Profesor Harvard Business School, Amy Edmondson penulis “Teaming: How Organizations Learn, Innovate, and Compete in the Knowledge Economy.” menyimpulkan bahwa “teamwork” adalah mantra keberhasilan bagi perusahaan saat ini, namun terlalu sedikit eksekutif yang memahami cara mengelola dan mendukungnya.

Tuntutan perubahan dalam perusahaan yang bergerak secara dinamis membuat tim yang ada menjadi tidak relevan sehingga perusahaan harus merekrut tim baru untuk mengerjakan proyek-proyek baru mereka. Permasalahan ini biasanya muncul akibat ketidakcakapan seorang pemimpin dalam menjalankan perannya. Pemimpin atau leader berperan sebagai pengelola dalam sebuah tim, tidak jarang mereka akan dipuji oleh manajemen atas untuk semua pekerjaan yang bahkan tidak pernah dia kerjakan sendiri. Tapi inilah bukti keberhasilannya, kenapa bisa demikian? Ya, tantangan berat seorang leader adalah membuat orang lain mau bekerja untuknya dan dia berhasil melakukannya dengan baik.

Sebagian besar leader gagal menjalankan perannya karena secara individu mereka tidak mampu memberikan atau memfasilitasi kebutuhan anggotanya, ketidakmampuan tersebut ditandai dengan:

1. Tidak Mampu Menangani Masalah
Tidak ada organisasi tanpa konflik, baik itu konflik antar rekan kerja atau ketika beberapa karyawan mulai frustasi dengan atasannya, produktivitas menjadi korban. Lalu bagaimana seorang leader menangani masalah-masalah ini?

Solusi untuk masalah-masalah ini umumnya sederhana dan dapat ditemukan jika para leader mengenal karyawannya dengan baik. Tetapi ini adalah sesuatu yang membutuhkan waktu, agar efektif mereka dapat melibatkan seorang profesional yang hebat dan kemudian belajar darinya untuk menentukan langkah selanjutnya.

2. Gagal Menyalakan Budaya Inovatif
Ketika Anda gagal menghidupkan kreativitas dalam tim Anda, Anda akhirnya kehilangan solusi untuk keluar dari masalah. Anda akan melihat proyek Anda gagal dan semua tim frustasi karena tidak berhasil mendapatkan rencana yang inovatif. Permasalah ini bisa menyebabkan tim akan bergantung pada Anda. Setiap kali ini terjadi Anda perlu tahu bahwa satu-satunya cara untuk menciptakan budaya inovatif adalah selalu memberikan dukungan kepada karyawan Anda terlebih ketika mereka gagal. Hargai apapun upaya yang telah mereka investasikan dan selalu ingat bahwa inovasi tidak pernah terjadi dalam sekejap, selalu butuh waktu.

3. Tidak Terbuka dalam Menerima Kritik dan Saran
Banyak pemimpin berhasil menjadi pembicara yang baik tetapi tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Ini biasanya terjadi karena keengganan mereka menghadapi anggota yang melawan arahan mereka ketika tim sedang menjalankan proyek yang sudah mendekati tenggat waktu. Tapi ingat, karena tidak ada kesempatan untuk memberikan masukan, mereka akan selalu menunggu waktu untuk menyerang dan memberikan saran.

4. Gagal Memberikan Motivasi
Anda mungkin memiliki tim terbaik tetapi jika mereka tidak termotivasi untuk memperjuangkan Anda, Anda akan gagal sebagai seorang leader. Alasan utamanya adalah karena karyawan merasa tidak cukup dihargai atas apa yang mereka lakukan. Ini juga alasan mengapa karyawan yang baik dan pekerja keras akan meninggalkan perusahaan. Siapa yang ingin tetap bekerja keras jika mereka tidak dihargai untuk apa yang mereka lakukan? Untuk melakukan ini, pemimpin perlu memiliki sistem evaluasi yang kuat di dalam organisasi. Ini akan membantu mereka mengetahui siapa karyawan yang paling berbakat dan pekerja keras dan siapa yang tidak. Mereka juga harus menginvestasikan waktu untuk memahami berbagai tipe kepribadian dalam timnya.

Selain ketidakmampuan tersebut, kegagalan tim juga biasanya terjadi akibat kesalahan seorang pemimpin dalam mengawasi timnya. Kesalahan tersebut mulai dari kesalahan persepsi hingga pola komunikasi. Perusahaan atau pemimpin akan menyadari bahwa proyek tertentu mengharuskan orang untuk bekerja sama dan kemudian strategi untuk memfasilitasi itu adalah untuk memberitahu orang-orang bahwa mereka sedang bekerja dan “berharap itu mampu  bekerja dengan sendirinya”. Persepsi bekerja dengan sendirinya inilah yang bisa menjadi kekacauan, seorang leader harus memiliki struktur dan disiplin tertentu untuk mendukungnya

Selanjutnya, ketika seseorang atau tim sedang mengelola citra, mereka akan enggan mengakui kekurangan atau kesalahan, meminta bantuan, atau bahkan mengeluarkan ide yang berpotensi baik namun tidak yakin akan diterima baik oleh orang lain. Keinginan untuk tidak terlihat bodoh atau tidak kompeten ini juga akan menciptakan masalah baru yaitu menghambat dialog dan kemajuan, karena seperti kita ketahui hal-hal yang jelas bagi seseorang belum tentu dipahami oleh orang lain.