Sears, jaringan ritel yang sempat mendominasi pasar Amerika telah mengumumkan kebangkrutannya. Sempat berjaya, kini perusahaan berusia 132 tahun ini harus rela masuk ke daftar perusahaan yang tersingkir di era digital.

Era digital berhasil membawa perubahan besar dalam industri ritel. Teknologi berhasil merevolusi proses interaksi antara penjual dengan pelanggan. Perusahaan yang hadir dengan membawa pengalaman baru seperti Amazon berhasil mengeruk pasar yang sebelumnya dikuasai oleh pemain-pemain konvensional yang mengandalkan toko fisik dan lambat melihat peluang digital. Sears sendiri bisa dikatakan sebagai Amazon pada era sebelumnya, ketika internet belum ada, Sears membawa inovasi baru ke dalam dunia ritel dengan memungkinkan pelanggan membuat pesanan via telepon dan mereka akan mengirimkannya. Berkat inovasi ini, keuangan perusahaan terus menanjak, puncaknya pada tahun 1945 lalu, Sears berhasil mencapai 1 milliar dollar.

Benarkah di era digital ini, kehadiran Amazon telah menumbangkan kedigdayaan Sears? Sean Maharaj, director of the retail practice perusahan konsultan AArete mengatakan bahwa Sears tidak bisa menyalahkan Amazon. Menurutnya, perusahaan ini sudah bermasalah sebelum era digital sendiri berkembang. Dimulai pada tahun 90-an lalu ketika Walmart berkembang secara agresif. “Satu hal yang Anda miliki adalah tim manajemen yang buruk dengan kurangnya visi strategis,” kata Sean dikutip SHIFT dari CNN.

Dalam dasawarsa terakhir, Sears banyak membuat kesalahan besar dalam bisnisnya. Mereka membuat keputusan buruk dengan tidak fokus pada core bisnis dan pelanggannya. Sears berusaha memotong biaya sementara para pesaingnya terus berusaha memperbaharui toko dan membangun bisnis digital. Seperti Macy’s (M) dan Kohl’s (KSS), keduanya membuat keputusan pemasaran yang cerdas dan membangun kembali bisnis mereka untuk menghadapi era digital.

Baca juga  3 Pelajaran Penting dari Jack Ma, Seorang Guru yang Berhasil Menjadi Pengusaha Sukses

“Semua department store telah bergelut dengan apa yang mereka jual, dan pengalaman toko,” kata Robert Schulz, kepala analis kredit untuk industri ritel Standard & Poor’s. “[Sears dan Kmart] tidak terlalu menekankan pengalaman toko yang diperlukan untuk beresonansi dengan pelanggan.”

Kebangkrutan Sears  menambah daftar perusahaan raksasa yang tumbang akibat kesalahan perusahaan dalam mengambil strategi. Pada bulan Mei lalu, Gibson Brands Inc, produsen pembuat gitar legendaris juga mendaftarkan diri bangkrut karena terjerat utang sebesar 500 juta dollar AS dampak salah strategi atas akusisi bisnis peralatan elektronik di luar negeri. Di tanah air, pionir teh celup Sariwangi juga dinyatakan pailit oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat karena tidak mampu membayar kewajiban kepada sejumlah debitur. Kita juga harus bisa mengikhlaskan tabloid bola yang telah 34 tahun menghiasi jagat media Indonesia karena tidak lagi bisa bertahan menghadapi gempuran media daring.

Kondisi bisnis dan industri terus bergerak dinamis didukung perkembangan teknologi yang kian maju. Tidak ada toleransi, era ini hanya didedikasikan untuk mereka yang siap, lincah, dan ramping. Kita tidak bisa menghindar dari pergeseran yang membuat kondisi menjadi agak kabur, kompleks, dan cepat berubah. Singkatnya, sebagai pelaku bisnis kita harus siap dengan era baru ini. Kita harus menciptakan cara baru agar tidak terdisrupsi. Jika kemarin kita hanya berbicara tentang produktivitas dan efisiensi dalam bisnis, maka hari ini kita tidak bisa hanya fokus dengan dua hal tersebut. Kita perlu memiliki rencana baru, strategi baru, inovasi baru untuk merelevankan bisnis. Apa yang harus kita siapkan?

Untuk membantu perusahaan di Indonesia berhasil melewati berbagai tantangan bisnis ini, SHIFT Indonesia menggelar konferensi tahunan Indonesia Operational Excellence Conference and Award 2018, 7 November 2018 di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta dengan mengangkat tema “Agility, Customer Centricity & Operational Transformation in VUCA World”. Konferensi ini akan mempertemukan para pelaku industri dan bisnis di tanah air untuk bersama, berbagi pengalaman dan pendapat untuk menghadapi volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity dalam dunia bisnis. Banyak profesional yang akan naik ke panggung untuk berbicara tentang kesuksesan mereka dalam membangun strategi dan menjalankan eksekusi di organisasinya. Tunggu apalagi, daftarkan diri Anda sekarang juga melalui laman opexcon.com dan Anda bisa mendapatkan jawaban atas kekhawatiran yang Anda miliki dalam menghadapi era VUCA yang kita hadapi saat ini.

Baca juga  Presdir PT Astra Komponen Indonesia : Pemimpin Harus Punya Visi Besar