Marks & Spencer melaporkan keuntungan mereka menukik tajam, lagi. Perkembangan internet dan pesaing barunya telah mengancam dominasi raksasa ritel Inggris ini.

Keuntungan sebelum pajak raksasa ritel pakaian asal Inggris ini merosot hingga 62% setelah menjadi £ 66,8 juta setelah membayar tagihan sebesar 514,1 juta poundsterling untuk restrukturisasi,  £ 321 juta dari tagihan tersebut untuk membayar rencana penutupan toko tahap pertama. Satu dari tiga toko dan pakaiannya dijadwalkan akan ditutup dalam waktu empat tahun ke depan, setidaknya membutuhkan £ 150 juta untuk biaya penutupannya.

Meskipun keuntungannya merosot, Chairman M & S Archie Norman mengatakan kalau itu adalah hari bersejarah bagi peritel karena tim manajemen baru menetapkan rencana yang jelas untuk menghidupkan bisnis kembali. Norman meyakini ini adalah titik balik sejarahnya.

Sebenarnya, apa masalah utama yang dihadapi M & S?

Internet: M & S menghadapi tantangan yang lebih besar karena internet telah mempermudah orang berbelanja, membandingkan harga, dan mengakses tren dari seluruh dunia. Di Inggris seperempat dari pembelanjaan pakaian dan alas kaki dibeli secara daring, ahli ritel GlobalData mengatakan ini memberikan manfaat bagi puluhan merek yang lebih kecil. M & S telah berjuang untuk beradaptasi sehingga harus berinvestasi besar-besaran untuk gudang dan pengiriman otomatis.

Terlalu banyak toko: M & S menutup sepertiga dari 300 tokonya yang menjual berbagai macam pakaian, peralatan rumah tangga dan makanan, dan diharapkan mampu bergerak online dalam lima tahun ke depan. Dan sekarang mereka membutuhkan dukungan investasi lebih banyak untuk pekerjaan itu.

Toko tidak menarik: Setelah hampir 115 tahun berdiri, M & S telah menghadirkan beragam toko dan diantaranya memberikan hasil yang baik. Namun, kurangnya investasi di gerai kecil membuat mereka terlihat ketinggalan jaman,  sementara toko yang lebih besar terlalu besar untuk dinavigasi. Meskipun banyak hal telah dilakukan seperti menambah kedai kopi tetapi masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk menciptakan ruang yang benar-benar menarik.

Harga makanan terlalu mahal : Penjualan makanan di M & S juga mengalami kemunduran. Harganya yang terlalu mahal dan munculnya pesaing baru menjadi penyebabnya. Mereka  berencana mengembangkan toko jenis baru yang lebih menarik orang berbelanja.

Model yang ketinggalan jaman: Wanita sekarang berharap untuk berpakaian lebih modis dan M & S pun berjuang untuk mengimbangi keinginan mereka. Sayangnya, upaya menurunkan kualitas untuk menekan harga yang pernah dilakukan M & S menjadi boomerang bagi perusahaan, beberapa sub-merek mereka juga kurang memiliki konsistensi dan pembeli tidak mengetahui siapa target market mereka.

M & S Inc: Budaya bisnis di M & S dikritik karena terlalu birokratis. Chief Executive Steve Rowe pun mengakui hal itu. Dia mengatakan bahwa tugas terbesarnya adalah mengubah budaya perusahaan karena terlalu banyak lapisan, terlalu banyak komite, dan terlalu korporasi.

Peak stuff? M & S dihadapkan pada pergeseran belanja masyarakat, mereka menghabiskan lebih sedikit uang untuk membeli pakaian. Volume pakaian dan sepatu yang dijual pada 2017 turun 0,8%, menurut GlobalData, dan diperkirakan akan turun lagi tahun ini. Pada saat yang sama, pembeli wanita setengah baya M & S sekarang memiliki banyak pilihan berkat perusahaan rival mereka yang mengeluarkan mode lebih cepat seperti Zara, H & M, dan Primark.

 

sumber: theguardian