dokumentasi: Kepresidenan RI

Jika hanya duduk di kantor, kita tidak akan pernah tahu masalah di lapangan – Jokowi

Blusukan, sebuah kata yang popularitasnya menanjak di tahun 2012. Yaitu ketika Jokowi mencalonkan diri dalam pilgub DKI Jakarta. Meskipun menuai pro dan kontra, aksi blusukan ini terus dilakukan oleh Jokowi bahkan setelah menempati kursi presiden. Saat menghadiri Asian Leadership Conference (ALC) di The Shilla Hotel, Seoul tahun lalu, dalam pidatonya tak ketinggalan Jokowi mengenalkan manajemen blusukan di pemerintahannya kepada para peserta.

Jika dilihat dari prosesnya, blusukan merupakan cara yang paling efektif bagi pemimpin untuk mendekatkan diri kepada titik masalah dan perencanaan solusi. Blusukan, dalam bahasa inggrisnya dikenal dengan manajemen by walking around, disebut juga Gemba (Jepang) merupakan gaya kepemimpinan dimana pemimpin melihat proses dengan meninjaunya secara langsung, bukan duduk di balik meja dan sekedar bertanya “mengapa”.

Dalam konsep Lean gemba berarti terjun langsung ke tempat di mana pekerjaan itu dilakukan. Biasanya proses ini berjalan dengan serangkaian aktivitas yang terstruktur. Ini tentu akan sangat membantu bagi industri manufaktur. Industri manufaktur memiliki rangkaian proses panjang, mulai dari proses desain, produksi, packaging, sampai dengan distribusi. Setiap rangkaian memberikan peluang sama besar meningkatkan profitabilitas bagi perusahaan apabila didesain ulang menjadi lebih ramping.

Gemba disinilah yang nantinya akan membantu perusahaan melihat masalah, memperbaikinya (mendesain ulang), lalu melanjutkan proses yang sudah diperbaiki tersebut. Proses gemba dalam manufaktur berfokus pada alur proses, bagaimana menciptakan situasi yang mendukung untuk melakukan perbaikan. Artinya, perusahaan harus mampu menghilangkan budaya “blaming” terhadap seseorang apabila terjadi kesalahan. Disinilah seorang fasilitator harus turun ke lapangan untuk melihat dan menganalisa seberapa efisien proses berlangsung. Perlu diingat bahwa gemba tidak menyalahkan orang tetapi proses yang buruk. Saat berada di lapangan pemimpin harus mampu memahami apa yang benar-benar terjadi bukan menekankan pada apa yang seharusnya terjadi. Dengan demikian mereka akan mampu membuat prosedur yang baru untuk mengubah proses yang sudah berjalan.

Banyak perusahaan yang mengusung gemba sebagai budaya di perusahaan, salah satunya adalah Toyota. Di dalam payung inilah Toyota mampu mengembangkan perusahaannya menjadi produsen mobil yang mendunia. Tidak ada satu pun pemimpin di Toyota yang duduk bekerja di belakang meja, semua turun ke lapangan. Mereka memahami bahwa mengoptimalkan proses produksi merupakan strategi kunci untuk membantu mendukung tujuan perusahaan dan optimalisasi proses hanya bisa didapat dari lapangan.

Baca juga  Epson Luncurkan Printer EcoTank