“A new management may be needed…..”

Pernyataan ini dilontarkan oleh Henrik Didner, salah satu pemegang saham terbesar H&M kepada Dagens Industri pada pertengahan Desember lalu. H&M merupakan produsen pakaian trendi asal Swedia yang  mulai meledak ke kancah global pada era 90-an. Sebelumnya, H&M bisa dikatakan sebagai peritel mode nomor satu di dunia. Bekerjasama dengan perancang selebriti, menggaet model papan atas serta membawa produknya ke kota-kota besar di seluruh dunia dan mengisi papan iklan dengan produknya yang berwarna-warni, bisnis H&M berkembang secara eksponensial. Tapi sejak tahun 2012, mereka mulai dilampaui oleh Inditex SA, pemegang merk Zara dan tahun 2017 lalu menjadi tahun tersuram yang dihadapi H&M.

Pertengahan Desember lalu, manajemen H&M mengumumkan penurunan penjualan kuartalan terbesar dalam satu dekade. Penjualan sebelum pajak merosot 4 persen menjadi 50,4 miliar kronor Swedia (sekitar 6 miliar dollar AS). Saham H&M juga anjlok hingga 16 persen, penurunan paling tajam sejak Maret 2001. Ini tentu mengejutkan dunia industri. Dikutip dari Bloomberg, Karl Johan Persson, CEO H&M yang juga cucu dari pendiri H&M mengakui bahwa mereka telah membuat kesalahan dan akan bekerja ekstra keras untuk mengatasi situasi kelam tersebut. Apa kesalahan yang telah  dilakukan oleh perusahaan terbesar ketiga di Swedia berdasarkan pendapatan ini? Apa yang dilakukan H&M untuk memperbaiki bisnisnya? Simak ulasan dari SHIFT Indonesia berikut ini:

1. Lead Time yang Masih Tinggi

H&M memilih negara berkembang di Asia seperti Bangladesh dan Kamboja sebagai basis produksi mereka. Ini tentu menjadi penghambat karena pasar utama mereka adalah Eropa dan Amerika. Rantai pasokan H&M tidak memiliki reaksi cepat, sesuatu masalah krusial pada era perubahan bisnis fesyen yang dinamis,” ungkap Cedric Rossi, seorang analis di Bryan Garnier.

Chief Executive H&M Karl Johan-Persson juga mengakui bahwa perusahaannya mengalami masalah dalam hal distribusi barang sehingga penjualan terus menurun. Arus distribusi barang yang terhambat, menyulitkan perputaran display fesyen yang dinamis. Menurutnya, memindahkan produksi ke Turki dan negara Eropa lainnya menjadi opsi kuat untuk menggairahkan kembali bisnis H&M.

2. Nuansa Toko Usang

Salah satu penyebab turunnya pengunjung gerai H&M adalah desain gerai mereka yang kurang kekinian. Untuk mendorong para pembeli datang dan berlama-lama di tokonya, H&M akan menambahkan fitur seperti kafe dan mempercepat perputaran display gerai dengan mode terbaru mereka.

3. Lemahnya Penetrasi Digital

Era digital menyumbang perubahan pola belanja konsumen di seluruh dunia. Meningkatnya tren pembelian secara online seakan meng-kanibalisasi penjualan toko tradisional. H&M terkesan lambat dalam merespons perubahan ini. Analis Magnus Raman dari Handelsbanken Capital Markets mengatakan H&M telah tertinggal dari saingannya dalam investasi e-commerce. Situs web H&M pun dinilai buruk, pengunjung web merasa kesulitan dalam melakukan pencarian barang. “Situs web H&M sangat buruk,” kata Lenette Larsen, seorang mahasiswa Norwegia berusia 21 tahun. “Anda tidak bisa mempersempit pencarian Anda dengan cara yang cepat, jadi Anda harus melihat banyak hal untuk menemukan yang Anda inginkan.”

Menanggapi hal tersebut, H&M akan mempercepat ekspansi bisnis mereka ke ranah digital dan memperluas kesepakatan kerja sama dengan beberapa raja e-commerce dunia salah satunya Alibaba. Selain itu, mereka akan memanfaatkan data yang terkumpul dari situs mereka untuk menyesuaikan penawaran toko dengan selera lokal.

 

Baca juga  Recalling: Lean Manufacturing

Sumber: Bloomberg, Forbes, Kompas.com