Kita perlu meninjau kembali seluruh aspek operasi untuk bisa menciptakan perubahan budaya.

Perubahan hanya terjadi jika organisasi mendefinisikan kembali core budaya mereka dan mendorong karyawan untuk menjadi agen perubahan dengan mengubah cara berpikir mereka. Sebagai pemimpin di industri manufaktur, kita harus menjaga mentalitas problem solving setiap karyawan dengan memperkenalkan proses baru ke dalam alur kerja, memfasilitasi kolaborasi dan mengharuskan karyawan besama-sama menilai proses dan melakukan brainstorming untuk perbaikan.

Kita juga harus menunjukkan bagaimana perubahan budaya ini dapat membentuk kembali hubungan kerja (yang lebih baik) karyawan dengan rekan-rekan mereka, dengan departemen lain di dalam perusahaan dan tanggung jawab atas pribadi mereka sendiri.

Secara taktis, pemimpin di industri manufaktur perlu melibatkan beberapa tim di organisasi untuk bekerjasama. Terlebih dahulu, pemimpin harus menunjuk tim proyek untuk memantau dan mendukung kolaborasi budaya di seluruh pabrik. Tim proyek harus mengadakan pertemuan rutin dan menghasilkan laporan secara mingguan dan bulanan yang mengukur kemajuan — ini untuk memastikan tindakan cepat jika ada potensi penghalang. Berikut beberapa pendekatan yang diambil dari prinsip lean ini dapat membantu Anda meningkatkan kinerja operasi dan kolaborasi tim:

  1. Challenge the Status Quo

Mengubah mentalitas “jika tidak rusak, jangan memperbaikinya” dan praktik lama seperti pemeliharaan yang terjadwal mendorong organisasi mencapai kinerja manajemen aset yang benar. Perlu ada sikap proaktif, setiap waktu, apakah keunggulan benar-benar terjaga? Hal ini membutuhkan perubahan pemikiran yang sistematis, dimana keputusan dibuat berdasarkan dampak di setiap aspek organisasi, daripada satu departemen. Untuk mencapai hal ini, harus ada alur informasi yang bisa diakses bersama dan berkelanjutan mulai dari departemen perencana, penjadwalan, keandalan, operasi , hingga proses.

  1. Get Up, Get Out, Go and See

Dalam kerangka lean, para pemangku kepentingan bersama-sama ke melihat realitas lapangan dan menilai proses untuk menemukan akar masalah. Tidak ada yang pergi sebelum ada rencana tindakan untuk setiap masalah yang menghambat proses produksi. Keandalan aset dan kolaborasi memiliki tingkat kepentingan yang sama. Tim pemeliharaan dan tim operasi perlu “pergi dan melihat” untuk bersama-sama menghasilkan solusi yang mendukung tujuan organisasi.

  1. Continuous Improvement (kaizen)

Meningkatkan kerjasama antara tim pemeliharaan dan operasi tidak harus mengeluarkan biaya yang besar. Sesuatu hal yang sederhana seperti program pengakuan internal, yang mana kontributor dinilai dan dihargai atas perannya dapat membantu melembagakan perilaku kaizen di organisasi.

  1. Respect

Tim operasi dan pemeliharaan memainkan peran yang sama pentingnya dalam menjaga keandalan aset, kerjasama keduanya harus dibangun berdasarkan kepercayaan dan komunikasi yang terbuka. Menghilangkan emosi lebih berfokus pada fakta dan data sangat penting untuk mempertahankan budaya kolaboratif dan terbuka.

  1. Teamwork

Para pemimpin bisnis perlu melatih tim tentang cara mengidentifikasi peluang untuk bekerja bersama. Awal terbaik untuk memulainya adalah mencari area yang menyebabkan biaya tertinggi dan menentukan bagaimana tindakan setiap tim berdampak pada proses tersebut.

Bekerja melalui proses ini dapat membuka penghalang yang terbentuk secara historis. Dan, ketika keberhasilan (kemajuan) tercapa, pemimpin harus berkomunikasi secara luas tentang kemajuan bersama dan ROI di seluruh organisasi untuk membangun kebanggaan dalam pencapaian dan mendorong kolaborasi antar departemen.

Perubahan budaya merupakan tantangan besar di setiap industri, dibutuhkan partisipasi dan komunikasi aktif  dari pemimpin, komitmen untuk menilai proses dan kepercayaan yang ada, dan proses pendidikan untuk membangun kepercayaan dan tanggungjawab di seluruh organisasi.

 

sumber: industryweek.com