Lean adalah pendekatan manajemen berbasis kepuasan pelanggan, yaitu dengan memaksimalkan nilai dan sumber daya di organisasi untuk menghasilkan proyek-proyek inovatif. Perusahaan yang menjalankan lean bisa dikatakan memiliki dasar yang kuat untuk berinovasi berkat kemampuannya dalam menggunakan ide kreatif dari karyawan untuk meningkatkan kinerja. Banyak organisasi yang telah menggunakan ide lean sebagai bagian dari strategi inovasi, misalnya Pixar. Dengan meningkatkan kolaborasi berbasis tim dan menerapkan continuous feedback loops, mereka berhasil membangun in-house innovation.

Dan bukan hanya bisnis yang mendapat manfaat dari inovasi; masalah lingkungan, sosial, dan ekonomi kini menjadi kekuatan pendorong di belakangnya. Hari ini, inovasi harus berkontribusi untuk memecahkan tantangan jaman. Seperti yang dikatakan Marc Giget, seorang pakar inovasi dari Perancis, yang kami butuhkan adalah inovasi dalam bentuk perubahan yang “humanis”, yang dirancang bersama oleh semua pemangku kepentingan dan ditujukan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat secara luas. Berangkat dari pendapat ini, kita perlu kembali melihat fokus lean yang kuat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang lebih lanjut membuktikan bahwa inovasi dan lean thinking adalah pasangan yang sempurna. Tetapi membangun organisasi yang inovatif tidak semudah mengucapkannya. Diperlukan sejumlah persiapan untuk berhasil, terutama struktur organisasinya.

Struktur Organisasi untuk Inovasi Lean

Inovasi membutuhkan struktur organisasi yang tepat. Pertama, perusahaan harus menjadi inklusif, karena organisasi membutuhkan partisipasi dari semua pemangku kepentingan yang terlibat, mulai dari karyawan, pemasok, hingga pelanggan. Dalam bisnis, semua fungsi – dari R&D hingga tim produksi dan penjualan- harus dimasukkan dalam proses inovasi. Kedua, perusahaan yang ingin berinovasi membutuhkan struktur organisasi yang horizontal. Artinya, perusahaan harus menghilangkan selusin lapisan antara atasan dengan bawahan, karena hal ini hanya akan menambah biaya dan kompleksitas.

Meningkatnya persaingan global, membuat kemampuan berinovasi menjadi masalah hidup dan mati, mendorong semakin banyak perusahaan menuju prinsip dan praktik yang ramping. Argumen lean sebagai pendorong inovasi terbesar pun tidak dapat disangkal, dan organisasi harus belajar menggunakannya dalam pengembangan produk , inilah inovasi yang sebenarnya.

Dari perspektif lean, inovasi demi inovasi tidak diterima begitu saja. Inovasi lean selalu mengharuskan adanya tujuan pasar yang spesifik, yaitu mengacu pada masalah yang sedang dialami pelanggan saat ini yang dapat diselesaikan dengan teknologi baru, dan dapat diandalkan yaitu bagaimana kita menjamin keandalan produk. Kedua kriteria ini, praktiknya sangat sulit , terutama ketika Anda memiliki sumber daya yang terbatas. Dalam kondisi ini, obsesi terhadap kaizen jelas menghambat inovasi. Para pemimpin yang kurang bersemangat juga bisa bersembunyi di balik kaizen untuk melawan setiap inovasi. Tetapi dengan menggunakan Toyota Way, kita bisa terhindar dari krisis ini. Karena Toyota Way mendorong kita untuk semangat, berani, dan kreatif menjawab setiap tantangan.

Jika pemimpin memahami pelanggannya dengan baik dan bertekad meningkatkan produk, maka kaizen dapat menjadi inovasi terobosan. Kuncinya ada pada tujuan, kaizen selalu membutuhkan tujuan yang kuat, diperlukan dimensi peningkatan yang jelas dan tantangan yang konstan untuk menjaga laju peningkatan. Dan kemudian, dari seribu ide kaizen, beberapa akan membawa kita ke inovasi yang sesungguhnya.

Sumber : planet-lean, lean.org.

Baca juga  Tahapan-tahapan dalam Pembuatan VSM (1)