Banyak perusahaan mengadopsi metode Lean Manufacuring untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing bisnis. Setelah memasuki era industri 4.0, tantangan yang dihadapi perusahaan semakin kompleks seiring kemajuan teknologi. Apakah metode lean akan tetap relevan di jaman yang terus berkembang ini?

Banyak perusahaan manufaktur telah membuktikan dasyatnya metode Lean Manufacturing di dalam proses produksi mereka. Selain menjadi lebih produktif, perusahaan pun menjadi semakin agile dan mampu menciptakan barang dengan kualitas terbaik, hingga pengiriman tepat waktu dengan cost produksi yang tetap terjaga.

Sebagai metode yang sistematis, Lean Manufacturing berfungsi efektif untuk membantu pabrikan mengidentifikasi dan menghilangkan segala macam bentuk pemborosan atau zero waste. Secara histori, metode Lean merupakan metode yang diadaptasi dari “Toyota Production System” atau TPS milik Toyota.

Setiap organisasi yang sukses menerapkan Lean Manufacturing selalu menginvestasikan waktu dan sumber daya perusahaan untuk memahami aliran informasi dan material pada saat proses produksi berjalan. Kembali lagi tujuannya untuk bisa mengenali dan menghilangkan tujuh jenis pemborosan (7 Waste) yang terdiri dari: Waste Transportation (Transportasi), Inventory (Persediaan), Motion (Gerak), Waiting (Menunggu), Over production (Produksi berlebih), Over processing (Proses yang berlebih), Defect (Cacat/rusak). Dan juga menghilangkan pemborosan jenis lain (additional waste) seperti Waste of talent (Pemborosan keterampilan), Waste of resources (Pemborosan sumber daya),dan Waste of materials (Pemborosan material).

Lean di Era Industry 4.0

Untuk dapat memaksimalkan potensi dan manfaat industry 4.0, perusahaan manufaktur harus lebih dulu menerapkan prinsip Lean Manufacturing secara benar. Alasannya?

Informasi sangat dibutuhkan untuk menghilangkan sumber-sumber pemborosan. Di tengah era teknologi seperti saat ini, tentu perusahaan manufaktur berupaya meningkatkan sistem manufaktur. Kemudian di masa depan, semua fasilitas manufaktur akan terkoneksi satu sama lain, baik itu melalui sensor yang ditanam (untuk mesin) hingga penggunaan sistem berbasis cloud (untuk pabrik). Dalam hal ini, peranan software yang canggih sangat menentukan khususnya untuk pemrosesan data, untuk mendapatkan informasi yang dapat ditindaklanjuti. 

Teknologi Industry 4.0 memungkinkan pabrikan mengakses informasi penting tentang alur kerja secara real time. Melalui penggunaan sensor, realtime data analysis, big data, cloud computing, dan artificial intelligence memungkinkan perusahaan memahami kelemahan produk dan proses, dan mengurai permasalahan yang kompleks sampai di akarnya. Hasilnya, pabrikan dapat memproses produk jauh lebih cepat dengan waste lebih sedikit, sehingga proses leadtime di seluruh rangkaian jauh lebih cepat.

Baca juga  Inilah Alasan Mengapa Perusahaan Fortune 100 Memiliki Black Belt

Tepat sekali, adalah penting bagi organisasi untuk memasuki industry 4.0 namun yang tidak kalah penting sebelum menuju pabrik pintar adalah menerapkan prinsip Lean Manufacturing dengan benar. Kok harus? Ya, mudah bagi organisasi berinvestasi dalam teknologi, namun tanpa mengetahui lebih dulu tentang kinerja proses yang dijalankan maka investasi tersebut tidak akan memberikan hasil yang signifikan.

Untuk mudahnya mari kita lihat kasus berikut, misal di sebuah pabrik ada satu line produksi yang tiba-tiba mati atau mengalami downtime selama 60 menit per minggu, apakah menambah sensor akan bisa menyelesaikan masalah? belum tentu, karena kita masih belum tahu sumber downtime yang sebenarnya. Umumnya, tim akan tetap mengambil langkah mundur untuk mendapatkan data lapangan, menganalisanya, dan kemudian memutuskan tindakan lebih lanjut. Setelahnya, baru tim akan menentukan sensor yang tepat untuk dipasang sehingga bisa mengumpulkan data yang tepat di masa depan.

Singkatnya, penerapan industry 4.0 tanpa menjalankan prinsip-prinsip Lean dapat berakibat fatal. Kita bisa menerapkan teknologi pada proses yang tidak tepat, proses yang tidak memberi nilai tambah, automation pada proses yang justru menjadi kelemahan mesin, memiliki layout produksi yang tidak sesuai dengan prinsip value stream, gagal menciptakan aliran one piece flow, menumpuk banyak inventori dan produk, dsb. Dalam hal ini, ada dua hal yang harus terus kita ingat, pertama kita tidak boleh meremehkan peran manusia dalam melakukan pemecahan masalah di proses produksi. Semua proses selalu membutuhkan evolusi, adjustment, dan improvement yang berkelanjutan. Kedua, data yang buruk akan menggandakan biaya investasi. Investasi teknologi tidak akan berarti jika tidak memberikan peningkatan terhadap kinerja ROI. 

Menginisiasi Program Lean di Perusahaan

Bagi Anda yang belum mengenal metode Lean Manufacturing dan tertarik menjalankannya, SSCX International selalu siap membantu Anda dalam mempersiapkan dan mengeksekusi program tersebut. Bulan ini, tanggal 14-15 October 2020, SSCX International akan menyelenggarakan Public Training Lean Manufacturing. Sebagai informasi, SSCX International adalah perusahaan konsultan dan jasa pelatihan Lean Six Sigma terbaik di Indonesia yang telah membantu kemajuan ratusan organisasi di berbagai sektor industri.  Hubungi tim support SSCX di event@sscx.asia atau 08175763021 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan penawaran super spesial ya!