Meskipun Operational Excellence (OpEx) sudah menjadi filosofi populer di kalangan perusahaan, nyatanya banyak perusahaan yang gagal saat mengimplementasikannya. Apa penyebabnya? Simak beberapa alasan kegagalan implementasi OpEx agar Anda dapat menghindarinya.

Hal mengejutkan pertama adalah kenyataan bahwa banyak orang yang gagal mendefinisikan dengan pasti istilah Operational Excellence. Bagaimana Anda bisa sukses mengimplementasikannya jika mendefinisikannya saja kesulitan?

Sederhananya, Operational Excellence (OpEx) adalah usaha yang dilakukan sebuah perusahaan dengan proses terstandarisasi untuk memberikan produk atau layanan sesuai permintaan pelanggan dengan biaya produksi yang minimal, dan dengan harga yang cocok bagi pembeli.

Fakta mengejutkan selanjutnya adalah mengetahui bahwa banyak organisasi yang mengalami kesulitan saat mengimplementasikan OpEx. Apa penyebabnya?

5 Alasan OpEx Gagal

1. Pemimpin tidak begitu paham akan OpEx dan mengimplementasikannya karena alasan yang salah.

Terkadang perusahaan melakukan OpEx dengan alasan “karena perusahaan lain melakukannya.” Sering juga ditemukan perusahaan cabang yang memulai OpEx karena perintah perusahaan pusat.

Pelajaran 1: Implementasikan OpEx saat Anda telah memiliki pengetahuan tentangnya dan yakin bahwa OpEx akan bermanfaat bagi perusahaan Anda. Anda merasa belum yakin? Carilah rekan yang dapat diandalkan dalam hal ini untuk memberikan pemahaman pada Anda atau hubungi konsultan Operational Excellence SSCX International.

2. OpEx hanya dianggap sebagai sebuah tool, bukan sebuah budaya.

Jika Anda berpikir bahwa mengimplementasikan Lean atau Six Sigma akan menghasilkan sebuah Operational Excellence, Anda salah. OpEx adalah sebuah filosofi, sebuah budaya perusahaan.

Pelajaran 2: OpEx itu lebih dari sekedar tool atau metodologi. Seluruh bagian organisasi Anda harus terlibat untuk kesuksesan implementasinya.

3. OpEx diimplementasikan secara top-down tanpa memperhatikan umpan balik bottom-up.

Kebanyakan perusahaan mengimplementasikan OpEx secara top-down. Padahal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seluruh bagian organisasi Anda harus terlibat, Anda harus memperhatikan umpan balik yang datang dari bawah. Jangan tumbuhkan mental “Saya sekadar melakukan yang mereka suruh saja,” pada para pekerja Anda.

Baca juga  Pembeli Adalah Raja, Ukurlah Tingkat Kepuasannya!

Pelajaran 3: Semua harus terlibat. Perhatikan umpan balik dari setiap bagian organisasi. Meskipun Anda tak harus menindaklanjuti semua umpan balik, tetapi Anda harus memastikan para karyawan merasa didengarkan dan dimengerti.

4. Terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat.

Perusahaan yang berinvestasi untuk OpEx biasanya ingin mendapatkan hasil instan, sehingga mereka membuat banyak perubahan dalam waktu singkat. Hasilnya, para karyawan kesulitan dalam mencerna, memahami, dan menerima perubahan-perubahan tersebut. Hal ini justru menimbulkan kesalahan dan resiko buruk bagi perusahaan.

Pelajaran 4: Ambil waktu Anda untuk mengimplementasikan OpEx tanpa tergesa-gesa. Pastikan sebuah perubahan dipahami, diterima, dan dipraktikkan dengan baik oleh anggota perusahaan sebelum memulai perubahan selanjutnya.

5. Menganggap Operational Excellence Sebagai “Benda Sekali Pakai”

Perusahaan seringkali hanya menggunakan beberapa alat dan metodologi OpEx dan menganggap durasi implementasi berakhir di akhir program. Di dunia yang cepat berubah ini, Operational Excellence bukanlah hal yang mudah dan instan, tetapi penting untuk dilakukan.

Pelajaran 5: Satu yang perlu Anda ketahui, Operational Excellence never ends. Untuk benar-benar sukses, semua orang dalam perusahaan harus terus mempertanyakan semua hal yang telah dilakukan, dan bagaimana mereka bisa melakukannya dengan cara yang lebih baik lagi.