Kesuksesan bisnis akan dicapai perusahaan ketika setiap karyawan di perusahaan secara mandiri mempraktekkan tools keunggulan operasi dalam bekerja menuju tujuan bersama.

Untuk itu, perusahaan perlu menciptakan employee engagement sebagai budaya organisasi. Budaya merupakan cerminan dari nilai dan kepercayaan bersama, didukung oleh perilaku dan praktek yang sesuai. Dengan mengkomunikasikan nilai-nilai dan menciptakan standar praktek yang sesuai, sangat mungkin bagi para pemimpin bisnis untuk memiliki budaya situasional di organisasi yang melibatkan orang-orang guna mendukung kesuksesan bisnis.

Kini, hampir semua organisasi telah mengadopsi program perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement, banyak diantaranya menggunakan prinsip lean. Pertanyaan yang ingin kami ajukan disini adalah, bagaimana cara perusahaan mengetahui dimana mereka harus melakukan perbaikan selanjutnya? Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan menyusun daftar masalah ke dalam suatu bagan dan mengurutkannya berdasarkan prioritas sesuai dengan apa yang harus dikerjakan. Alternatif solusi lain diantaranya yaitu dengan melibatkan tim ke tempat dimana masalah terjadi, saling bertukar pikiran, dan memperbaikinya, kemudian mengindentifikasi area lain yang memiliki masalah – membentuk siklus.

Semua pendekatan untuk perbaikan ini bertransformasi menjadi budaya perusahaan (budaya mencari dan menghilangkan pemborosan/ waste secara terus menerus), dan di satu titik organisasi akan mengaku bosan melakukannya. Kabar baiknya, budaya ini bisa diubah. Organisasi bisa mendorong orang-orang untuk bersemangat melakukan perbaikan, namun tidak akan berhasil jika hanya meneriaki mereka tentang manajemen sebagai inisiator lean untuk mencapai operational excellence atau keunggulan operasional, para karyawan mungkin akan mengatakan bahwa mereka juga pernah melakukannya.

Reaksi ini sangat bisa dimengerti, karena perusahaan hanya melihat beberapa kemajuan dari lean untuk sementara waktu, dan belum memahami gambaran besarnya. Misal, pabrikan bisa melihat peningkatan operasional berdasarkan metrik yang ada, seperti lead time, kualitas, dan inventaris, namun semua data ini tidak ada yang berhubungan dengan pertumbuhan bisnis top-line, pangsa pasar, ataupun inovasi pelanggan. Dengan demikian, untuk menjadi katalisator perubahan, manajemen perusahaan harus melakukan beberapa perubahan pola pikir, bahwa :

  • Perbaikan bukan tentang menghilangkan pemborosan/waste; tetapi tentang pertumbuhan bisnis top-line.
  • Perbaikan bukan berarti menjadi lebih baik setiap hari; tetapi bagaimana membawa perusahaan dari titik A ke Titik B (jangkauan yang lebih tinggi).
  • Perbaikan bukan perjalanan tanpa akhir; melainkan perjalanan dengan tujuan yang harus dicapai dalam waktu tertentu
  • Perbaikan bukan tentang kepemimpinan ataupun manajemen yang baik, melainkan tentang roadmap dan tujuan.
        
Baca juga  Budaya Perusahaan dan Keberhasilan Inovasi

Singkatnya, semua yang menjadi agen perubahan harus mengetahui kemana arah perbaikan berkelanjutan yang dijalankan perusahaan dan dapat menjelaskan bagaimana perbaikan-perbaikan tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan bisnis top-line. Karena pada akhirnya, tujuan dari keunggulan operasional adalah dimana setiap karyawan dapat melihat aliran nilai untuk pelanggan, dan memperbaikinya sebelum aliran tersebut rusak. Ketika perusahaan mencapai keunggulan operasional, semua karyawan seharusnya tidak hanya tahu bagaimana melakukan pekerjaan mereka, tetapi juga memikirkan bagaimana produk sampai ke pelanggan secara tepat waktu. Manajer tidak lagi perlu mengawasi operasi dan intervensi proses setiap hari, karena karyawan dapat melihat apakah proses berjalan normal, jika tidak, mereka akan memperbaikinya sebelum terjadi kerusakan.