Pada umumnya, kemampuan Six Sigma seseorang diakui melalui sertifikasi Green Belt dan Black Belt yang dimilikinya. Kedua tingkatan ini memungkinkan para profesional mengambil peran yang lebih besar dalam perbaikan proses.

Tingkatan dalam Six Sigma

Sebelum masuk ke spesifikasi Green Belt dan Black Belt, berikut adalah gambaran singkat berbagai tingkatan dalam Six Sigma.

White Belt – Ini adalah level paling dasar. Di level ini para profesional akan mendapatkan pengetahuan dasar tentang metodologi Six Sigma dan bagaimana pengaruhnya terhadap organisasi.

Yellow Belt – Pada level ini, para profesional akan mempelajari prinsip Six Sigma dalam pengaturan proyek Six Sigma. Ini akan membantu dalam pengumpulan data dan membuat pemetaan proses.

Green Belt – Mereka yang mendapatkan sertifikasi Green Belt adalah ahli dalam tools dan konsep Six Sigma.

Black Belt – Pada level ini, para profesional memiliki penguasaan tools Six Sigma, teknik dan analisis data dan mampu memimpin tim proyek. Untuk mendapatkan sertifikasi Black Belt maka Anda harus menyelesaikan proyek Six Sigma dan lulus ujian.

Master Black Belt – Level tertinggi dalam penguasaan Six Sigma, Master Black Belts biasanya menjadi mentor Black Belt dan memiliki pengaruh besar terhadap proyek-proyek di seluruh perusahaan. Untuk menjadi Master Black Belt, umumnya membutuhkan setidaknya lima tahun pengalaman sebagai Black Belt atau menyelesaikan setidaknya 10 proyek Six Sigma Black Belt.

Kepemilikan sertifikasi Green Belt dan Black Belt dapat meningkatkan potensi gaji dan peluang peningkatan karier yang lebih baik. Dikutip SHIFT dari Sixsigmadaily, dalam laporan gaji 2018 dari American Society for Quality disebutkan bahwa profesional yang bekerja dan menjadi Green Belt menghasilkan sekitar $10.000 lebih banyak setiap tahunnya dibandingkan mereka yang bersertifikasi Yellow Belt.

Lalu, apa saja yang sebenarnya dilakukan oleh Para Green Belt?

Jika Anda mengikuti pelatihan Yellow Belt maka Anda akan belajar penerapan tools dan teknik Six Sigma di bidang tertentu, misal mengumpulkan data untuk suatu proyek. Nah, Green Belt inilah yang akan mengambil langkah berikutnya. Green Belt adalah pakar DMAIC. DMAIC merupakan metodologi dasar dalam Six Sigma, yaitu singkatan dari :

Define – Menentukan tantangan dan membangun kasus yang akan diselesaikan. Semua hal disini harus dipetakan dengan baik.  

Baca juga  Proyek Terancam Gagal? Jangan Panik, Anda Bisa Membuatnya Kembali “on-Track”dengan Cara Berikut.

Measure – Menetapkan tujuan, menghitung standar kinerja dan mengumpulkan data dari sejumlah besar sumber untuk menentukan jenis metrik dan cacat

Analyze – Memilah data untuk menemukan masalah seperti redundansi proses. Langkah ini juga akan membantu tim dalam mengidentifikasi kesenjangan antara kinerja saat ini dan kinerja yang ditargetkan, prioritas peluang perbaikan,dan sumber variasi.

Improve – Menciptakan, menerapkan dan mempertahankan langkah-langkah perbaikan proses, dan juga menciptakan standar untuk mengukur efektivitasnya.

Control – Menyesuaikan proses baru untuk memastikan semua hasil langgeng dan tercapai perubahan berkelanjutan.

Nah, sementara Yellow Belt membantu Green Belts dalam menyelesaikan pekerjaan pengumpulan dan analisa data, lalu apa fungsi Black Belt bagi Green Belt?

Black Belt memiliki semua keahlian Six Sigma yang dimiliki oleh Green Belt, tetapi pemahaman mereka tentang di area mana dan bagaimana Six Sigma diterapkan jauh lebih menyeluruh. Black Belt akan mengawasi para Green Belt mengumpulkan dan menganalisa data untuk memastikan bahwa informasi yang dikumpulkan benar dan digunakan dengan cara yang efektif. Jika para Green Belt atau Yellow Belt dapat bekerja paruh waktu untuk mengerjakan proyek, Black Belt akan menghabiskan waktunya untuk menjalankan proyek. Selain itu, Black Belt juga memainkan peran penting dalam hal komunikasi. Mereka adalah jembatan antara tim proyek dan para pemimpin perusahaan