Dalam sebuah jamuan pesta pernikahan, kita mengantri untuk mengambil makan malam yang sesuai dengan selera kita. Setiap orang, rata-rata menghabiskan 90 detik mulai dari mengambil piring hingga keluar dari area buffet. Kemudian, kita mulai menghitung bahwa ternyata ada 10 tamu lain yang juga mengantri di jalur ini, yang artinya kita baru dapat menikmati makan malam kita 900 detik atau 15 menit dari sekarang.

Secara matematis, jika jumlah pelanggan yang mengantri adalah N orang, sementara kecepatan pelayanan kita adalah T waktu per pelanggan. Maka waktu yang dibutuhkan orang yang baru masuk dalam antrian adalah N * T satuan waktu.

Ini adalah aplikasi dari penerapan Little’s Law, dalam Little’s Law dikenal beberapa definisi sebagai berikut:

  • Process Lead Time(PLT) – Waktu sejak masuknya produk dalam proses sampai dengan selesai. Dalam contoh di atas, Process Lead Time adalah lama antri kita.
  • Work-In-Process (WIP) – Produk yang masih berada dalam rentang proses ini. Dalam contoh di atas, WIP adalah jumlah orang yang mengantri, yaitu 10 orang.
  • Exit Rate (Throughput)Output dari proses dalam selang waktu tertentu. Dalam contoh di atas, Exit Rate adalah 1 orang per 90 detik atau setara 1 orang per 1.5 menit atau 0.67 orang/menit.

Sebagai tambahan, istilah-istilah berikut juga sering digunakan untuk menggambarkan secara kuantitatif output dari proses:

  • Kapasitas – Jumlah produk maksimum (output) yang dapat dihasilkan proses (diproduksi) selama periode waktu tertentu.
  • Time trapOperasi atau langkah yang menyisipkan waktu tunda terbesar dalam proses. Hanya ada 1 time-trap setiap waktu dalam sebuah proses. Dalam contoh di atas, ternyata memilih potongan ayam goreng mentega (dada, sayap, atau paha) adalah memakan waktu terlama yaitu 20 detik.
  • Constraint/Hambatan – Sebuahtime trap yang tidak sudah tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan.

Hubungan dari Little Law adalah:

 

 

Dalam Little’s Law, kita dapat meningkatkan kecepatan proses (menurunkan Process Lead Time) dengan 2 cara:

1)    Menurunkan time trap, sehingga Exit Rate dapat meningkat. Ingat, dalam formula di atas Process Lead Time berbanding terbalik dengan Exit Rate. Misalnya untuk ilutrasi di atas adalah menjadi 1 item per 8 detik). Bagaimana caranya? Misalnya kita dapat memindahkan sebagian beban pekerjaan proses C ke proses A atau B. Untuk contoh buffet, kita dapat mengurangi time-trap di proses pemilihan ayam goreng mentega dengan hanya menyediakan 1 jenis potongan.

2)    Menurunkan atau membatasi banyaknya Work-in-Process yang berada di dalam rangkaian proses. Proses ini tentu tidak mudah bagi proses transaksional dimana pelanggan langsung mengkonsumsi hasil dari proses tersebut, atau untuk perusahaan yang tidak dapat mengatur jumlah produk dalam rangkaian prosesnya.

Dari konsep sederhana inilah konsep Kanban diaplikasikan untuk memaksimalkan Process Lead Time. Kanban mengatur jumlah produk yang berada di dalam rangkaian proses.