Meski sering diperlakukan sebagai metodologi yang berbeda, Agile dan Lean berakar pada nilai yang sama. Metodologi ini kemudian berevolusi saat mereka mulai dikembangkan menjadi aplikasi dan peluang baru. Banyak organisasi telah sukses mendapatkan “big picture” dari kedua metodologi ini.

Mengapa Lean dan Agile kemudian berkolaborasi?
Dengan menggunakan pendekatan sistem, perbaikan terus menerus dari Lean, praktik pengembangan agile dapat digunakan untuk membantu organisasi membangun organisasi secara inovatif dan sehat yang memberikan nilai pelanggan secara berkelanjutan.

Dalam metode agile, alih-alih membangun keseluruhan produk, Anda pun akan membangun bagian yang mungkin paling kecil dan memberikannya kepada pelanggan. Perkembangan agile adalah percakapan evolusioner di mana dalam waktu dua sampai empat minggu mampu menghasilkan umpan balik yang memungkinkan persyaratan untuk diuji dan disesuaikan. Kualitas juga meningkat pada proyek Agile karena menggunakan sistem kerja yang segera menunjukkan apabila ada cacat.

Namun kemudian hari muncul pertanyaan: Bagaimana bisa sebuah proyek besar dijalankan dengan metode Agile? Satu tim yang mengerjakan satu proyek dengan cara Agile tidak sulit dibayangkan. Tapi bagaimana saat bersamaan dijalankan oleh 10 atau 20 tim? Jawabannya adalah mengkolaborasikan Agile dengan Lean. Intinya sebagai masalah praktis, ide bagus dari Agile diserap ke dalam pendekatan baru untuk pengembangan perangkat lunak yang lebih Lean daripada yang lainnya. Rekomendasi mendasar metode Agile difokuskan untuk menciptakan umpan balik yang cepat antara pengguna yang memasukkan data dan teknologi akan mengubahnya menjadi solusi.

Agile tidak membahas bagaimana menghubungkan kerja tim yang berbeda, dan di situlah Lean memiliki dampak yang sangat besar. Dalam sistem manufaktur Lean kita akan dikenalkan dengan istilah Value Stream Mapping (VSM). Manfaat VSM secara umum adalah membantu memperbaiki proses bisnis secara menyeluruh dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses. Beberapa keuntungan lain dari aplikasi Value Stream Mapping (VSM) adalah: mengetahui titik-titik penumpukan inventori dalam proses bisnis, membantu melihat proses bisnis secara keseluruhan yang sedang berjalan saat ini, membantu merancang proses yang diinginkan, yang efisien, efektif, dan tentunya bebas dari waste. VSM dapat dibuat khusus untuk masing-masing produk yang spesifik. Dapat juga dibuat untuk satu kelompok produk yang memiliki tahapan proses yang sama (disebut product family). Setelah kita menentukan produk-produk yang spesifik untuk VSM, kita juga harus melihat permintaan pelanggan (customer demand) untuk menentukan Takt Time (waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi produk, sesuai dengan tingkat permintaan pelanggan).

Value stream dapat dijalankan secara berurutan atau paralel sesuai kebutuhan. Yang nantinya, semuanya tergabung ke dalam produk. Pemasok bahan yang dibutuhkan disiagakan untuk mengisi komponen melalui sistem JIT (just-in-time) yang disebut Kanban. Kanban adalah sebuah sistem komunikasi yang mengontrol aliran aktifitas di area produksi, dan berfungsi untuk menselaraskan level produksi agar sesuai dengan permintaan pelanggan. Kanban membantu anda memanfaatkan kekuatan informasi visual (dengan menggunakan catatan pada sticky note atau bentuk visual lain yang ditempel di papan informasi) untuk menciptakan “gambaran” pekerjaan karyawan. Kanban hadir dalam bentuk sistem visual yang memungkinkan semua orang melihat aliran aktifitas dan menyesuaikan level aktifitas tersebut sesuai kebutuhan. Melalui informasi visual ini, anda akan melihat bagaimana pekerjaan mengalir dalam proses kerja karyawan; tidak hanya mengkomunikasikan status, tapi juga konteks dari pekerjaan.

Selain itu, konsep Lean tentang Kaizen juga memiliki pengaruh kuat terhadap cara Agile dipraktekkan, mengisi celah yang berkaitan dengan perbaikan terus-menerus. Perkembangan Agile berfokus pada pengembangan produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan. Di Agile, baik produk dan persyaratannya disempurnakan karena lebih banyak diketahui melalui pengalaman. Kaizen, metode perbaikan terus menerus yang digunakan di Lean, berfokus pada proses pengembangan itu sendiri. Ketika Kaizen dipraktekkan dalam proyek Agile, para peserta tidak hanya menyarankan cara untuk memperbaiki kesesuaian antara produk dan permintaan tetapi juga menawarkan cara untuk memperbaiki proses yang sedang digunakan, sesuatu yang biasanya tidak ditekankan pada metode agile.

Kekuatan Agile adalah adaptifnya. Dengan mengadaptasi Lean dalam prakteknya, team akan mampu memberikan nilai kepada pelanggan dan memperbaiki diri dengan menggunakan teknik seperti Kaizen, yang memungkinkan mereka mengatasi hambatan dan perubahan serta faktor lingkungan***

Sumber: hackerchick.com, realtimeboard.com, forbes.com