Bisnis hari ini dihadapkan pada era VUCA (akronim dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity). Untuk menciptakan nilai bisnis yang lebih selaras dengan bisnis, maka organisasi disarankan untuk mengadopsi perspektif alternatif yang mampu membingkai strategi organisasi sebagai hipotesis, bukan sekedar rencana.

Profesor Paul Verdin dari Solvay Business School bersama partnernya, Amy C. Edmondson telah melakukan penelitian dalam hal ini dan menemukan bahwa ketika strategi dipandang sebagai hipotesis yang akan terus diuji, interaksi dengan pelanggan akan memberi data berharga yang menarik perhatian para eksekutif senior. Seperti pada kasus Wells Fargo (kita bahas dalam artikel sebelumnya), jika mereka mengadopsi pendekatan agile sebagai strategi, maka manajemen puncak perusahaan akan mengambil kegagalan target (atau perihal data palsu) sebagai data yang berguna untuk membantu mengukur tingkat efektivitas strategi penjualan saat ini. yang mana, pembelajaran ini akan memicu strategi adaptasi yang sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Terkadang, kinerja yang buruk hanyalah kinerja yang buruk, tidak ada masalah serius lain. Karena orang berkinerja buruk. Tidak berusaha cukup keras. Untuk itu terkadang, perusahaan hanya perlu menemukan cara untuk memotivasi dan mengelola karyawan dengan lebih baik untuk membantu mereka mencapai standar kinerja yang diinginkan. Namun, di dunia VUCA, ini bukan satu-satunya penjelasan untuk kehilangan target yang diinginkan. Tanda-tanda awal kesenjangan (gap) antara hasil dan rencana harus dilihat terlebih dahulu sebagai data – mendorong untuk proses analisis – sebelum kemudian menyimpulkan bahwa kesenjangan adalah dampak dari kinerja karyawan yang rendah.

Meniru dan menutupi adalah produk alami dari budaya top-down. Budaya ini tidak lagi bisa menjadi strategi untuk bertahan di masa depan, terutama jika para eksekutif tidak bisa menggunakan data aktual dengan baik. Untuk sukses di dunia VUCA, para eksekutif perlu untuk terlibat secara serius dan sering dengan operasi perusahaan di semua level dan departemen.

Orang-orang di garis depan yang berhubungan langsung dengan pelanggan adalah orang-orang yang mengetahui data strategis terpenting di perusahaan. Mereka tahu apa yang diinginkan pelanggan, apa yang dilakukan pesaing, dan apa yang memungkinkan untuk teknologi terbaru. Pembelajaran organisasi – dimulai oleh para pemimpin perusahaan tetapi ini harus diberlakukan oleh semua orang. Dibutuhkan partisipasi aktif dari semua individu untuk secara aktif menemukan penyimpangan dalam strategi yang dijalankan saat ini. Penyimpangan ini tentunya perlu disambut karena nilai informatif yang dibawanya akan mendorong pada perbaikan proses dan kinerja perusahaan.

Baca juga  8 Pelajaran Kepemimpinan dari Kesuksesan Misi Apollo 11

Sangat disayangkan jika kegagalan bisnis terjadi karena faktor keamanan psikologis yang rendah, padahal ada beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi atau menghindari situasi ini.

Dalam hal perilaku pribadi, perlu dicatat bahwa para pemimpin yang hanya menerima kabar baik menciptakan ketakutan yang menghalangi mereka untuk mendengarkan kebenaran. Ini dapat menyebabkan banyak manajer bingung untuk menetapkan standar manajemen yang baik. Dampaknya pada keamanan psikologi yang mendorong ilusi tentang kesuksesan yang pada akhirnya berubah menjadi kegagalan bisnis. Jadi, bisa kita katakan bahwa informasi awal tentang kekurangan hampir selalu berhasil mengurangi dampak kegagalan dalam skala besar di masa depan.

Dan pada pandangan yang lebih luas tentang ini adalah bagaimana para pemimpin dan manajer membingkai pemikiran mereka tentang strategi. Seperti yang Amy dan Paul Verdin katakan:

“Menutup kesenjangan antara strategi dan eksekusi mungkin bukan tentang eksekusi yang lebih baik, tetapi lebih pada pembelajaran yang lebih baik – tentang lebih banyak dialog antara strategi dan operasi, aliran informasi yang lebih besar dari pelanggan ke eksekutif, dan lebih banyak eksperimen. Dalam dunia yang serba cepat saat ini, strategi sebagai pembelajaran harus berjalan seiring dengan eksekusi sebagai pembelajaran – melewati gagasan bahwa strategi maupun eksekusi sama-sama memiliki kekurangan – untuk kemudian menjadikan keduanya sebagai sumber pembelajaran yang berharga, improvement and reinvention.”

Sumber : lean.org