pilihan tersebut bukanlah solusi potensial.

Dalam sebuah paper yang dirilis tahun 2014, Thierry Nautin, seorang prinsipal McKinsey, menegaskan bahwa, “membawa tujuan, strategi dan tujuan yang praktis secara bersama-sama membuat aspirasi organisasi menjadi lebih kredibel – dan lebih mungkin untuk dicapai.” Hubungan ini akan terbentuk hanya jika orang-orang bisa melihat tujuan organisasi sebagai petunjuk arah dan menjadi katalis mereka untuk berinovasi. Namun, ketika organisasi merekrut tim baru yang memiliki kecocokan nilai-nilai baik itu individu maupun organisasi, organisasi masih perlu menginternalisasi norma-norma budaya agar nilai-nilai pribadi mereka sejajar dengan tim.  

Baca juga  Ini Dia Mindset Pengusaha Sukses

Karyawan baru mungkin juga tidak menyadari sejauh mana ekspektasi organisasi terhadap mereka, atau mungkin mereka tidak dapat segera memahami masalah dimana kehadiran mereka diasumsikan seperti oracle yang didambakan, menghasilkan solusi yang tidak dapat ditemukan sebelumnya. Ada biaya peluang yang berpotensi mahal ketika mengambil pendekatan ini, karena kita bisa kehilangan peluang pembelajaran yang besar untuk diri sendiri dan juga tim. Kita sering berbicara tentang bagaimana mengenali dan mengembangkan bakat yang ada dalam organisasi kita, tetapi ketika kesempatan tersebut muncul, kita mungkin melewatkannya karena lebih memilih opsi delegasi. Yaitu, mendelegasikan masalah ke “pahlawan” yang belum diketahui yang diharapkan datang menyelesaikan masalah.

Ketika kita tidak memiliki solusi atas masalah yang menimbulkan banyak kekhawatiran, keinginan untuk menyelesaikan kekacauan dengan cepat, dapat mendorong kita untuk membuat keputusan yang buruk. Faktor utamanya adalah ketidakmampuan dalam memahami sifat masalah yang sebenarnya.  Sementara seorang rekrutmen memiliki peluang mengatasi penyebab masalah, tetapi lebih dominan hanya mengatasi gejala masalah yang tampak di permukaan saja.

Akan ada saat-saat tertentu, keputusan untuk merekrut orang baru adalah solusi terbaik. Tetapi jika kita berbicara pengembangan organisasi jangka panjang, maka jalan terbaik yang bisa kita pilih adalah membangun kemampuan pemecahan masalah. Bisnis apapun yang Anda kelola, semua adalah tentang pemecahan masalah. Beberapa orang memiliki kemampuan baik dalam hal ini, tetapi IQ atau kredit akademis tidak bisa menjadi jaminan atas kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah, karena prinsipnya pemecahan masalah adalah sifat yang bisa dipelajari, bukan bawaan lahir.