Dalam mencapai operational excellence, retailer di Inggris lakukan strategi penghematan dengan cara mendaur ulang energi dari limbah yang mereka miliki. Gambar: www.london-luton.co.uk

Operational excellence bisa dicapai dari banyak sudut; bahkan dari pemanfaatan makanan sisa. John Montagu, 4th Earl of Sandwich mungkin tidak akan mengira bahwa temuan kulinernya akan mengubah sejarah dan kebiasaan makan orang di seluruh dunia. Ia mungkin juga tidak pernah membayangkan bahwa keju cheddar dan telur dalam roti lapis suatu saat akan mampu memberikan penerangan dan kehangatan kepada ratusan bahkan ribuan rumah di Inggris.

Namun artikel ini bukan tentang roti lapis. Ini adalah tentang metode operational excellence yang sedang berkembang di Inggris. Metode tersebut populer berkat kampanye daur ulang dan pelestarian energi terbarukan, yang kini sedang gencar dijalankan oleh retailer makanan di Inggris Raya. Retailer besar Inggris, sebutlah Tesco (supermarket chain terbesar di Inggris), Marks & Spencer Group, John Lewis Partnership’s Waitrose, Wal-Mart Asda, dan J Sainsbury, adalah beberapa nama besar yang tengah menjalankan kampanye improvement yang sedang populer tersebut.

Apa yang sedang mereka lakukan?

Beberapa sumber menyebutkan bahwa mereka kini giat mengumpulkan sisa-sisa lemak ayam, kepala ikan, roti lama, dan sandwich yang tidak terjual untuk disalurkan kepada fasilitas-fasilitas yang memproduksi biogas, untuk diproses sehingga menghasilkan energi listrik. Bagi banyak retailer Inggris, cara baru mereka dalam mengolah limbah adalah bagian dari usaha pemeliharaan lingkungan. Marks & Spencer mengumumkan bahwa mereka telah memenuhi sasaran untuk menjadi perusahaan “carbon neutral”; sebuah target operational excellence yang juga dibidik oleh banyak pesaingnya.

Keuntungan Finansial Melalui Penanggulangan Limbah

Retailer Inggris mendapatkan keuntungan finansial dengan mengurangi tumpukan limbah yang berakhir di tempat sampah. Pasalnya, Pemerintah Inggris menetapkan pajak TPA sebesar 64 pounds (US$98) untuk setiap ton sampah yang dibuang. Pajak ini akan naik sebesar 8 pound setiap tahunnya.

Dengan menyalurkan limbah mereka kepada fasilitas biogas, mereka mengurangi biaya yang dibayarkan untuk pajak dan lebih dari itu, mereka mampu mengurangi tagihan listrik karena energi terbarukan yang tercipta dapat kembali dimanfaatkan.

Limbah makanan dapat diubah menjadi bahan bakar dengan melalui proses yang disebut anaerobic digestion. Sampah makanan dicampur dengan air hangat dan dipompa masuk kedalam tangki kedap udara. Setelah beberapa lama, sisa makanan akan dibusukkan oleh bakteri dan memproduksi gas.

Hasil dari pembusukan itu merupakan gas metana pekat yang dapat disalurkan untuk beberapa penggunaan, salah satunya sebagai sumber energi pada pembangkit listrik. Menurut perkiraan pemerintah Inggris, pembangkit listrik bioenergi dapat memenuhi sebanyak 8 hingga 11 persen dari total kebutuhan listrik di Inggris hingga delapan tahun. Pemerintah Inggris Raya menawarkan berbagai subsidi bagi proyek-proyek waste-to-power. Mereka menargetkan produksi 15 persen energinya melalui clean sources pada 2020 (saat ini jumlahnya telah mencapai 3,3 persen).

Kepala Departemen Limbah di Marks & Spencer, Mandy Keepax, mengaku sangat bersemangat dengan metode penanganan limbah yang baru tersebut. “Saya menjadi bersemangat ketika ditantang untuk memenuhi target zero waste pada tempat pembuangan sampah akhir,” katanya dalam dukungannya terhadap metode operational excellence yang baru tersebut.

Marks & Spencer kini mendaur-ulang 89 persen limbah makanan mereka dari seluruh 115 gerainya di Inggris di fasilitas biogas. Menurut klaim perusahaan, penghematan yang dihasilkan dengan penerapan program operational excellence tersebut mencapai 105 juta pounds pertahunnya.

Wal-Mart melakukan hal yang sama. Mereka “menyumbangkan” apapun, dari potongan daging yang telah membusuk hingga roti berjamur kepada beberapa situs bioenergi. Tesco juga telah mengubah 2000 ton minyak bekas dan lemak ayam dari pabrik roti mereka menjadi biofuel. Tecso mendapatkan keuntungan berupa pemangkasan biaya sebesar 200 juta pound dengan teknologi low-carbon dan power-saving dari tagihan listik mereka setiap tahun. “Sebuah brand yang modern adalah brand yang sustainable,” ungkap Lucy Neville-Rolfe, direktur corporate & legal affairs di Tesco, mengomentari program operational excellence yang tengah mereka jalani.

Retailer makanan lainnya, Sainsbury, bahkan telah melangkah lebih jauh menuju operational excellence. Pada bulan Februari lalu, supermarket chain nomor tiga terbesar di Inggris ini mengumumkan investasinya di Tamar Energy, yang berupa rencana pembangunan 40 plant biogas dalam lima tahun, yang akan memungkinkan mereka untuk mendaur-ulang limbah menjadi energi listrik untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan dan lingkungan sekitarnya.

Perusahaan ini didanai oleh pengusaha Jacob Rothschild dan rumah tangga Duchy of Cornwall yang disponsori oleh Pangeran Charles, putra mahkota Inggris. Sekitar 2500 rumah kini menikmati listrik yang dihasilkan oleh daging dan sayuran layu dari Sainsbury.

“Mengurangi konsumsi energi dan manajemen limbah yang baik dan sustainable adalah cara yang bagus dalam menjalankan bisnis,” kata Bob Gordon, kepala departemen lingkungan di British Retail Consortium. “Retailer Inggris telah menghemat ratusan juta pounds pertahun melalui agenda sustainability mereka.”

Sumber: Businessweek