Dunia sangat mengagumi sistem Jepang yang dikenal sebagai manufaktur “just in time”, atau JIT, yaitu sebuah sistem yang dikembangkan oleh bos produksi Toyota Taiichi Ohno untuk merevolusi proses manufaktur. Sistem ini diakui secara internasional dan telah diadopsi oleh hampir semua industri di seluruh dunia karena sistem tersebut efisien, efektif, dan tentu saja ekonomis.

JIT memiliki proses yang sederhana, Anda tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk persediaan barang untuk kemudian sekedar menumpuknya selama berminggu-minggu di pabrik. JIT berprinsipkan motonya “buatlah hanya produk yang diminta, ketika diminta, dan dalam jumlah yang diminta”. Berikut adalah alur kerja utama prosesnya:

  1. Ketika pesanan diterima, instruksi untuk memulai produksi harus segera diberikan kepada lini produksi untuk barang yang diminta.
  2. Lini produksi harus disuplai dengan suku cadang yang dibutuhkan dalam jumlah yang dibutuhkan.
  3. Lini produksi harus menggantikan suku cadang yang digunakan dengan suku cadang (dalam jumlah yang sama) dari proses sebelumnya (proses produksi part).

Proses sebelumnya harus disuplai dengan beberapa part dari semua tipe dan hanya memproduksi part dalam jumlah yang sama dengan yang diambil oleh operator yang menangani proses selanjutnya (produksi).

Sebelum menerapkan JIT, susunlah rencana detail mengenai rencana produksi dengan divisi procurement untuk mengetahui berapa banyak part yang akan dibutuhkan. Jika Anda sudah berhasil menyediakan berbagai macam part “yang dibutuhkan, ketika dibutuhkan, dan dalam jumlah yang dibutuhkan”, hal tersebut akan membantu menghilangkan waste, inkonsistensi, dan permintaan lain yang tidak beralasan dalam proses produksi. Hasilnya adalah peningkatan produktivitas.

JIT akan bekerja secara maksimal ketika Anda memiliki permintaan produksi yang stabil dengan jarak antara pabrik dan supplier yang pendek, ini akan menjadi solusi satu ukuran tetapi cocok untuk semua, bahkan untuk Toyota. Jika Anda memiliki permintaan variabel dan atau jarak yang jauh dalam supply chain, Anda harus memiliki lebih banyak persediaan pengaman dan daftar supplier lain.

Ingat, jika produsen bergantung pada satu supplier dan terjadi kesalahan, hati-hati, kita akan kehabisan suku cadang bahkan untuk saat ini, akibatnya aktivitas pabrik terhenti, tidak beroperasi. Namun, jika Anda memiliki volume produksi yang cukup besar, Anda mungkin akan memiliki beberapa sumber suku cadang dari supplier lain. Supplier kedua bisa mengantisipasinya, dan Anda mungkin bisa mendapatkan bahan dari mereka sampai supplier pertama memiliki persediaan kembali. Karena semakin banyak masalah yang terjadi di pabrik supplier, jelas bahwa Anda memerlukan cadangan ketika Anda memiliki jalur produksi yang harus berjalan sepanjang waktu.