Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional hingga 19,86 persen sepanjang tahun 2018. Dalam hal ini, Kemenperin tengah menggenjot kinerja dan investasi industri manufaktur yang berorientasi ekspor dan substitusi impor.

Upaya tersebut akan memperkuat struktur sektor manufaktur dan perekonomian kita. Ini tentunya akan mendongkrak daya saing Indonesia,” kata Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto dalam rilisnya.

Kemenperin mencatat, investasi di sektor industri manufaktur terus tumbuh signifikan. Pada tahun 2014, penanaman modal masuk sebesar Rp195,74 triliun, kemudian naik mencapai Rp222,3 triliun di 2018.

Peningkatan investasi ini turut mendongkrak penyerapan tenaga kerja hingga 18,25 juta orang di 2018. Jumlah tersebut berkontribusi sebesar 14,72 persen terhadap total tenaga kerja nasional,” ungkap Menperin.

Selanjutnya, selama empat tahun terakhir, ekspor dari industri pengolahan nonmigas terus meningkat. Pada 2015, nilai ekspor produk manufaktur mencapai USD108,6 miliar, naik menjadi USD110,5 miliar di tahun 2016. Pada 2017, ekspor nonmigas tercatat di angka USD125,1 miliar, melonjak hingga USD130 miliar di tahun 2018 atau naik sebesar 3,98 persen.

Jadi, tahun lalu kontribusi ekspor produk manufaktur terbesar dengan mencapai 72,25 persen. Di tahun 2019, kami akan lebih genjot lagi sektor industri manufaktur untuk meningkatkan ekspor, terutama yang punya kapasitas lebih,” ungkap Airlangga.

Berdasarkan catatan Kemenperin, industri pengolahan nonmigas mampu tumbuh sebesar 4,77 persen pada tahun 2018. Adapun sektor yang menjadi penopangnya dan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi, antara lain industri mesin dan perlengkapan yang tumbuh 9,49 persen, disusul industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki yang tumbuh 9,42 persen.

Selanjutnya, kinerja gemilang juga ditunjukkan oleh industri logam dasar yang tumbuh 8,99 persen, industri tekstil dan pakaian jadi yang tumbuh 8,73 persen, industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,91 persen, serta industri karet, barang dari karet dan plastik yang tumbuh 6,92 persen.

Baca juga  Membangun Budaya Kerja Inovatif di Perusahaan

Di industri petrokimia misalnya, kita perlu memperdalam lagi strukturnya di sektor hulu. Karena ini akan mendukung sektor hilirnya. Saat ini, permintaan kita untuk produk petrokimia seperti plastik dan lainnya sudah mencapai 5 juta ton per tahun,” kata Airlangga.

Oleh karenanya, Kemenperin mengapresiasi industri petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. dan PT. Lotte Chemical Indonesia yang telah merealisasikan investasinya untuk menambah kapasitas nasional khususnya bahan baku kimia berbasis nafta cracker untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Chandra Asri yang saat ini kapasitasnya 1 juta ton, kemudian ekspansi menjadi 2 juta ton dan Lotte menambah kapasitas 2 juta ton per tahun. Untuk mengisi kebutuhan lainnya, kami mendorong untuk menumbuhkan industri recycle dalam rangka menerapkan circular economy. Sehingga kita tidak perlu lagi impor,” paparnya.

Airlangga optimistis, di tengah ketidakstabilan ekonomi global, pertumbuhan industri manufaktur nasional diproyeksi sebesar 5,4 persen pada tahun 2019. Sektor-sektor yang akan menopangnya, antara lain yang ada di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronika, serta kimia.