Pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengajak para pemangku kepentingan global yang hadir dalam World Economic Forum (WEF) 2020 di Davos, Swiss berkolaborasi membangun daya saing sektor industri manufaktur yang berkelanjutan. Langkah strategis yang perlu dijalankan, antara lain adalah pengembangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan penerapan teknologi industri 4.0.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan pers nya mengatakan, “Implementasi industri 4.0 hanya dapat direalisasikan dan diperoleh manfaatnya apabila tenaga kerja diberikan kesempatan yang memadai untuk mendapat pelatihan berkelanjutan dan sepenuhnya terlibat dalam proses merancang dan menerapkan teknologi manufaktur yang maju saat ini“.

Pada rangkaian kegiatan WEF 2020, salah satu sesi yang dibahas adalah tentang kapabilitas teknologi industri saat ini yang diharapkan bisa mentransformasi world of production, dengan melihat pentingnya keberlanjutan lingkungan dan mendorong munculnya bentuk baru globalisasi.

Selain itu juga dibahas mengenai berbagai tantangan yang dihadapi industri dan pemerintah untuk mempertahankan daya saing sembari membuka peluang penciptaan nilai-nilai baru yang berkelanjutan secara ekonomis. Oleh karena itu, di forum tersebut, mengidentifikasi terkait peluang-peluang baru untuk menjalin kemitraan,” paparnya.

Menperin pun menyampaikan, dengan melakukan perubahan kebijakan serta mengedukasi konsumen dan perusahaan, penggunaan teknologi industri 4.0 diyakini dapat memperbaiki keadaan dunia sekaligus meningkatkan produktivitas industri. “Sebab, teknologi manufaktur yang canggih harus dirancang untuk dapat mendukung proses produksi berkelanjutan atau circular economy,” jelasnya.

Agus optimistis, kolaborasi di sektor industri bisa mungkin terjadi, misalnya untuk di kawasan ASEAN. “Contohnya, di ASEAN, kontribusi ekonomi dan distribusi yang merata akan membuat beberapa sektor potensial untuk bisa kolaborasi, seperti industri pengemasan makanan, kemudian untuk komponen dan aksesoris kendaraan, farmasi dan obat-obatan, serta sektor elektronik,” sebutnya.

Lebih lanjut, kolaborasi antar industri itu dapat didorong melalui aktivitas rantai nilai produksi. Selain itu, beberapa ide kolaborasi regional yang dapat dimafaatkan oleh pelaku industri untuk mencapai ekonomi berkelanjutan melalui penerapan industri 4.0, seperti mendirikan pusat percetakan 3D & prototyping hingga mendukung pengembangan penyedia dan solusi logistik digital.

Baca juga  Tarif Listrik 900 VA Tidak Jadi Naik

“Bahkan bisa diwujudkan dengan membangun akademi pembelajaran dan kompetensi untuk pelaku industri kecil dan menengah (IKM), meluncurkan platform pendidikan dan adopsi untuk manufaktur berkelanjutan, serta pertukaran data tanpa batas untuk arus barang yang lebih cepat,” imbuhnya.

Di samping itu, Menteri AGK menambahkan, strategi manufaktur untuk menghadapi globalisasi 4.0, harus mempertimbangkan dua komponen utama dari kemampuan future of production, yaitu struktur produksi dan pendorong produksi.

“Produksi adalah salah satu katalis pertumbuhan negara yang dapat meningkatkan kemakmuran serta mencapai tujuan lainnya. Sementara itu, struktur produksi sebuah negara tergantung pada variabel seperti keputusan strategis untuk memprioritaskan pembangunan sektor agrikultur, pertambangan, industri, dan jasa,” terangnya.

Sedangkan, pendorong produksi terkait penerapan teknologi dan peluang yang ada dalam future of production, faktor-faktor pendukungnya itu antara lain adalah teknologi dan inovasi, sumber daya manusia, investasi dan perdagangan global, kerja sama antar pihak, sumber daya berkelanjutan, serta kepedulian terhadap lingkungan.