Kemajuan teknologi telah membawa banyak perubahan, tidak terkecuali perilaku dan gaya hidup generasi milenial. Milenial adalah anak muda yang lahir di tahun 1980-an hingga awal 2000-an. Generasi yang tumbuh di lingkungan serba digital ini memiliki cara tersendiri untuk terkoneksi satu sama lain dengan memanfaatkan berbagai platform sosial media. Berkat perkembangan internet, mereka mampu mengubah tatanan nilai dan gaya hidup menjadi serba digital.

Generasi yang juga dikenal sebagai generasi digital native ini tumbuh di era informasi tersedia secara instan. Melalui mesin pencarian Google atau Wikipedia, mereka bisa mendapatkan jawaban untuk pertanyaan yang cukup rumit sekalipun. Dengan demikian mereka berkembang menjadi kelompok yang ingin mengerjakan masalah baru dan sulit, dan yang membutuhkan solusi kreatif. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Tamara Erickson, milenial berpikiran, “Saya kira saya hanya berharap bisa melakukan lebih banyak hal dari ide saya, dan para petinggi disini sudah memahami bahwa sekarang modelnya telah berubah.” (Gen Y in the Workforce, Tamara Erickson, Harvard Business Review)

Memiliki Pandangan Berbeda

Generasi millenial memiliki pandangan dan ekspektasi tersendiri terhadap pengalaman kerja mereka. Milenial berpendidikan tinggi, cakap dalam teknologi akan sangat percaya bahwa dirinya mampu melakukan banyak tugas dan memiliki banyak energi. Mereka memiliki harapan tinggi terhadap diri mereka sendiri dan lebih suka bekerja dalam tim daripada individu. Generasi ini dikenal sangat menyukai tantangan, namun mereka juga menilai keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sebagai hal yang sangat penting. Namun, di sisi lain mereka juga menyadari bahwa keinginan mereka untuk berinteraksi sosial, mendapatkan umpan balik langsung, dan keinginan bergerak lebih cepat tidak selaras dengan budaya perusahaan dan juga rekan kerja senior (yang notabene berumur lebih tua).

Millenial adalah generasi yang akan mendominasi dunia kerja dalam 2 dekade ke depan. Para pengusaha perlu membuat penyesuaian model yang tepat untuk perusahaan termasuk perihal engagement karyawan. Misalnya, tentang evaluasi kinerja, apakah sistem evaluasi tahunan atau kuartal masih sesuai jika diaplikasikan untuk kelompok millenial? Sementara, kondisi di lapangan menemukan bahwa millenial selalu tertarik untuk mendapatkan umpan balik kinerja dengan cepat, bahkan kalau bisa tepat setelah mereka menyelesaikan pekerjaan. Dan satu hal lagi yang harus diperhatikan dalam memberikan umpan balik adalah selain kecepatan waktu, millenial juga berharap adanya masukan (yang berharga) untuk pekerjaan mereka secara jelas dan spesifik sehingga tidak ada kesalahpahaman.  

Lalu seperti apa sistem evaluasi yang tepat untuk milenial? Ada begitu banyak metode yang bisa gunakan untuk membangun sistem evaluasi karyawan, khususnya untuk para millenial. Salah satunya yaitu dengan menggunakan “Reward Management System”, yaitu sebuah sistem yang sudah terintegrasi dengan Key Performance Indicator (KPI) dan mengacu pada reward base yang sudah ditentukan pada saat awal mereka bergabung dengan perusahaan.

Baca juga  Kemenperin Susun Kurikulum dan Usulkan Insentif untuk Membuat SDM Industri Kompetitif

Lebih Fleksibel

Mengapa generasi millenial menginginkan fleksibilitas? Millenial adalah generasi yang akan mendominasi dunia kerja hari ini dan di masa depan. Praktis, para pemimpin bisnis terus mencari cara untuk mempertahankan para profesional yang dimilikinya. Dan fleksibilitas menjadi salah satu faktor yang harus dipertimbangkan.

Studi menunjukkan bahwa fleksibilitas menjadi salah satu faktor terpenting bagi kaum millenial ketika mengevaluasi peluang kerja. Sementara fleksibilitas bagi perusahaan (baik itu ruang kerja yang fleksible, kerja jarak jauh, atau jam kerja yang fleksibel) tampak seperti ancaman bagi produktivitas. Padahal dari beberapa kasus menunjukkan bahwa fleksibilitas mampu memberikan manfaat besar bagi perusahaan. Persentasenya adalah sebagai berikut:  22 persen kaum millenial mengatakan akan bersedia bekerja lebih lama, dan 82 persen akan lebih loyal jika mereka memiliki pilihan kerja yang fleksibel. Jelasnya, fleksibilitas di tempat kerja sangat penting bagi cara hidup millenial. Apa alasannya?

