Situasi hari ini menuntut perusahaan untuk menyeimbangkan prioritas pada supply chain. Jika sebelumnya banyak bisnis mengesampingkan fleksibilitas operasi dalam mengejar efisiensi, maka mulai saat ini bisnis juga harus menjadi gesit untuk bereaksi terhadap perubahan pasar. Selain Just In Time (JIT), organisasi juga harus mampu beroperasi dengan sistem Just In Case (JIC).

JIT merupakan metode yang berlawanan dengan push system pada manajemen supply chain. Dalam push system, produksi dijadwalkan untuk memenuhi permintaan yang diprediksi, atau dikenal sebagai produksi massal. Sistem ini mungkin bisa saja tepat, tetapi ketika prediksi yang dilakukan tidak akurat maka strategi ini akan menjadi sia-sia. Tidak adanya batasan WIP dan produksi dalam jumlah besar dapat meningkatkan inventaris dan waktu siklus, artinya pemborosan terus berjalan.

Di sisi lain, JIT akan membuat Anda bekerja sesuai dengan permintaan pelanggan (aktual). Prinsipnya adalah tidak ada yang akan diproduksi, dan tidak akan ada proses yang dimulai tanpa adanya permintaan yang dikirim pelanggan. Sebenarnya, jika produksi Anda menggunakan sistem JIT dan mengikuti prinsip-prinsip Lean dengan benar, maka Anda akan menemukan bahwa sistem Anda akan menjadi jauh lebih fleksibel. Bahkan ketika permintaan berfluktuasi atau kondisi pasar berubah secara tidak terduga, itu tidak akan menjadi masalah, karena Anda mudah menyesuaikan produksi.

Meningkatkan agility

Konsep  JIT yaitu memproduksi sesuatu hanya sesuai kebutuhan saja dengan tujuan mencapai 3 elemen R, yaitu right product, right quantity, at the right time. Meski demikian, konsep ini juga memiliki keterbatasan yaitu karena menggunakan stok level sebagai pemicunya maka variasi pada permintaan akan difaktorkan dalam safety level. Jika variasinya sangat tinggi maka konsekuensi yang akan diterima adalah jumlah safety stock yang sangat tinggi.

Keterbatasan yang lain adalah konsep JIT mengharuskan proses yang benar-benar handal dan stabil. Mengingat jumlah stok yang terbatas sementara jumlah output yang dikeluarkan dan waktu yang dibutuhkan harus presisi, ketika terjadi variasi output yang tinggi pada proses akibat yield yang rendah ataupun mesin yang tidak handal maka akan timbul masalah dalam pemenuhan pengiriman.

Baca juga  Inilah 2 Pilihan yang Dimiliki Bisnis di Masa Krisis

Selain itu, yang paling penting untuk disikapi adalah situasi bisnis hari ini menjadi semakin tidak terprediksi sehingga bisnis harus bisa lincah menghadapi setiap perubahan yang ada, salah satunya melalui JIC (Just in Case). Berikut adalah 4 komponen penting pendukung JIC yang disarikan SHIFT Indonesia dari Industryweek:

  1. Sederhana. Dengan menyederhanakan supply chain, Anda bisa lebih fokus beradaptasi terhadap dinamika perubahan. Sebagai contoh Harley-Davidson yang belum lama ini mengumumkan penurunan volume produksi untuk merespons permintaan yang menurun, mereka juga menghentikan produksi untuk model tertentu. Melalui penyederhanaan operasi tersebut, mereka bisa fokus pada produk yang diminati pelanggan. Dengan demikian semua waktu dan perhatian manajemen juga akan tertuju pada kegiatan yang mendukung kelangsungan bisnis. Terkait supplier, lakukanlah validasi ulang terhadap kemampuan dan kelayakan mereka.
  2. Redundansi. Untuk mengurangi risiko, rancang dan buat plan B di setiap rencana supply chain Anda. Ini merupakan strategi yang bisa melindungi bisnis Anda dari gangguan dan volatilitas harga.
  3. Inovasi. Jika sesuatu tidak berfungsi hari ini, ada sedikit risiko dalam mencoba sesuatu yang baru. Banyak perubahan pasar yang kita alami sekarang – migrasi berkelanjutan terus terjadi baik itu tentang cara bekerja hingga cara bertransaksi. Anda harus memikirkan cara-cara bisnis yang menguntungkan, mencoba sesuatu yang baru dan memutuskannya dengan cepat untuk mengisi pasar yang berubah. Anda harus bisa menggunakan krisis sebagai kesempatan untuk melakukan hal-hal besar di bisnis Anda.
  4. Kolaborasi. Pilihlah partner yang tepat, yang memiliki keterampilan, alat dan pengetahuan yang akan memaksimalkan kemampuan Anda dan memberikan risiko paling minim. Supplier yang dapat beroperasi di berbagai jenis atau kondisi pasar atau yang dapat mengimbangi kelincahan perusahaan Anda.
Baca juga  Gagal Sukses? Gunakan Design Thinking sebagai Strategi Barumu