Pernahkah team Anda menemui kebuntuan dalam menemukan solusi untuk permasalahan yang telah ditemukan? Kalau dalam implementasi lean, hal ini biasanya terjadi saat team memasuki tahapan problem solving. Apa sebenarnya penyebab stagnasi proses ini? Jika Anda dan team merasa pesimis untuk melanjutkan karena menilai masalah yang dihadapi terlalu kompleks hingga sulit diselesaikan maka bisa jadi Anda dan team mengalami permasalahan dalam memahami realitas.

Berbagai sumber ilmiah menilai organ otak yang menjadi sumber masalah. Otak manusia kerap keliru mempersepsikan hal atau merespon persoalan sehingga gagal memahami realitas. Nampaknya, otak manusia secara alamiah melakukan penghematan energi saat memecahkan masalah.

Meski massa otak manusia hanya dua persen dari massa total tubuh manusia, sebenarnya otak manusia menggunakan sekitar 20 persen kalori untuk proses metabolisme. Tak heran jika Otak Manusia secara alamiah melakukan penghematan, mencari cara paling mudah untuk memahami masalah dengan melihat dan percaya kepada pola yang ada. Terlebih jika pola yang ada mudah dikenali secara cepat oleh panca indera.

Otak manusia otomatis mengikuti pola yang jelas ada, memproses informasi dengan cepat, hemat energi. Sehingga seseorang perlu bersikap terbuka terhadap sudut pandang orang lain, memverifikasi pendapat dalam diskusi, terlebih pendapat dari tim yang bersifat kolektif. Pendapat kolektif menjadi lebih efektif dan realibel ketimbang pendapat satu orang.  

Otak manusia memiliki keterbatasan dalam menganalisis dan memahami masalah. Wajar jika terdapat kemungkinan pikiran seseorang keliru atau kurang tepat saat mengambil keputusan. Bertanya kepada diri sendiri menjadi cara yang cukup penting untuk tetap fokus, terbuka, kritis memahami perubahan serta menghargai pendapat orang lain saat berdiskusi.

Prinsip kerja Otak Manusia mirip Otot. Konsisten berlatih, mempelajari hal-hal baru, terbuka terhadap perubahan dan solusi alternatif, berpikir kreatif dan inovatif akan mengembangkan fungsi otak secara optimal. Singkatnya, manusia membutuhkan kontemplasi untuk memahami realitas yang ada.

Thomas Alva Edison gagal berulang kali dalam melakukan percobaan dan pengujian sains, namun ia memilih tak menyerah. Sebaliknya, ia memilih mendobrak pola pikirnya, terus mencari solusi dan memberikan inovasi terbaik bagi peradaban. Tak bisa dibayangkan jika ia menyerah, belum tentu zaman modern mengenal bola lampu pijar.

Pada tahun 1870, ia menemukan mesin telegraf yang mampu mencetak pesan-pesan di atas pita kertas yang panjang. Ia banyak melakukan penemuan yang penting setelah berhasil mendirikan bengkel ilmiah pada 1874 di Menlo Park, New Jersey. Penemuan-penemuan Edison yang menyejarah antara lain penemuan fonograf (1877), lampu listrik dan proyektor film (1879), serta pemasangan lampu listrik di jalan dan rumah di New York (1882).  

Selain dipandang sebagai salah satu penemu dan pencipta paling produktif pada masanya, Edison juga memegang rekor paten atas namanya sebanyak 1.093. Inovasinya tak berhenti pada teknologi sipil, namun berkembang ke bidang pertahanan. Penelitian untuk mendeteksi pesawat terbang, kapal selam, menghancurkan periskop, menghentikan torpedo dengan jaring telah banyak membantu Pemerintah Amerika Serikat.  Edison meninggal pada usianya ke-84, pada hari ulang tahun penemuannya bola lampu modern.

Begitupun Wright Bersaudara yang berupaya keras menciptakan pesawat terbang. Dua bersaudara itu gagal berulang kali dan ditertawakan banyak orang saat mencoba menerbangkan besi berbobot puluhan kilogram mengarungi awan. Sedari dulu orang tak pernah menyangka Manusia mampu terbang di udara. Bahkan orang akan mengolok-olok ide dan gagasan tentang pesawat terbang.

Dua orang Amerika membuktikan kepada dunia pada 17 Desember 1903 dengan membangun pesawat terbang pertama kali menggunakan “mesin terbang” yang dikendalikan Manusia. Wright bersaudara adalah orang yang pertama menemukan kendali pesawat sehingga pesawat terbang dengan sayap yang terpasang kaku bisa dikendalikan. Penerbangan pertama kali di dunia menggunakan balon udara panas hasil temuan Joseph Montgolfier dan Etiene Montgolfier pada tahun 1782.

Peradaban terus berkembang seiring evolusi pemikiran manusia, termasuk cara manusia memenuhi kebutuhan hidup serta mengatasi masalah. Di dunia korporasi dan era perkembangan teknologi, setiap perusahaan dituntut untuk beradaptasi, proaktif melakukan problem solving process. Tak satu pun perusahaan di dunia yang tak memiliki masalah. Sehingga yang membedakan sebuah perusahaan dengan yang lain, ketika melihat persoalan perusahaan menjadikannya sebagai batu loncatan atau sebaliknya menjadi batu sandungan.