Dalam tiga dekade terakhir, metode lean berkembang pesat di dunia industri. Banyak perusahaan yang mengadopsi lean untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kualitas sehingga produk lebih kompetitif di pasar. Setelah memasuki era industri 4.0, tantangan yang dihadapi perusahaan meningkat mengikuti perkembangan teknologi. Bagaimana nasib metode lean? Apakah lean masih diperlukan? Apakah lean masih relevan digunakan di era industri 4.0?

Mengenal Industri 4.0 dan Pabrik Pintar

Sebelum mengulas lebih jauh bagaimana nasib lean di era industri 4.0, kita perlu menyamakan persepsi terlebih dahulu mengenai apa itu industri 4.0 dan definisi dari lean sendiri. Mengenai industri 4.0, istilah ini diperkenalkan untuk pertama kalinya di Jerman. Kemudian terus menjadi topik hangat setelah kanselir Jerman Angela Merkel menjelaskannya dalam World Economic Forum 2015. Dia mendefinisikan revolusi industri 4.0 sebagai sistem yang mengintegrasikan dunia online ke dalam sistem produksi. Singkatnya, teknologi tinggi mulai dimanfaatkan oleh industri.

Jerman yang dikenal sebagai bapak-nya manufaktur di Eropa telah mengenalkan teknologi-teknologi terbarunya ke dalam industri manufaktur yang mendapat respons positif dari banyak negara, akibatnya revolusi kali ini mampu berjalan dengan sangat cepat berbeda dengan revolusi sebelumnya. Sekedar merefresh ingatan, revolusi industri pertama terjadi pada akhir abad ke-18 ditandai dengan penggunaan teknologi steam power dalam proses produksi manufaktur. Kemudian revolusi industri kedua dimulai ketika teknologi listrik dan assembly line digunakan untuk produksi massal. Selanjutnya revolusi industri ketiga dimulai dengan adanya penemuan microprosesor yang memungkinkan otomasi di dalam mesin produksi.

Nah, saat ini kita sudah memasuki era revolusi industri keempat, ditandai dengan munculnya teknologi baru seperti cloud computing, internet of things, digital transformation, realtime sense and response, robotika, artificial intelligence, machine learning, 3D printing  dan teknologi terbaru lainnya yang memungkinkan manufaktur melakukan lompatan besar dalam industrinya.

Baca juga  Industri 4.0 VS Lean (2)

Di era ini kita tidak lagi membayangkan bagaimana antar mesin bisa terkoneksi, tetapi kita bisa melihat langsung “obrolan” mesin dengan mesin ketika proses produksi berlangsung. Bagaimana mesin produksi “membaca” order langsung dari pelanggan dan memetakan semua kebutuhan supply chain. Bagaimana mesin “memerintah” dalam mengatur jadwal produksi semua mesin sekaligus melakukan fungsi monitoring. Bagaimana mesin mendeteksi secara langsung bagaimana proses produksi berjalan dan secara real time melakukan analisa data serta memberikan respons yang bersifat langsung ketika terjadi deviasi. Kondisi inilah yang kita sebut sebagai smart factory atau pabrik pintar.

Kita bisa melihat representasi pabrik pintar dalam pabrik mobil listrik Tesla, yang dibangun oleh Elon Musk, pendiri SpaceX. Dia menjanjikan otomasi penuh dalam pabriknya, tidak memerlukan bantuan seorang pun dalam menjalankan proses produksi. Elon menekankan bahwa produk yang dia buat bukanlah mobil, melainkan Giga Factory  – nama pabriknya.

Sayangnya rencana Giga Factory tidak berjalan dengan mulus. Banyak terjadi masalah pada mesin otomasinya, yang akhirnya mengakibatkan keterlambatan pengiriman produksi. Dampak dari permasalahan ini pun sangat besar, termasuk: kepercayaan investor, kepercayaan pelanggan, supplier, internal manajemen perusahaan, dan juga nilai saham. Pada satu kesempatan Elon menyatakan dalam tweetnya bahwa dia terlalu mengandalkan otomasi dan mengabaikan peran manusia.

