Cybermax Indonesia bekerja sama dengan HashMicro, Synnex Metrodata Indonesia, dan Microsoft Indonesia, telah mengadakan acara seminar mengusung topik ‘Industry 4.0 Transformation in Manufacturing and Logistics’ dengan tiga orang pembicara; dua pembicara inti dan satu pembicara tamu yang diundang oleh Cybermax untuk melakukan testimoni. Pembicara inti tersebut adalah Antonius Edwin, Technical Lead Cybermax, dan Ricky Halim, Country Manager HashMicro. Sedangkan pembicara tamu adalah Surya Laksana, Digital Transformation Lead dari Eastern Logistics, perusahaan logistik yang bekerja sama dengan Cybermax dalam Lamongan Shorebase Project, yang merupakan sebuah proyek transformasi digital.

Transformasi digital merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi pada era millenia saat ini. Sama halnya dengan Industri 4.0 yang merupakan sebuah revolusi, transformasi digital juga merupakan revolusi dari cara kerja manual yang selama ini diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di negara berkembang. Cara manual seperti itu dinilai kurang efektif dan memakan waktu yang relatif lama. Diantara produk transformasi digital yang ada, Internet of Things yang disingkat dengan ‘IoT’ hadir sebagai produk unggulan di zaman serba internet seperti saat ini.

IoT merupakan sebuah konsep mengumpulkan data dari sebuah benda, menghubungkannya ke internet untuk di analisis melalui aplikasi, dengan hasil akhir mendapatkan informasi (report) yang berguna sebagai bahan dalam mengambil keputusan. Untuk menjalankan konsep tersebut, dibutuhkan alat yang disebut sensor.

Seperti yang dijelaskan oleh Antonius Edwin, atau yang akrab disapa Edwin pada presentasinya yang berjudul ‘Implementasi IoT di Industri Manufaktur dan Logistik’, Cybermax memiliki dua solusi utama dalam IoT, yaitu; Smart Building dan Smart Logistics.

Pada Smart Building, pengguna bisa memonitor pendingin utama ruangan, listrik, air, dan masih banyak lagi sehingga bisa membantu mencegah dan memperbaiki sebelum terjadi masalah. Lebih tepatnya bisa meminimalisir kerugian yang ditimbulkan, menghemat biaya, dan menjaga kepuasan pelanggan. Sedangkan pada Smart Logistics, pengguna bisa melacak mobilitas armada, membuat batas virtual untuk para armada yang akan memberikan tanda jika armada melewati batas virtual. Kemudian membuat laporan analisis untuk setiap armada. Dengan ini pengguna bisa menghemat biaya dan menjadi andalan pelanggan dikarenakan kepuasan yang mereka dapatkan.

Baca juga  EPSON Perkenalkan Robot SCARA T3 & T6

Berbicara mengenai IoT tidak akan terlepas dari cloud computing yang memiliki peran besar. Hal ini disebabkan karena IoT akan menghasilkan data dalam jumlah yang sangat besar, dan untuk memastikan solusi tersebut berjalan secara sempurna, di situlah peran cloud computing. Cloud computing akan menyiapkan jalur – jalur khusus agar data dalam jumlah besar tersebut sampai di tujuan yang dikehendaki, baik itu divisualisasikan pada business intelligence, atau bahkan sampai ke analisis data yang melibatkan data scientist. Tidak hanya itu, sifat cloud computing yang efektif dan efisien juga menjadi alasan mengapa IoT dan cloud computing mempunyai hubungan yang susah dipisahkan.

Cybermax Indonesia merupakan salah satu dari sedikit perusahaan IT di Indonesia yang memiliki kombinasi antara keahlian IoT dan cloud computing. Untuk mengimplementasikan teknologi tersebut, Cybermax merekomendasikan Microsoft Azure sebagai cloud platform terbaik dengan skala global, didukung dengan SLA (layanan jaminan / service level agreement) hingga 99.95 % (untuk layanan tertentu). Berbagai sertifikasi compliance dari seluruh standar global, menjadikan Microsoft Azure sebagai pilihan yang tepat sebagai host untuk berbagai aplikasi maupun produk IoT yang mereka jual, serta layanan pendukung yang sangat penting yaitu BCDR (Business Continuity Disaster Recovery). Seperti yang diketahui, setiap perusahaan sangat membutuhkan solusi tersebut, namun kendalanya adalah biaya investasi awal yang relatif besar serta adanya keraguan dalam hal efisiensi. Ironisnya, beberapa compliance standard juga mewajibkan perusahaan untuk mempunyai pusat penanggulangan bencana untuk kepentingan kelangsungan bisnis jika terjadi gangguan akibat bencana alam dan lainnya.

Pada pembahasan topik kedua mengenai Backup and BCDR, Edwin menjelaskan perbedaan solusi BCDR konvensional dengan Azure BCDR. Solusi konvensional mengharuskan penggunanya untuk membangun datacentre hanya untuk DRC saja. Belum lagi fakta bahwa datacentre ini membutuhkan lebih banyak uang untuk biaya pemeliharaan. Sedangkan Azure BCDR menyediakan layanan untuk mengatasi masalah server dan membantu mempertahankan bisnis dengan menggunakan cloud. Untuk mengatasi permasalahan yang sama, Azure BCDR hanya menghabiskan biaya yang lebih sedikit dan bisa didapatkan dengan cara yang lebih mudah dengan konsep Pay as You Go.

Sebagai contoh kasus, Surya menjelaskan megenai manfaat dari pengaplikasian dua kombinasi superior ini. Dampak yang paling besar dirasakan pada divisi keuangan, dimana sebelumnya karyawan rata-rata harus lembur sampai jam 2 malam untuk menyelesaikan laporan. Hal ini disebabkan oleh aplikasi yang mereka gunakan sebelumnya tidak terintegrasi ke aplikasi lain dan akses masih menggunakan VPN, sehingga mereka tidak bisa mengerjakannya di tempat lain selain di kantor.

Baca juga  Epson Luncurkan Printer EcoTank

Untuk mewujudkan perjalanan transformasi digital ini, Cybermax menggunakan kerangka kerja yang dinamakan cloud adoption framework, tujuannya adalah untuk memetakan fungsi dan divisi mana yang pengaruhnya sangat penting dibandingkan dengan tingkat kesulitan dari aspek teknis, sehingga perusahaan dapat melakukan seleksi prioritas untuk divisi mana yang harus melakukan transformasi terlebih dahulu, dan mana yang boleh dilakukan dilain waktu.

Presentasi dari Surya mengakhiri rangkaian presentasi dari acara Industry 4.0 dan dilanjutkan dengan pemberian lucky draw kepada tiga orang peserta yang beruntung dari total empat puluh orang peserta yang hadir. Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peserta, dan tentunya agar bisa menjalin kerjasama dengan Cybermax, HashMicro, Synnex Metrodata, dan Microsoft Indonesia.