Pemimpin teknologi semikonduktor global, Samsung Electronics, pada bulan Juni lalu mengumumkan telah menerima sertifikat penghargaan Zero Waste to Landfill level Gold dari Underwriter Laboratories (UL). Atas dasar sertifikasi tersebut, maka fasilitas Samsung di Korea Selatan, AS, dan China telah dinyatakan memenuhi 95 persen persyaratan pengalihan limbah melalui metode tanpa proses termal. UL adalah perusahaan sertifikasi keamanan dan keselamatan yang lebih dari seabad menjadi rujukan yang diikuti perusahaan sertifikasi lainnya dan telah beroperasi di lebih dari 100 negara. Meskipun demikian, sertifikasi UL lebih sulit diperoleh daripada sertifikasi keselamatan lainnya karena proses pengujian lebih ketat dan komprehensif. Secara khusus, pengalihan limbah di Samsung DSR Hwaseong, Korea, juga dilaporkan telah mencapai 100 persen atau mendapat Zero Waste to Landfill di level Platinum.

Belajar Sukses dari Samsung

“Operasi ramah lingkungan kini menjadi keharusan bagi bisnis apa pun dan kami akan terus memastikan pertumbuhan berkelanjutan yang memperhatikan lingkungan tempat kita hidup dan beroperasi,” kata Chanhoon Park, Executive Vice President Of Global Infrastructure Technology Samsung Electronics dalam website resmi perusahaan. Untuk diketahui, sejak tahun 2019 lalu Samsung telah mengeluarkan kebijakan zero waste di perusahaan. Kebijakan ini menjadi langkah tegas perusahaan dalam menyelesaikan isu lingkungan publik. Selanjutnya, perusahaan merancang berbagai macam program untuk mengubah metode pengelolaan limbah melalui inovasi dalam teknik manufaktur dan investasi berkelanjutan pada sistem. Keberhasilan program ini juga diakui tidak bisa lepas dari kampanye dan kesadaran kuat para karyawan akan pengurangan limbah (waste reduction).

Samsung merupakan salah satu vendor elektronik yang disegani saat ini. Samsung juga banyak dikenal orang sebagai perusahaan dengan terobosan-terobosan baru yang canggih. Melihat ke belakang, Samsung pertama kali didirikan oleh Lee Byung-chul pada tahun 1938 sebagai perusahaan produksi mie dan distributor bahan makanan dalam kota. Kemudian pada tahun 1969, mereka mulai masuk ke bisnis elektronik dan mengganti nama menjadi Samsung Electronics Co. (SEC). Satu tahun kemudian mereka mulai memproduksi televisi pertama dan menjualnya ke pasar ekspor. Sejak saat itu perusahaan mulai menggunakan tools Total Quality Control dan Total Process Management. Samsung kemudian menambahkan Six Sigma untuk meningkatkan inovasi dan posisi kompetitif perusahaan.

Baca juga  Mana Fokus yang Lebih Penting di Era Covid-19: Productivity, Efficiency, atau Scalability?

Six Sigma merupakan strategi penyelesaian masalah berbasis data. Agar berhasil, strategi ini harus dijalankan secara disiplin, terstruktur, dan dengan tools yang dibutuhkan. Simbol sigma diambil dari huruf yunani yang mewakili standar deviasi atau jumlah variabilitas. Artinya bahwa di setiap proses akan menghasilkan variasi. Dalam hal ini, Six Sigma akan membantu Anda menganalisa proses, menemukan variasi/ pemborosan/ cacat/ waste kemudian meminimalkan atau menghilangkannya. Sejarah Six Sigma dimulai sejak tahun 1970-an pada saat Toyota mengimplementasikan Toyota Production System (TPS) dan sukses menjadi produsen terbaik di dunia. Dalam waktu yang sama, Motorola mendapati perusahaannya kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan Jepang, dan saat itulah mereka tahu harus berubah. Kemudian pada tahun 1980-an, Motorola resmi memperkenalkan Six Sigma kepada dunia industri, setelah mereka berhasil menjadi perusahaan nomor satu dalam hal kualitas dan laba. Six Sigma menjadi semakin dikenal ketika Welch GE menjalankan Six Sigma sebagai strategi pengembangan bisnis. Dan menurut ASQ, Six Sigma saat ini telah dijalankan oleh perusahaan dan organisasi di seluruh dunia. Puncaknya, pada 2009, 82% dari perusahaan Fortune 100 dilaporkan menggunakan Six Sigma.

