Kehadiran teknologi yang semakin canggih memberikan sejumlah kemudahan bagi kehidupan.  Teknologi seakan melekat di seluruh aktivitas masyarakat terutama generasi millenial saat ini. Teknologi dipilih biasanya karena memenuhi unsur praktis dan mudah. Misalnya dalam urusan finansial, transaksi non tunai alias cashless saat ini sangat diminati oleh para millenial. Mereka bisa melakukan segala aktivitas pembayaran tanpa perlu repot membawa uang. Sebagai imbasnya, industri keuangan pun kini berlomba mentransformasikan bisnis mereka ke ranah teknologi atau dikenal dengan financial technology.

Melakukan transformasi dari manual ke digital dalam bisnis tentu tidaklah mudah, selain berdampak pada proses bisnis, infrastruktur dan sumberdaya nya pun harus turut mendukung.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa untuk berhasil melakukan digitalisasi diperlukan transformasi internal di perusahaan dan harus berjalan dua arah. “Harus ada transformasi internal kita tetapi ini harus ada dua sisi. Dan itu engga gampang tetapi effort itu harus dua pihak. Kita coba berikan training, manusianya juga harus rela berubah”, jelasnya saat ditemui SHIFT Indonesia di Menara BCA, Senin (20/11).

Menurutnya, sejumlah training yang diberikan ini untuk meningkatkan knowledge karyawan BCA. Agar tidak tersingkir oleh perkembangan fintech maka diperlukan keseriusan untuk belajar dan beradaptasi ke suasana baru. “Karena saat ini usia bukanlah menjadi masalah, masalahnya hanya mau belajar atau tidak”, ucap Jahja.

Saat ini BCA memiliki kurang lebih 12 juta nasabah, 97 persen transaksi BCA sekarang menggunakan transaksi digital, sedangkan 3 persen lainnya adalah transaksi di cabang. Kendati demikian BCA tidak sepenuhnya akan mendigitalisasikan bisnisnya karena dirasa belum mampu mengakomodir semua kebutuhan nasabah BCA. “3 persen ini nilainya udah 56-57 persen jadi transaksi besar masih di cabang kita gak bisa bilang oh kita engga butuh cabang,” tutupnya.