SHIFT SSCX Aspek penting lean

Menurut pakar Lean Six Sigma Mark Warren, ada satu aspek yang menjadi bagian dari Lean, yang menjadi kunci kesuksesan implementasi. Pemecahan masalah, siapa yang melakukannya, kapan dan bagaimana, semuanya merupakan inti dari filosofi Lean. Sangat mudah untuk dibuat takjub dengan semua tools dan instrumen Lean, seperti Kanban, Kaizen, TPM bahkan 5S. Apalagi jika melihat perusahaan lain telah menikmati buah yang manis.Tapi sebelum anda terburu-buru memulai perbaikan, ada beberapa hal yang sangat penting untuk dimiliki sebagai dasar pijakan kuat bagi inisiatif apapun.

“Sebagai seorang insinyur, seperti saya juga, anda menyukai bel dan pluit lalu fokus pada hal-hal tersebut,” kata Warren. “Tapi seiring berjalannya waktu, anda akan mulai menyadari bahwa semua itu tentang perilaku. Tools adalah persyaratan, namun anda harus menumbuh-kembangkan karyawan dan membangun kebiasaan.”

Kebiasaan yang penting dibangun adalah yang berkaitan dengan self-reliance, atau kebiasaan mengandalkan diri sendiri. Selain itu, kemampuan menyelesaikan masalah atau problem solving juga penting untuk dikuasai karyawan. Bagi para manajer, kemampuan untuk membina dan mengembangkan bibit bertalenta juga harus dimiliki. Seringkali, perusahaan melatih tenaga profesional dengan sertifikasi, mengaplikasikan tools, dan meraih hasil yang “terlihat bagus”. “Namun mereka tidak mendapatkan hasil yang seharusnya didapat. Apa yang mereka raih bersifat sementara, dan mereka tahu itu,” imbuh Warren.

Mengapa demikian? Karena transformasi Lean adalah mengenai perilaku yang mendorong penggunaan tools dan metode. Jika dianalogikan dengan gunung es, tools ibaratnya seperdelapan bagian dari gunung es yang terlihat di permukaan air. Sisanya sebesar tujuh-perlapan bagian terbenam dalam air, tidak terlihat oleh kita. Sisa gunung es tersebut meliputi kebiasaan dan perilaku dalam pembinaan dan pemberdayaan karyawan, serta pemecahan masalah.

Mengatasi Hambatan Implementasi

Memang kerap terjadi beberapa hambatan dalam proses adopsi Lean di sektor minyak dan gas. Hal tersebut diakui oleh Franck Vermet, Testing and Subsea Manufacturing Manager di Schlumberger. “Banyak perusahaan yang berjuang untuk implementasi Lean,” katanya. Menurut survey yang dilakukan IndustryWeek pada 2007, 74 persen responden yang terdiri atas berbagai perusahaan tidak berhasil atau hanya sedikit membuat kemajuan dalam implementasi Lean mereka. 24 persen mampu membuat kemajuan yang signifikan, dan hanya dua persen yang berhasil melakukan transformasi kelas dunia.

Vermet menekankan bahwa pada permukaan, implementasi Lean mungkin terlihat mudah. Namun kinerja aktual di perusahaan umumnya sulit untuk dijamin. Ia juga memahami bahwa hasil Lean yang dijalankan tanpa strategi matang akan sulit untuk dipertahankan. Untuk memastikan keberhasilan Lean, Vermet merumuskan Adaptive Lean Framework untuk Schlumberger, sebuah kerangka kerja berbasis Lean yang dipatenkan oleh perusahaan tersebut.

“Seringkali, metode yang paling sederhana adalah yang terbaik,” kata Vermet.Karyawan yang bahagia adalah ide yang sangat sederhana namun sulit didapat. “Anda mengharapkan seluruh karyawan merasa termotivasi dan terdorong dengan sepenuhnya. Kami merasa karyawan yang bahagia adalah elemen kunci untuk pengembangan dari Adaptive Lean Framework, yang dirancang untuk mengaplikasikan Lean secara high-mix dan low-volume.”

“Pesan provokatif yang saya coba sampaikan adalah solusi praktis, yaitu membuat karyawan bahagia,” katanya. Menggembirakan karyawan bisa dimulai dengan menciptakan energi positif organisasi, yaitu mendefinisikan tujuan, keyakinan dan prinsip kepemimpinan. Ketiganya adalah pondasi atau bagian dari gunung es yang berada dibawah permukaan yang akan memastikan peningkatan kinerja.

“Hanya jika anda memiliki energi positif organisasi, anda akan mampu menciptakan struktur proses dan menstabilkannya,” jelas Vermet. Menurutnya, ketika telah stabil, proses bisa ditingkatkan dengan menggunakan teknik-teknik yang familiar (seperti Lean atau Six Sigma).

“Setelahnya, implementasi solusi adalah langkah kunci berikutnya, dan langkah ini sangat terikat dengan pemberdayaan karyawan,” katanya. Menurutnya, anda memiliki dua pilihan. Yang pertama adalah cara teoretis: buka buku Lean dan serap semua solusi terstandar, seperti Kanban atau 5S, misalnya, lalu desak karyawan untuk menjalankannya. “Opsi lainnya, anda bisa menempuh cara praktis dan mengembangkan karyawan yang bahagia. Karyawan yang terberdayakan akan mampu melakukan solusi praktis dari perkakas teoretis yang ada, dan mereka akan mampu menjalankan solusi yang anda harapkan dengan sendirinya.”

Seperti program perbaikan lain yang baik, Schlumberger menggunakan matriks untuk mengukur proses. “Kami menggunakan weeks of orders pada backlog. Kami memulai dengan sekitar 52 minggu dari backlog selama program perbaikan yang berlangsung selama 18 minggu,” kata Vermet.***

 

Artikel Terpilih di Inbox Anda
Ya, tim konsultan SSCX akan memilihkan artikel dan ide menarik untuk Anda!

Kami akan mengirimkan maksimal 1 email per minggu dan Anda dapat unsubscribe kapan saja. Dengan berlangganan, Anda diberikan 1 ide yang bisa mengubah proses dan produk Anda lebih baik lagi.