Jika salah langkah, metode Lean bisa membuat organisasi kehilangan peluang bisnis yang menguntungkan.

Implementasi lean yang dilakukan dengan hati-hati dan berkelanjutan dapat membantu organisasi mendefinisikan kembali budayanya. Secara alami, sebuah organisasi selalu mengalami perubahaan, baik itu melalui continuous improvement (kaizen), value stream mapping (VSM), ataupun process capability analysis. Setiap karyawan bisa proaktif ataupun reaktif dalam menghadapi perubahan yang terjadi (eksternal dan internal).

Konsep lean digunakan untuk meningkatkan operasional organisasi yaitu terkait efisiensi peralatan secara keseluruhan (OEE), 5 why, fishbone diagram, dll. Bertujuan untuk meningkatkan nilai untuk pelanggan : pengiriman tepat waktu, kualitas dan layanan yang oprimal, serta harga yang kompetitif.

Ukuran yang digunakan dalam lean semua bersifat tangibles, mampu terdefinisi dengan baik dan dapat dieksekusi. Tangibles, inilah yang menyebabkan celah antara budaya lean dan inovasi .Tidak mudah untuk menyesuaikan konsep dan inisiatif yang non tangibles ke dalam kontruksi lean. Beberapa organisasi berhasil membawa lean dan inovasi ke dalam budaya mereka, namun pada beberapa kasus, lean dapat menyebabkan perusahaan kehilangan peluang bisnis yang menguntungkan. Konsentrasi karyawan dalam menerapkan dan memanfaatkan konsep lean dapat menggiring  groupthink, hal ini dapat membatasi karyawan dalam hal mencari dan mencoba berinovasi. Padahal jika inovasi menjadi prioritas, organisasi akan menerima manfaat tambahan. Misalnya, dengan memberikan kesempatan kepada tim untuk bekerja kreatif, organisasi juga berkesempatan untuk mengeksplorasi teknologi dan inovasi yang datang dari industri lain.

Memang tidak mudah untuk mempertanggungjawabkan inovasi dan kreativitas, biaya pengembangan tentu bisa diukur, tetapi apakah ada jaminan pengembalian? Inilah yang menjadi pertimbangan para manajer  yang akhirnya enggan untuk merealisasikannya. Terlepas dari semua ini, tentu konsep lean tidak boleh menghalangi organisasi mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Namun sebaliknya, lean harus memainkan peran pentingnya.

Ide-ide inovatif bisa datang dari mana saja jika manajemen memberikan kesempatan, tetapi untuk mewujudkannya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisa kebutuhan lingkungan dengan memetakan sumber daya apa saja yang dibutuhkan, menilai keunggulan kompetitif yang sudah ada, juga membawa budaya-budaya yang mendukung. Upaya ini membutuhkan waktu dan biaya, dengan kemungkinan angka pengembalian yang kecil di awal. Sehingga diperlukan kekuatan visi dan peran kepemimpinan untuk memastikan stabilitas saat upaya ini siap diimplementasikan.

Dalam langkah awal inilah, peran penting lean akan terlihat. Mengidentifikasi pasar baru dengan penerapan fungsi kualitas sebagai langkah pertama yang baik. Dari sisi operasional, modularitas, dan penggunaan peralatan yang terukur dapat membawa produk ke pasar dengan lebih cepat dan lebih efisien. Upaya ini akan berhasil jika organisasi memberikan kesempatan dan memiliki budaya yang bisa mendukung inovasi dan kreativitas sebagai core kompetensi, seperti Lean.

Sumber: industryweek.com