Pertama, keinginan untuk hidup seimbang. Survei Deloitte pada tahun 2016 menemukan bahwa 88 persen milenial di AS berharap memiliki kemampuan untuk memilih kapan mereka memulai dan menyelesaikan pekerjaan. Fleksibilitas diperlukan untuk keseimbangan kehidupan yang lebih baik sehingga dapat membuat jadwal yang sesuai dengan kehidupan mereka. Kedua, teknologi. Millenial tidak tertarik dengan pola kerja 9 to 5, mereka lebih suka mengatur jam kerja sendiri dan menyelesaikan pekerjaan dengan cara terbaik mereka. Ini berarti perusahaan perlu menawarkan fleksibilitas dengan memberi mereka pilihan untuk bekerja dari jarak jauh, melakukan rapat secara virtual, dan berkolaborasi secara daring alih-alih melakukan pertemuan tatap muka. Ketiga, bekerja berdasar permintaan. Ini menarik bagi kaum millenial karena mereka dapat menawarkan fleksibilitas yang mereka inginkan, teknologi tanpa batas untuk menemukan dan menyelesaikan pekerjaan, dan kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan.

Tetapi, perlukah perusahaan bertransisi dan memenuhi fleksibilitas seperti yang diharapkan karyawan?

Sebagai pemimpin bisnis, Anda dapat menggunakan tiga alasan di atas untuk membangun fleksibilitas ke dalam budaya perusahaan Anda. Bagaimanapun, perusahaan perlu menemukan cara terbaik untuk mendapatkan solusi terbaik atas pergeseran ini. Sebuah studi dari Bentley University, 77% dari Millennial mengatakan bahwa jam kerja yang fleksibel akan membuat tempat kerja lebih produktif bagi orang seusia mereka. Mengingat kenyamanan mereka dengan teknologi digital yang memungkinkan mereka bekerja kapan saja dan di mana saja.  

Penelitian serupa juga dilakukan oleh profesor Stanford Nicholas Bloom. Ia menemukan bahwa bekerja dari jarak jauh mampu meningkatkan produktivitas dan kepuasan karyawan. Selama sembilan bulan, Bloom mengamati kinerja 250 karyawan di Ctrip, situs web perjalanan Cina. Setengah dari karyawan bekerja dari rumah, dan setengah lagi bekerja di kantor. Ternyata, waktu yang diperlukan untuk perjalanan fisik menuju tempat kerja dan gangguan lingkungan di kantor mendorong perbedaan besar. Karyawan yang bekerja di rumah menyelesaikan panggilan 13,5 persen lebih banyak dan melakukan pekerjaan secara keseluruhan 10 persen lebih banyak dibanding karyawan yang bekerja di kantor.

Baca juga  Operational Excellence, Aktualisasi Ide Para Karyawan

Tentu tidak mudah membawa perubahan besar (termasuk fleksibilitas) ke dalam perusahaan. Kabar baiknya adalah Anda bisa memulainya secara perlahan, pertama dengan menyediakan tempat kerja yang fleksibel. Pengaturan pekerjaan yang lebih fleksibel akan selalu lebih mudah diimplementasi. Sebagian besar perusahaan Fortune 500 saat ini pun tengah berjuang memfasilitasi karyawannya, diantaranya yaitu dengan memungkinkan para karyawan melakukan pekerjaan dari rumah satu hari (dalam) seminggu. Ini adalah langkah yang fundamental untuk bertransisi ke lingkungan kerja global yang lebih fleksibel. Tetapi, upaya ini juga tidak akan menjawab tuntutan fleksibilitas secara tuntas, perusahaan berisiko kehilangan bakat terbaik jika perusahaan tidak mampu mengubah kebijakan dan mengakomodir kebutuhan karyawan terbaiknya(termasuk fleksibilitas). Survei yang dilakukan Gallup secara konsisten menemukan bahwa jadwal yang fleksibel dan peluang ‘kerja-dari-rumah’ menjadi pertimbangan utama karyawan untuk memutuskan menerima atau meninggalkan suatu pekerjaan.

Loyalitas Rendah  

Survei Deloitte pada tahun 2018 menemukan bahwa millenial dan Gen Z memiliki loyalitas yang rendah dan juga kepercayaan diri yang rendah di dalam bisnis. Mereka tidak percaya pada motivasi atau etika yang dimiliki perusahaan dan lebih tertarik dengan dampak positif yang mampu diberikan para pemimpin bisnis kepada dunia yang lebih luas. Millennial dan Gen Z juga merasa tidak siap menghadapi perubahan Industri 4.0, mereka berharap perusahaan akan membantu mereka mengembangkan keterampilan untuk berhasil.

