Hari ini saya ingin mengajak Anda sejenak bernostalgia dengan kisah inspiratif  yang mungkin beberapa dari Anda sudah membaca atau mendengarkannya hingga puluhan kali. Ini akan membantu Anda menjadi leader yang solutif, mampu memanfaatkan peluang.

Kisah ini adalah  tentang seorang Raja dan kegemarannya mengoleksi baju baru. Koleksi bajunya saat ini sudah sangat banyak memenuhi beberapa lemari. Ia gemar membeli baju baru dengan harga yang sangat mahal, terutama untuk perayaan besar di kerajaannya. Suatu hari, Raja bingung akan memakai baju apa di hari ulang tahun kerajaan yang akan datang

Akhirnya, Raja memanggil Perdana Menteri dan meminta untuk memesankan baju yang istimewa agar saat perayaan, semua mata tertuju pada Raja. Perdana Menteri pun mengadakan sayembara, “Siapapun yang dapat membuatkan Raja baju yang indah akan mendapatkan hadiah”.

Setelah itu, datang pemuda berani untuk mengambil tantangan sayembara tersebut.

Mendengar hal tersebut, Raja pun senang. Ia juga berpikir pasti akan sangat indah jika memakai baju yang terbuat dari emas asli. Sang Raja pun memberikan perintah kepada Perdana Menteri untuk menyediakan gulungan benang yang terbuat dari emas untuk sang penjahit.

Ulang tahun kerajaan semakin mendekat. Raja sangat tidak sabar ingin melihat baju barunya. Akhirnya, ia memerintahkan Perdana Menteri untuk memeriksa baju barunya.

“Perdana Menteri, pergilah temui penjahit untuk memeriksa baju baruku!” perintah Raja.

Penjahit tersebut masih ditempat kerjanya.

“Ini bajunya Tuan. Bagaimana menurut anda?” Tanya sang pemuda.

“Sebagai orang bijaksana, anda pasti bisa melihat baju yang indah ini.” Kata asisten penjahit.

Namun, Perdana Menteri terlihat kebingungan. Ia tidak bisa melihat apapun yang dikatakan “baju” oleh penjahit . Meskipun begitu, ia tidak berani bertanya. Perdana Menteri hanya mengangguk dan kembali ke kerajaan untuk menemui Raja.

Baca juga  Pentingnya Menjalankan Kaizen Event

“Bagaimana baju baruku?” Tanya Raja.

“Bajunya sangat indah Tuanku, Raja dapat melihatnya sendiri ke tempat penjahit karena Raja adalah orang yang bijaksana.” Jawab Perdana Menteri gugup.

Karena sangat penasaran seperti apa baju barunya, Raja pun segera menemui penjahit tersebut. Mereka berkata hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Perdana Menteri sebelumnya. Raja bingung, ia tidak dapat melihat apapun. Ia meminta pendapat dari Perdana Menteri yang dibalas dengan anggukan kepala dan ia mengatakan bahwa baju  tersebut sangat indah.

“Tuanku, apakah engkau bersedia untuk memakai baju baru ini?” Tanya pria penjahit tersebut.

Rajapun segera melepaskan pakaiannya saat itu, dan memakai baju barunya. Raja melihat dirinya dalam cermin, tetapi, ia sama sekali tidak melihat baju barunya. Agar tidak dianggap tidak bijaksana oleh orang lain, Raja pura-pura percaya bahwa baju itu berada ditubuhnya.

Keesokkan harinya, di hari ulang tahun Kerajaan, Raja sudah siap dengan baju barunya, meskipun tidak terlihat. Namun, Raja sangat senang dan terlihat percaya diri. Raja pun bersiap untuk mulai pawai mengelilingi kerajaan. Rakyat terkejut dengan penampilan Raja kali ini. Raja yang biasanya memakai baju-baju yang indah dan baru, tetapi kini tampil berbeda. Namun, mereka tidak berani untuk berkata apa-apa.

Dengan rasa bangga, Raja terus melambaikan tangan ke rakyat. Di tengah pawai, Raja mendengar seorang anak kecil yang bertanya kepada orang tuanya.

“Ibu, kenapa Raja tidak memakai baju?”

Mendengar anak tersebut, Raja sangat terkejut dan malu, ia pun langsung melihat pada tubuhnya.

Ia pun baru sadar bahwa dirinya memang tidak memakai baju.

Dari kisah di atas, kita dapat melihat bagaimana seorang pemimpin yang lebih mengutamakan “image” pribadi tidak bisa melihat kebenaran realita sehingga mengabaikan hal-hal yang akan berakibat buruk kepada citra dirinya dan juga organisasinya di masa akan datang. Ego tersebut menutupi sejumlah realita yang ada di lapangan. Akibatnya, sejumlah permasalahan yang terjadi diabaikan begitu saja sehingga peluang perbaikan pun tidak bisa dimanfaatkan. Dalam Lean Leadership, pemimpin harus mampu menguasai egonya. Melihat dan mendengar dengan bijak apa yang sebenarnya terjadi, dengan demikian semua permasalahan bisa terlihat dengan jelas sehingga tepat dalam mengambil langkah solusi ke depannya.

Baca juga  Recalling: Lean Manufacturing