Perubahan teknologi yang merubah pola konsumsi masyarakat mampu menumbangkan bisnis yang moncer di era sebelumnya, Kodak misalnya. Pada tahun 2012 lalu perusahaan pertama yang menemukan kamera genggam ini mengajukan perlindungan kebangkrutan, perusahaan berusia lebih dari satu seperempat abad ini mengalami kesulitan karena ditinggal pesaingnya yang lebih cepat beralih ke era digital.

Beberapa waktu lalu Toyota, raksasa otomotif yang telah berusia 81 tahun mengucurkan investasi sebesar 1 miliar kepada Grab Holdings Inc, perusahaan mobile platform O2O terkemuka di Asia Tenggara. Meskipun angkanya cukup besar, tetapi Toyota bukanlah satu-satunya perusahaan otomotif yang memberikan investasi dengan nilai yang cukup fantastis ke perusahaan penyedia on-demand berbasis aplikasi.
Sebelumnya, di awal tahun lalu PT Astra International juga telah melakukan investasi serupa ke Gojek, rival terberat Grab untuk menguasai pasar Asia Tenggara. Baik Astra maupun Toyota menyebutkan bahwa investasi yang mereka suntikkan mengarah pada pemanfaatan data dan nilai tambah bagi bisnis masing-masing. Sedangkan baik Grab maupun Gojek, keduanya berkomitmen untuk menggunakan investasi tersebut untuk mengembangkan inovasi dan memberikan manfaat langsung bagi para pengusaha kecil.

Kenapa perusahaan otomotif terlihat seperti sedang berkompetisi untuk masuk ke ride-sharing? Para perusahaan otomotif nampaknya melihat era digital membawa ancaman yang serius bagi masa depan bisnis mereka. Layanan transportasi on-demand beserta inovasi yang dibawanya tidak lagi bisa ditolak, kepemilikian kendaraan yang semakin menurun juga tidak bisa disikapi dengan biasa oleh para pabrikan otomotif. Apa pun bentuk kesepakatan yang mereka dapatkan, satu hal yang pasti bahwa pabrikan otomotif ini tidak ingin melakukan kesalahan yang sama hingga bernasib buruk seperti pemain di industri lain yang terlambat mengantisipasi perubahan era digital. Beradaptasi untuk mempertahankan bisnis.

Baca juga  Mengapa transformasi begitu sulit dicapai?