Strategi adalah sebuah power untuk menjaga keberlangsungan masa depan bisnis. Strategi yang dirumuskan dengan baik memungkinkan perusahaan mendapatkan peluang bisnis baru, untuk merampingkan operasional dan meningkatkan keterlibatan seluruh anggotanya. Sehingga, bisnis berjalan secara efektif, efisien serta profitable.

Tidak ada ramalan yang pasti untuk mengetahui nasib dan peruntungan bisnis di masa depan. CEO Nokia pernah mengatakan,“we didn’t do anything wrong, but somehow, we lost.” Sebelumnya tidak ada yang memprediksikan raksasa ponsel dunia ini akan tersingkir. Munculnya kompetitor dan perubahan tren yang tidak ditanggapi bisa menjadi ancaman serius.

Pada tahun 2017 lalu 7-eleven tidak mampu menyelamatkan bisnisnya. Gurita bisnis ini juga gagal mendapatkan akuisisi dari PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk (CPIN) sehingga mereka secara efektif menutup gerainya pada 30 Juni 2017. Dari bisnis 7-eleven, kita dapat mempelajari betapa pentingnya merespons dengan cepat atas suatu perubahan, menggunakan strategi yang adaptable. Sebuah ide bagus (strategy-red) inilah yang bisa menempatkan perusahaan kita di atas pesaing. Kita bisa melihat bagaimana iPhone di Apple, bagaimana mereka bisa memiliki sejumlah ide bagus yang membuat mereka tetap di depan para pesaingnya selama bertahun-tahun.

Strategi tentu tidak lepas dari upaya melakukan perbaikan. Hal utama yang harus dilakukan adalah memetakan proses bisnis, karena merupakan faktor utama penentu profitabilitas baik itu aspek revenue maupun aspek cost perusahaan. Setelah mampu memahami proses bisnis Anda dapat menentukan apa pendekatan yang tepat bagi bisnis Anda.

Pendekatan yang banyak diadopsi oleh perusahaan adalah continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan, perusahaan dapat mengetahui bagaimana melanjutkan bisnis mereka dengan menganalisa peluang perbaikan di setiap proses. Dalam praktiknya ada berbagai metode yang digunakan untuk menjalankan continuous improvement , mulai dari Lean, Kaizen, Agile atau bisa juga mengkombinasikan beberapa metode sekaligus untuk memfasilitasi program perbaikan tersebut.

Di beberapa perusahaan, mereka tidak mempunyai tim yang mampu melakukan program continuous improvement di sepanjang pekerjaan mereka (part time- red), cara terbaik untuk tetap bisa menjalankan pendekatan ini adalah dengan menggunakan Value Stream Mapping (VSM), perbaikan dapat berjalan selama satu sampai lima hari tergantung cakupan masalah yang akan diperbaiki. Anggota tim siap dengan “to-do-list” masing-masing untuk mendukung proses perbaikan di dalam organisasi dan waktu untuk mengeksekusinya kemungkinan hanya memerlukan sedikit waktu sehingga tidak mengganggu pekerjaan mereka.

Dari sekian banyak perusahaan yang berhasil menerapkan perbaikan dan berhasil mengidentifikasi in-efisiensi dalam proses bisnis mereka sehingga mampu menaikkan profit perusahaan, masih ada beberapa perusahaan yang menyatakan bahwa filosofi perbaikan berkelanjutan ini masih menjadi hambatan untuk dilakukan. Inovasi dan kreativitas masih menjadi harga yang tak terduga. Nah, untuk menjadikan perbaikan berkelanjutan sebagai budaya perusahaan yang perlu Anda lalukan adalah fokus melihat kebutuhan perusahaan dan potensi penghematan biaya yang mungkin didapat.