Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengumpulkan para pengusaha logistik dari pihak swasta dan BUMN pagi ini (6/1) untuk membahas masalah logistik nasional. Pengusaha yang datang merupakan anggota dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Express Indonesia (ASPERINDO), dan Asosisasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo).

Mahendra Rianto, Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) yang ikut dalam pertemuan tersebut mengatakan, ada beberapa hal yang akan dibahas, salah satunya Sistem Logistik Nasional (Sislognas).

“Dari mulai soal Sislognas, sistem logistik nasional, dan rencana rencana aksi yang ada di dalam Sislognas apakah sudah dijalankan apa belum. Kan Siglognas itu membahas mengenai rantai pasokan Indonesia dan logistiknya,” katanya dikutip SHIFT Indonesia dari Detik.com.

Dalam pertemuan yang dilakukan secara tertutup ini para pengusaha logistik juga akan menyampaikan mahalnya tarif tol dan kenaikan tarif kargo pesawat. Mereka mewakili asosiasi juga akan memberikan masukan-masukan terkait masalah di bidang logistik sehingga ditemukan jalan keluar terbaik.

Masalah Logistik dan Jalan Keluarnya

Ya, logistik merupakan masalah krusial yang harus diselesaikan dengan tepat, jika tidak maka biaya yang ditimbulkan akan tinggi (pemborosan, tepatnya). Apapun bisnisnya, logistik akan selalu mengambil peran. Bagi perusahaan yang berusaha untuk mengurangi biaya sementara kinerja logistiknya terus meningkat maka pendekatan Lean Supply Chain adalah cara alami untuk mewujudkannya.

Lean Supply Chain adalah sistem dimana semua pihak yang berhubungan akan beroperasi bersama untuk mencapai target di rantai pasokan. Target-target ini hanya akan tercapai jika menjalankan 8 prinsip utama Lean Supply Chain dengan benar. 8 prinsip tersebut adalah :

  1. Eliminasi semua wastehingga hanya tersisa value saja di seluruh rantai pasokan. Untuk memuluskan perjalanan produk di sepanjang supply chain, seluruh departemen harus terlibat.
  2. Buat konsumsi pelanggan bisa dilihat oleh semua pihak yang terlibat di supply chain. Aliran kerja di supply chainberpangkal kepada konsumsi pelanggan; inilah motivasi yang kuat untuk semua orang.
  3. Kurangi lead time. Mengurangi inbounddan outbound logistik akan mendekatkan kita kepada permintaan pelanggan, ketergantungan forecasting berkurang, dan mampu mengurangi produksi yang berlebihan.
  4. Ciptakan level flow. Dengan meratakan aliran material, kita bisa memiliki supply chain dengan lebih sedikit wastedi semua sendi sistem.
  5. Gunakan pull system. Ini untuk mengurangi kompleksitas dalam perencanaan dan kelebihan produksi. Sistem ini bisa diterapkan dengan softwareberbasis komputer seperti material resource planning (MRP).
  6. Tingkatkan kecepatan dan kurangi variasi. Memenuhi permintaan pelanggan dengan mengirimkan produk sedikit demi sedikit akan meningkatkan kecepatan dan on-time delivery. Kebijakan ini juga dapat mengurangi inventori dan lead time, serta memungkinkan kita untuk menyesuaikan pengiriman untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pelanggan yang aktual.
  7. Kolaborasi dan disiplin dalam proses. Ketika semua orang merasa bekerja sejalan dengan konsumsi pelanggan, kolaborasi untuk mengidentifikasi masalah dan menemukan solusi akan lebih mudah. Selain itu, semua orang juga harus menyadari perannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.
  8. Fokus kepada biaya total fulfillment.Buat keputusan untuk memenuhi ekspektasi pelanggan yang memakan biaya sesedikit mungkin. Hal ini berarti menghindari keputusan yang hanya menguntungkan satu pihak di supply chain dengan mengorbankan pihak lain.
Baca juga  Manufacturing Indonesia 2018 Gagas Teknologi Baru, Mengukuhkan Posisi sebagai Pusat Solusi Industri Terbesar di Asia Tenggara