Seorang anak meronta saat dipakaikan baju baru oleh ibunya. Segala macam bujuk rayu telah dilakukan agar sang anak mau menuruti ibunya untuk memakai baju tersebut. Hingga akhirnya ibu pun mengancam, “pakai bajunya atau ibu tinggal pergi!” Si anak semakin keras menangis, meski akhirnya ia mengalah dan memakai baju tersebut dengan terpaksa, sambil tetap terisak-isak.

Sepasang suami istri berjanji untuk bertemu di sebuah restoran kesukaan mereka untuk makan malam sepulang kerja. Namun sepanjang makan malam berlangsung, wajah si istri tak senang, seperti ada masalah. Saat suami bertanya, istri menggeleng, “tidak apa-apa,” jawabnya. Suami pun menjadi kesal, karena ia merasa telah rela meninggalkan pekerjaan lebih awal dan mengeluarkan uang untuk makan malam yang agak mewah tersebut namun si istri malah cemberut.

Konflik seperti ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu dengan anak, pasangan, keluarga, tim kerja di kantor, hingga orang lain yang tidak dekat. Salah satu penyebabnya karena ekspektasi. Anda berharap anak buah Anda melakukan sebuah hal dan mencapai satu titik tertentu, namun mereka tidak benar-benar melakukannya dan tak mencapai titik tersebut. Anda kecewa. Konflik terjadi.

Pada kasus pertama di atas, sang anak tak mau dipakaikan baju baru oleh ibunya karena baju tersebut membuat kulitnya gatal. Namun sang anak tidak mengkomunikasikan hal tersebut kepada ibunya dengan baik, yang dilakukannya hanyalah menolak, menangis, dan meronta. Sementara si ibu tidak berusaha lebih keras untuk mencari tahu mengapa anaknya menolak memakai baju tersebut, yang dilakukannya hanyalah membujuk, memaksa, hingga mengancam.

Pada kasus kedua, si istri baru saja mengalami hal yang berat di kantor, membuatnya sangat lelah sehingga ia berharap bisa dijemput oleh sang suami untuk menuju ke restoran bersama-sama. Karena baginya sepele, sang istri memilih untuk tidak mengungkapkan hal ini. Bukannya berusaha untuk mencoba membuat sang istri nyaman untuk berkomunikasi dan menceritakan perasaannya, sang suami sudah terlanjur kesal.

Baca juga  Lima Tips Ini Terbukti Sukses Tingkatkan Retensi Karyawan

“Bilang, dong!” mungkin itulah yang kita katakan jika kita menemui kasus serupa. Memang terdengar mudah, namun nyatanya upaya komunikasi dalam menyampaikan apa yang sebenarnya mengganjal atau dirasakan oleh salah satu pihak terkadang sulit. Sebagai pemimpin kita harus mendengarkan lebih baik. Karena dalam bisnis, baik konflik di dalam perusahaan, maupun antar perusahaan jika sifatnya sehat, akan menemukan sebuah solusi atau potensi yang baik bagi kedua belah pihak. Semakin baik komunikasi yang terjalin dalam perusahaan, semakin tinggi kepuasan pemimpin dan anggota tim.