Daya saing digital didefinisikan sebagai kapasitas ekonomi untuk mengadopsi dan mengeksplorasi teknologi digital yang mengarah pada transformasi dalam praktik pemerintah, model bisnis dan masyarakat pada umumnya. Daya saing digital di suatu negara bisa diukur melalui Digital Competitiveness Ranking. Saat ini Indonesia berada di urutan ke 59 dari 63 negara dalam Digital Competitiveness Ranking 2017 dengan tingkat kesiapan (future ready) yang sangat rendah yaitu di urutan ke 62. Hal ini berbanding terbalik dengan kelincahan bisnis (business agility) yang berada di posisi 35. Sebagai pelaku bisnis hal ini tentu menggemaskan.

Seperti kita ketahui bersama pemerintah di seluruh dunia mulai melakukan investasi infrastruktur baik di bidang ilmiah (scientific) maupun teknologi. Investasi ini dirancang untuk menghadapi persaingan di era ekonomi digital atau biasa dikenal dengan industri 4.0, yang dipelopori oleh German. Menurut survey yang dilakukan oleh PwC  Industri 4.0 tidak lagi sekedar ‘future trend’, melainkan sudah banyak perusahaan yang mengkombinasikan baik itu advanced connectivity dan advances automation, cloud computing, sensors dan 3D printing, connected capability, computer-powered processes, intelligent algorithm dan layanan ‘Internet of Things’ (IoT) untuk mentransformasi bisnisnya.

Masih berdasarkan hasil survei PwC  Industri 4.0, Implementasi Industri 4.0 di banyak negara memiliki karakteristik yang berbeda. Sebagai contoh, perusahaan di Jepang dan German yang notabene telah memimpin dalam pengembangan digitalisasi operasi internal dan partnership lintas horizontal value chain. Dengan nilai investasi yang tinggi di bidang teknologi dan pelatihan karyawan, kedua negara tersebut melihat transformasi digital sebagai solusi dalam hal operational efficiency, cost reduction dan quality assurance. Sedangkan perusahaan-perusahan industri di China cenderung fleksibel dan terbuka terhadap perubahan digital, serta pekerja di China yang lebih adaptif terhadap penguasaan teknlogi digital. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya perusahaan di China yang tampil memukau setelah mereka mengembangkan sistem proses manufaktur yang terotomatisasi da

Baca juga  Dapatkan Inspirasi dari Finalis Terbaik “OPEXCON Project Competition” di OPEXCON 2018