Metode Lean

Sekarang kita beralih ke metode lean. Lean dapat didefinisikan dari beberapa perspektif baik sebagai filosofi, prinsip, mindset, manajemen, metode, atau tools. Secara filosofi, lean digunakan untuk menghilangkan semua pemborosan/ waste/ aktivitas non value added di sepanjang end-to-end value chain, mulai dari supplier, proses produksi, hingga ke tangan pelanggan. Tujuan lean sangat jelas yaitu mempersingkat proses leadtime disepanjang value chain tersebut.

Baca juga  Bagaimana Jika Anda Tidak Memiliki Banyak Waktu untuk Menyelesaikan Semua Pekerjaan?

Terdapat lima prinsip dasar dalam lean yaitu menentukan keinginan pelanggan, menciptakan value stream, membuat proses mengalir one piece flow, menggunakan system pull, dan mengulangi improvement secara berkelanjutan menuju kondisi “sempurna”. Lean tidak hanya menyentuh aspek proses tetapi aspek manusia dan juga filosofi perusahaan. Di dalam menciptakan sistem produksi yang lean, kita perlu menyentuh aspek-aspek tersebut secara utuh. Dengan memegang prinsip Continuous Improvement, lean merupakan sebuah cita-cita yang harus dikejar secara terus-menerus. Dalam penerapannya, tidak ada satu pun perusahan yang lean, yang ada adalah perusahaan yang lebih lean. Sehingga muncul istilah yang kita kenal dengan “Lean Journey”.

House of Lean sendiri terbagi dalam 3 bagian, yang terdiri dari fondasi, pilar, dan atapnya. Atap lean adalah objektivitas dari sebuah organisasi, yaitu apa yang ingin dicapai oleh organisasi tersebut. Biasanya direpresentasikan dan diukur dalam metric SQCDM. Sedangkan untuk atap ditopang oleh dua pilar utama, yaitu pilar Just In Time dan pilar Jidoka (autonomation). Pilar ini memiliki fondasi yang dikenal dengan standardize process.

Untuk membangun house of lean, kita tidak bisa membangun pilar dengan menerapkan Just In Time dan Jidoka. Kita juga tidak bisa menerapkan sistem otomatisasi tanpa memiliki fondasi yang kokoh. Kita juga tidak mungkin menciptakan otomatisasi pada proses yang non value added. Otomatisasi juga tidak bisa dijalankan pada proses yang tidak streamline. Singkatnya, prinsip lean hanya menerapkan otomatisasi pada proses yang memberikan nilai tambah, proses yang streamline. Dalam lean juga berlaku prinsip mesin akan bagus untuk pekerjaan berulang sedangkan manusia bagus untuk pekerjaan kreatif. Sehingga kita harus memilah proses yang tepat untuk penerapan otomatisasi.

Baca juga  Berfikir dan Bertindak Seperti Orang Paling Sukses

Bagaimana dengan fondasi 2 pilar tersebut? Fondasi lean meliputi proses kerja yang standard dan stabil, area kerja 5S yang efektif dan efisien, sistem pemeliharaan mesin yang optimal dengan konsep TPM, objective yang terukur dan transparan, mekanisme sistem komunikasi untuk melakukan evaluasi hasil pekerjaan dan pemecahan masalah. Tanpa pilar ini, sistem produksi lean tidak akan berfungsi. Ingat, Just in Time tidak bisa berjalan jika proses kerja tidak standard, area kerja berantakan, reliabilitas mesin tidak terprediksi, ukuran dan sasaran produksi tidak terukur jelas, sistem komunikasi evaluasi penyimpangan tidak ada. Dan yang terpenting tentu saja adanya peran manusia dalam melakukan pemecahan masalah.

Dalam lean, learning organization adalah satu hal yang wajib. Tidak ada sistem produksi yang langsung sempurna pada saat desain awal, perbaikan terus menerus akan selalu dibutuhkan – disinilah pentingnya empowerment pada manusia. (bersambung)