Akibat digitalisasi dan globalisasi yang semakin masif, perusahaan menjadi semakin sulit mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Leadership dan praktik manajemen harus bisa berubah, menyesuaikan, agar bisa bertahan.

Topik organisasi seperti inovasi, customer centricity, people excellence, dan transformasi digital semakin diminati oleh para akademisi dan praktisi, yang berarti bahwa topik ini harus menjadi perhatian utama para manajer perusahaan. Strategi bisnis melibatkan dua proses yang berbeda: eksploitasi dan eksplorasi. Selama eksploitasi, organisasi menggunakan pengetahuan yang ada untuk meningkatkan efisiensi; selama eksplorasi, organisasi mencari pengetahuan baru untuk mengembangkan produk dan layanan baru untuk menyasar pelanggan dan pasar yang baru muncul dan juga untuk meningkatkan inovasi. Keberhasilan dalam menyeimbangkan tuntutan bisnis saat ini sambil beradaptasi dengan perubahan inilah yang dikenal sebagai ambidexterity/ambidextrous organisasi.

Memahami Ambidexterity Organisasi

Jika kita mengacu pada penelitian Bettany Center for Entrepreneurship dan Enterprise Research Center dan Warwick Business School, ambidexterity organisasi selalu dikaitkan dengan inovasi teknologi (technological innovation), pembelajaran organisasi (organizational learning), keunggulan kompetitif (competitive advantage), dan keberlangsungan organisasi (organizational survival).

Perusahaan disarankan untuk “melakukan eksploitasi yang cukup untuk memastikan kelangsungan hidup organisasinya saat ini dan terlibat dalam eksplorasi yang cukup untuk memastikan kelangsungannya di masa depan”. Namun, perusahaan yang dikelola dengan baik dan dipersiapkan untuk efisien, cenderung gagal dalam tahap eksplorasi.

Organisasi yang efisien menggunakan skala ekonomi sebagai jalur menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Tanggung jawab manajemen tradisional berfokus pada upaya mengendalikan perilaku karyawan sebagai cara mencapai tujuan. Ini merupakan peluang, sebab setiap manajer perusahaan (yang berpengalaman) hampir semua memiliki banyak waktu untuk memfasilitasi pelatihan. Dengan demikian, mereka bisa melatih kemampuan mereka untuk mendorong kegiatan eksploitatif di perusahaan.

Baca juga  Sektor Industri Masih Menjadi Kontributor Terbesar Ekonomi

Mendorong Perubahan Kepemimpinan

Setiap organisasi dapat mencapai tujuan termasuk inovasi. Namun, jika kepemimpinan di perusahaan tidak berkembang, maka perubahan atau inovasi tidak akan terjadi. Untuk itu, kita perlu berbicara tentang kepemimpinan yang ambidextrous, yaitu kepemimpinan yang berhasil menyeimbangkan kemampuannya dalam memimpin efisiensi (eksploitasi) dan inovasi (eksplorasi).

Dalam manajemen tradisional, perencanaan strategi dan keterlibatan manajemen senior menjadi nilai tambah yang cukup menguntungkan bagi bisnis. Tetapi setelah digitalisasi dan globalisasi bergerak masif, strategi matang lima tahunan dan kepemimpinan senior yang sulunya memiliki keunggulan informasi tidak lagi relevan dengan kebutuhan organisasi lain.

Sementara perubahan besar terjadi, organisasi harus menangkap dan mencerna tentang nilai yang diinginkan pelanggan. Organisasi harus memulai proses pengambilan keputusan ke bagian-bagian yang paling dekat dengan pelanggan, sehingga lebih aktual dan tidak lagi bergantung pada keputusan manajemen senior. Kita bisa mulai dengan tiga prinsip berikut: Pertama, pastikan melakukan hal yang benar; Kedua, tanyakan apakah mereka ragu; Ketiga, pelajari jika ada kesalahan. 

Tiga prinsip ini jika dijalankan dengan benar akan mendorong karyawan mampu membuat keputusan secara mandiri dan tentu saja keputusan yang mereka buat sejalan dengan nilai-nilai perusahaan. Selain itu, Anda juga membangun keterbukaan dengan menanyakan apakah mereka memiliki keraguan dan segera mengatasinya bersama, dan mendorong mereka untuk belajar dari kesalahan dan menemukan solusinya sendiri, sehingga di masa depan tidak terjadi masalah serupa. Ingat, manajemen yang terlalu birokratis untuk masalah operasional bisa menyebabkan inefesiensi yang pada akhirnya membawa kerugian yang lebih besar bagi perusahaan. Dalam waktu bersamaan, perusahaan juga memberi karyawan kesempatan untuk menemukan perspektif baru untuk meningkatkan perusahaan, dari sinilah perusahaan akan mendapatkan ide-ide inovatif.