Kegagalan bisa menjadi bencana bagi organisasi. Namun, kegagalan juga bisa menjadi cara untuk berinovasi. Dengan analisa potensi kegagalan yang tepat, organisasi akan menjadi lebih efisien, produk dan proses semakin meningkat, dan membawa ide-ide baru. FMEA menjadi tool terbaik dalam analisa tersebut.

Sebagai individu, kegagalan adalah hal yang paling sulit untuk diterima, tetapi diakui sebagai jalan menuju perubahan dan pertumbuhan. Namun, bagi organisasi kegagalan sering dianggap sebagai produk yang hilang, pemborosan waktu, dan tentu saja menghabiskan uang untuk hal yang sia-sia. Apapun kondisinya, paradigma ini bisa menjadi pesan yang kontradiktif bagi karyawan, menimbulkan kebingungan dan mengarah pada pemborosan waktu dan biaya yang lebih besar.

Nah, agar bisa keluar dari situasi ini, Anda perlu memiliki sebuah tool yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan kegagalan dalam desain, proses, dan produk atau layanan. Tool ini dikenal dengan FMEA, singkatan dari Failure Mode and Effects Analysis. FMEA muncul pada tahun 1940-an oleh militer Amerika Serikat (AS) dan mulai dikembangkan dalam industri manufaktur AS pada tahun 1950-an. Ada dua bagian dalam FMEA, Failure Mode dan Effect Analysis. Failure Mode akan membantu tim menemukan cara dimana suatu desain/proses/produk mungkin gagal. Dan yang terpenting disini adalah mengetahui kegagalan masih sekedar potensi atau sudah berlangsung (aktual) dan mempengaruhi pelanggan langsung. Sementara, Effect Analysis akan mempelajari efek atau dampak dari setiap kegagalan.

Tujuan FMEA adalah untuk menganalisa potensi kesalahan atau kegagalan dalam sistem atau proses. Setelah potensi kegagalan tersebut teridentifikasi, tim akan mulai membuat klasifikasinya berdasarkan besarnya potensi kegagalan dan dampaknya terhadap proses. Proses ini juga akan terdokumentasi dengan baik yang dapat digunakan untuk perbaikan berkelanjutan. Secara keseluruhan FMEA digunakan untuk mencegah kegagalan dan, setelah itu bisa digunakan sebagai fungsi control. Pada akhirnya mendorong tim memiliki proses yang bebas waste dan minim risiko gagal.

Bagaimana Melakukan FMEA?

Baca juga  Mengapa Harus Black Belt?

Langkah-langkah FMEA adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi potensi modus kesalahan untuk setiap langkah atau input dalam proses anda.
  2. Ketahui efek dari kesalahan yang berhubungan dengan modus kegagalan tersebut.
  3. Identifikasi penyebab potensial dari modus kegagalan tersebut.
  4. Buat daftar tindakan dan kontrol yang ada untuk mencegah terjadinya penyebab potensial tersebut.
  5. Tetapkan angka-angka yang menggambarkan besarnya kerugian (severity) dari efek kesalahan, kemungkinan terjadi kesalahan berulang (occurence), dan kesempatan untuk mendeteksi (detection) modus kegagalan sebelum menyebabkan defect (cacat).
  6. Kalikan angka untuk severity, occurence, dan detection untuk mendapatkan risk priority number (RPN).
  7. Lakukan perbaikan untuk setiap item yang memiliki RPN tinggi. Dokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan, dan revisilah RPN.
  8. Pergunakan dokumen FMEA secara aktif. 

sumber: qualitymag.com, shiftindonesia.com