Banyak perusahaan yang memiliki program Lean Six Sigma yang kuat di awal namun meredup dalam perjalanan, dan tidak sedikit juga yang berhasil menjaga semangat dan konsisten menjalankan program ini. Lantas apa saja yang seharusnya dilakukan oleh manajemen untuk menjaga keberlangsungan dan kesuksesan program?

Kami bisa pastikan selama ini excellent people akan sulit membaca laporan tentang perusahaan-perusahaan yang gagal karena mengimplementasikan Lean Six Sigma atau tentang perusahaan-perusahaan yang gagal dalam implementasi six sigma? Satu alasan yang pasti adalah tidak semua perusahaan ingin mempublikasikan kegagalan mereka, namun yang ingin kita garisbawahi disini adalah “flavour of the month” akan menjadi fenomena serius yang harus didiskusikan oleh manajemen dalam mengimplementasikan program perbaikan. Layaknya menghadapi ancaman virus corona, kita harus siap mengantisipasi segala kemungkinan salah satunya adalah mempertahankan diri dengan menjaga imunitas tubuh. Nah, berikut ini adalah 4 cara bagaimana kita mempertahankan imun untuk menjaga program Lean Six Sigma di organisasi kita:

1. Pilih Alat Ukur  yang Tepat

Banyaknya proyek six sigma atau berapa banyak Green Belt yang tersertifikasi dalam organisasi bukanlah tujuan utama dari program six sigma. Ingat program six sigma adalah berapa banyak saving yang dihasilkan untuk perusahaan. Banyaknya jumlah proyek six sigma atau banyaknya Green Belt yang anda punya bukan jaminan bisnis dari tahun ke tahun, memang benar bahwa Green Belt adalah agen perubahan, namun mencetak agen perubahan sebanyak mungkin tanpa mendefinisikan dengan tepat apa yang akan diubah akan membuat organisasi kehilangan fokus. Metrik utama untuk mengukur keberhasilan Six Sigma harus selalu didasarkan pada nilai bisnis kembali ke perusahaan

2. Pemilihan Proyek yang Tepat

Baca juga  Inilah Dua Penyebab Data Tidak Normal dalam Control Chart

Pemilihan proyek yang tepat adalah komponen kunci untuk keberlangsungan program Six Sigma. Proyek tidak boleh dipilih hanya untuk mendapatkan seseorang disertifikasi atau untuk membungkus DMAIC terhadap masalah yang jelas bukan proyek Six Sigma hanya untuk mendapatkan visibilitas. Karena proyek membantu menjaga momentum, Pemimpin/champion harus sangat selektif ketika menentukan proyekSix Sigma. Champion harus mampu menyeleraskan visi perusahaan terhadap KPI dan proyek-proyek Six Sigma dan mampu memvalidasi keuntungan proyek dari sisi finansialnya

3. Membangun Infrastruktur yang Kuat

Siapa yang bertanggung jawab atas keberhasilan Six Sigma dalam suatu organisasi? Bukan Black/ Green Belts. Kepemimpinan organisasi menentukan keberhasilan atau kegagalan program Lean Six Sigma ini.  Para pemimpin organisasi/ champion bertanggung jawab mengkomunikasikan harapan dan tanggung jawab untuk memilih dan pemimpin proyek menyiapkan pelatihan, manajemen harus menyediakan program dengan dasar yang kuat. Selain itu, para pemimpin harus mengevaluasi komponen dasar bisnis sebelum menerapkan Six Sigma. Misalnya, apakah organisasi memiliki kapabilitas yang cukup untuk menerapkan Lean Six Sigma? Apakah proses didokumentasikan dan dipelihara secara rutin? Apakah metrik yang digunakan sudah tepat ? Jika belum, para pemimpin mungkin memiliki beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan sebelum meluncurkan Six Sigma

4. Lean Six Sigma adalah sebuah Perjalanan

Program Lean Six Sigma adalah proses yang berevolusi.  Organisasi harus mampu membuat program Lean Six Sigma bukan sesuatu yang basi setelah beberapa tahun implementasinya. Perluasan kemampuan karyawan dalam menjaga inisiatif ini tetap segar perlu dijalankan. Contohnya melibatkan Design for Six Sigma untuk melengkapi DMAIC, atau pengenalan baru, ide alat atau konsep, tidak ada alasan untuk menghambat pertumbuhan tubuh perbaikan terus menerus.

Excellent people, itulah beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk menghindari ancaman melemahnya semangat aktivitas improvement di dalam Lean Six Sigma. Semoga dapat membantu, ya!