Dalam survei ini, 43 persen millennium berencana meninggalkan pekerjaan mereka dalam waktu dua tahun ke depan, hanya 28 persen yang ingin bertahan lebih dari lima tahun. Terjadi penurunan hingga 15 angka dari survei tahun sebelumnya. Sementara responden yang mewakili Gen Z menyatakan loyalitas yang lebih rendah, 61 persen dari mereka mengatakan akan meninggalkan perusahaan dalam dua tahun jika memiliki pilihan. Jadi, bagaimana perusahaan bisa mempertahankan mereka? Millenial dan Gen Z merupakan generasi yang menjunjung tinggi nilai inklusivitas dan toleransi, mereka juga memiliki cara berpikir yang berbeda. Masalah gaji dan budaya perusahaan juga menjadi pertimbangan penting bagi generasi ini. Sementara, keragaman dan fleksibilitas menjadi kunci mereka untuk tetap bahagia. Generasi ini telah meninggalkan slogan lama yang mengatakan bahwa hidup untuk bekerja “live to work” dan berhasil menciptakan slogan baru “work to live”. Mereka lebih suka berbicara tentang integrasi kehidupan dibanding keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan personal.

Baca juga  Indonesia Bakal Jadi Hub Manufaktur di Tingkat Asean

Meningkatnya “gig” atau pertunjukan ekonomi baru-baru ini juga mendorong banyak orang meninggalkan pekerjaan penuh waktu atau mencari penghasilan tambahan dengan mengambil kontrak jangka pendek atau menjadi freelance. Kenapa pilihan ini terlihat begitu menarik? Jawaban singkatnya adalah penghasilan yang lebih menjanjikan, Oleh karena itu perusahaan perlu secara aktif merespons pergeseran ini, yaitu dengan lebih fokus dalam pengembangan karyawan, berinovasi, menjadi lebih inklusif, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sebagaimana telah menjadi sorotan dalam enam tahun terakhir, millenial dan Gen Z kompak dalam menilai peran bisnis secara lebih luas. Menurut keduanya, bisnis harus memberikan dampak kepada masyarakat luas. Kedua generasi ini juga sangat tegas mengatakan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur berdasarkan kinerja keuangan, ada banyak aspek lain yang juga harus diukur.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa perubahan sosial dan teknologi terjadi dengan sangat cepat dalam satu tahun terakhir dan telah berhasil mempengaruhi cara pandang millenial dan Gen Z terhadap bisnis. Jika perusahaan ingin mendapatkan kepercayaan dan loyalitas dari millenial dan Gen Z, selain fokus pada agenda perusahaan mereka juga harus mengidentifikasi cara untuk memberikan dampak positif bagi komunitas mereka bekerja dan juga fokus pada isu-isu keragaman, inklusi, dan fleksibilitas.

Saat ini banyak perusahaan baik itu perusahaan swasta ataupun BUMN berupaya melakukan perubahan environment tempat mereka bekerja, termasuk pengaturan jam kerja (menggunakan SMART Time). Semua metode dibuat dan dijajal untuk mendukung kinerja seluruh karyawan (millenial yang mendominasi). Namun, untuk lebih optimal, perusahaan juga harus melakukan pengukuran produktivitas dalam waktu bersamaan. Sehingga, perusahaan bisa sukses mentransformasikan Human Resources menjadi Human Capital.

Banyak perusahaan yang menilai karyawan sebagai FIXED COST atau dengan kata lain menjadi beban pengeluaran. Sehingga tidak jarang ketika perusahaan akan menjalankan efisiensi maka aspek pertama yang akan dikurangi adalah karyawan. Karena opini yang ada saat ini menyatakan bahwa banyak karyawan sama dengan tidak efisien. Opini ini sah-sah saja, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa bisnis hari ini tidak lagi melihat sesuatu yang mudah dilakukan tetapi juga harus dilakukan secara kreatif dan menghasilkan nilai bagi perusahaan.

Era millenial sudah berlangsung, zaman sudah berubah, kita harus mengetahui dan segera menentukan mau menjadi perusahaan seperti apa. Apakah survivals – berusaha untuk terus bertahan tanpa melakukan perubahan proses (ini masih mendominasi)?  Functionals? atau team building?  Kalau kami bisa menyarankan, maka Anda harus menjadi tipe team building, menjadi perusahaan yang membangun value menggunakan resources yang ada untuk membangun bisnis, memiliki visi dan misi jangka panjang sehingga tahu pasti arah perusahaan.