Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa perusahaan besar seperti Nokia dan Volkswagen mengalami krisis atau tekanan bisnis. Kedua perusahaan ini, masing-masing dikenal memiliki pemimpin yang cerdas dan juga memiliki tujuan yang ter-artikulasi jelas. Dengan kata lain, mereka adalah perusahaan habat yang memiliki bakat. Namun kenapa mereka gagal?

Dalam buku “The Fearless Organization”, Amy C. Edmondson mengatakan bahwa kegagalan bisnis dalam skala tersebut (sekelas Nokia) sebenarnya bisa dicegah. Pemimpin harus memiliki kepemimpinan yang bisa memastikan bahwa keamanan psikologi meresap di tempat kerja, memungkinkan orang untuk mau berbicara tentang kebenaran.

Tidak satu pun kegagalan terjadi secara tiba-tiba, sebaliknya, benih kegagalan mulai muncul berbulan-bulan atau bertahun-tahun lalu sementara manajemen senior tidak menyadari. Di banyak organisasi, masalah kecil yang tak terhitung jumlahnya terjadi secara rutin,ini seharusnya bisa menjadi tanda peringatan dini bahwa strategi perusahaan mungkin gagal dan perlu ditinjau kembali. Namun, sinyal-sinyal ini sering diabaikan. Padahal kegagalan ini sebenarnya bisa kita hindari dengan mendorong orang di seluruh perusahaan untuk lebih aktif melaporkan masalah yang sebenarnya terjadi,sehingga dapat menciptakan siklus pembelajaran yang berkelanjutan dan eksekusi yang gesit.


Kasus yang dikutip di atas, bisa dikatakan sebagai kasus kegagalan strategi. Celah kecil di perusahaan, mendorong kegagalan yang dramatis. Informasi aktual yang seharusnya dimanfaatkan, tidak mampu ditangkap dan dimanfaatkan dengan baik oleh perusahaan untuk memikirkan dan mengarahkan kembali bisnisnya. Misalnya, terjadi di Wells Fargo. Keyakinan bahwa manajer tidak akan mentolerir target yang terlewat, mendorong tim penjualan membuat akun palsu daripada melaporkan kondisi aktual yang mereka alami,indikasi keamanan psikologis yang rendah seperti inilah yang sering terjadi.

Pembuatan akun pelanggan palsu merupakan akibat dari individu yang korup dan tentunya bertentangan dengan perilaku organisasi, kasus ini bisa mengarah pada kegagalan sistem. Bisa dikatakan, sistem sengaja dibuat untuk gagal yaitu dengan meng-kombinasi strategi top-down dan keamanan psikologi yang tidak memadai untuk mendorong berbagi berita buruk ke atas hierarki. Namun, menemukan atau mencari individu yang korup tidak akan berhasil menyelesaikan masalah. Yang terpenting adalah menemukan masalah sedini mungkin untuk kemudian mengurangi dampak kegagalan atau bahkan mencegahnya.

Baca juga  Membangun Budaya Kerja Inovatif di Perusahaan