Dalam berinovasi perusahaan tentu membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat dan operasional yang efisien. Untuk itu, Samsung terus berusaha mengembangkan aset internal terutama People. David Kiger dalam blog pribadinya menyebut Samsung memulai implementasi Six Sigma di operasi manufaktur dan R&D pada tahun 2000, mereka berhasil mendapat penghematan dan manfaat finansial yang besar di semua unit bisnisnya. Setelah tiga tahun implementasi, Samsung memiliki Master Black Belt (MBB), Black Belt (BB), dan Green Belt (GB) hingga 15.000. Adapun perusahaan awalnya menargetkan 100 MBB, 3.000 BB, dan 30.000 GB pada tahun 2004, ini merupakan bukti bahwa Samsung sangat serius dengan program tersebut. Tidak ada satupun individu atau operasi di Samsung yang dikecualikan dari pelatihan. Pembelajaran di organisasi pun menjadi semakin maju karena Six Sigma terus diterapkan secara konsisten. Pendekatan ini terus diintegrasikan ke seluruh organisasi, mereka memiliki tim internal yang dikhususkan untuk mengajar, menerapkan, dan mengembangkan kompetensi tim di masa depan.

Baca juga  Lima Cara Meningkatkan Penjualan di Era COVID

Samsung saat ini menjadi begitu kompetitif di industri elektronik karena berhasil melakukan inovasi produk dengan cepat dan berkelanjutan sambil terus mensinergikan proyek Six Sigma ke dalam operasinya. Samsung telah membuktikan dirinya sebagai perusahaan yang sukses dengan mengimplementasikan Six Sigma. Ya! Six Sigma telah memberi banyak manfaat bagi organisasi, mulai dari mendorong teamwork di organisasi hingga meningkatkan loyalitas pelanggan. Karyawan akan lebih termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan cara yang benar sehingga menghasilkan peningkatan besar dalam produktivitas.

Memulai Lean Six Sigma di Organisasi

Efisiensi adalah segalanya dalam bisnis abad ini. Ketika perusahaan menemukan cara-cara kreatif untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, mereka juga harus bisa lebih ramping dan lebih efisien. Banyak bisnis sukses di dunia telah memasukkan Six Sigma ke dalam rencana operasional mereka. Bahkan, Amazon sang raksasa e-commerce yang mapan, juga menerapkan praktik Six Sigma ke dalam prosesnya. Seperti yang bisa kita lihat,  Amazon menempatkan fokus utamanya pada perampingan operasi ke dalam praktik sehari-hari. Setiap fungsi pekerjaan dirancang untuk mencapai efisiensi maksimum. Perusahaan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan memangkas biaya, ini adalah cara cerdas untuk menciptakan skalabilitas bisnis. Amazon juga terus membangun kaizen hal ini selaras dengan tujuan bisnisnya untuk terus melampai kebutuhan pelanggan.

Untuk memulai Lean Six Sigma di Organisasi, Anda harus memiliki orang yang ahli, yaitu orang yang siap mengambil dan menjalankan inisiatif perubahan di seluruh organisasi. Dalam hal ini, SSCX International adalah partner terbaik yang bisa diandalkan untuk membantu mempersiapkan agen perubahan di organisasi Anda. Bagi Anda yang tertarik dengan program Lean Six Sigma atau ingin melakukan assesment dengan menggunakan metode yang proven ini segera hubungi tim SSCX di Wa.me/628175763021.

Baca juga  Awas, Jangan Terjebak 5 Mitos Seputar Inovasi Ini

Agenda SSCX Online Public Training Lean Six Sigma terdekat:

  • Lean Six Sigma White Belt : 21 – 22 Juli 2020
  • Lean Six Sigma Green Belt : 4 – 6 Agustus 2020 (batch 1)