Tahun 2017 nampaknya menjadi tahun emas bagi raksasa ritel asal Spanyol, Inditex (pemegang merk Zara). Kinerja perusahaan dalam sembilan bulan pertama sangatlah spektakuler. Penjualan meningkat 10%, laba kotor pun meningkat  9 % lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Apa rahasianya ?

Mengutamakan Kepuasan Pelanggan

Model bisnis yang dijalankan perusahaan sangat spesial, setiap divisi awalnya menyediakan produk dalam jumlah sedikit dan kemudian memproduksi ulang untuk menanggapi permintaan dan preferensi pelanggan. Strategi  penjualan seperti ini memungkinkan toko menampilkan produk yang baru dan berbeda dengan sangat cepat. Selain itu mereka juga mampu mengantarkan produk secepatnya 15 hari (contohnya  Zara), mulai dari proses desain hingga sampai ke rak toko di Spanyol dan negara-negara terdekat. Sedangkan untuk pengiriman ke Amerika Serikat, hanya perlu tambahan beberapa hari lagi. Ini tentu menggembirakan pelanggan dan menjadikan mereka  loyal. Sebagai informasi sebagian besar pakaian Zara diproduksi di Eropa sehingga secara cepat akan mampu merespons perubahan tren fesyen.

Merespons Perubahan dengan Cepat  

Saat ekspansi berlanjut, perusahaan pemegang merk tetap menunjukkan kepemimpinan yang berani membuat keputusan sulit mengenai bisnis. Kita bisa melihatnya pada Zara, di tiga kuartal pertama tahun fiskal 2017, divisi ini membuka 60 toko Zara. Namun, manajemen menutup 7 toko Zara Kids, sehingga tinggal 139 unit yang terbuka. Jelas bahwa Zara Kids kurang berhasil jika dibandingkan dengan format lain dan perlahan dihapus. Keputusan ini dibuat dengan cepat dan segera dieksekusi. Mereka merespons permasalahan dengan cepat, bisnis dengan kinerja buruk segera ditinggalkan sembari melakukan ekspansi untuk bisnis yang menjanjikan.

Mempercepat Layanan Online

Peritel ternama asal Swedia,  H&M sedang mengalami masa suramnya. Pendapatan kuartal ketiga mereka menunjukkan penurunan yang tak terduga, turun 2% dari angka tahun lalu. Manajemen kemudian memutuskan untuk mempercepat penjualan online-nya dengan rencana mengintegrasikan toko fisik dan on-line. Manajemen juga mengindikasikan bahwa pihaknya akan menutup lebih banyak toko dan akan membuka lebih sedikit. Mereka akan mengintensifkan kehadirannya di TMall Alibaba dan mengharapkan hasil yang lebih baik dari platform tersebut. Ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Zara dan perusahaan induknya.

Zara dan perusahaan induknya memilih mempercepat layanan online di berbagai divisi. Mereka yakin bahwa perusahaan yang  berhubungan langsung dengan pelanggannya berarti siap untuk sukses. Interaksi ini akan membantu perusahaan mampu membuat produk yang selalu fresh dan menciptakannya bersama pelanggan. Pengalaman ini menjadi value added tersendiri bagi pelanggan, mereka akan membeli langsung saat melihat pakaian yang mereka suka dan Zara berhasil menciptakannya.

Sumber: forbes

Baca juga  Toyota the Disrupter : Berikut adalah Perubahan Besar yang Diciptakan Toyota dalam Industri Otomotif