Setelah skandal kecurangan emisi yang dilakukan Volkswagen terkuak, permintaan mobil diesel menurun secara global. Beberapa produsen mobil Jepang pun memutuskan untuk beralih dari penggunaan diesel dalam produksi mereka.

Pekan lalu Nissan mengumumkan bahwa mereka telah memutuskan akan menghentikan penjualan kendaraan bertenaga diesel di Eropa dan beralih ke model elektrik. Istilah elektrik ini mengacu pada penggunaan motor listrik di setiap kendaraan mereka, termasuk mobil listrik murni (EV) serta hibrida.

Menurut sumber Nissan, perusahaan secara bertahap akan menghentikan penjualan diesel di Eropa selama beberapa tahun ke depan. Penurunan permintaan solar berarti akan terjadi pengurangan ratusan pekerja pabrik Nissan Sunderland di Inggris. Untuk produksinya sendiri akan mulai diproduksi di Inggris  pada akhir 2018, dan sudah dimulai untuk AS dan Jepang.  Perubahan ini sejalan dengan fokus produksi Nissan di Jepang yang kuat pada kendaraan listriknya, dimulai saat mereka meluncurkan EV pertama pada tahun 2010 lalu.

Ketika mantan CEO Nissan Carlos Ghosn di tahun 2012 lalu memperkirakan 10% mobil akan menjadi listrik pada tahun 2020, dia mengharapkan kenaikan harga gas menjadi pendorong utamanya. Dia tidak memprediksi bahwa jatuhnya diesel secara global akan mengatasi kenaikan harga gas untuk mendongkrak penjualan EV, dan ikut mendorong pergeseran kea rah listrik.

Sementara itu, Toyota, pada Maret lalu menyatakan akan menghentikan produksi diesel dan mendorong maju rencana untuk perluasan jangkauan hibrida dan model listrik.  Akhir tahun lalu, Toyota mendirikan usaha baru dengan Mazda dan Denso untuk mengembangkan teknologi kendaraan listrik generasi berikutnya. Saat ini, separuh lebih dari 50-plus mobil penumpang Toyota menggunakan hibrida, sehingga perusahaan ini sudah dalam perjalanan untuk keluar dari model diesel.

Diesel akan Ditinggalkan
Pabrikan Jepang akan lebih mudah melakukan pergeseran ini, mereka sejak awal lebih skeptis terhadap mesin diesel dan memperkenalkan persentase varian diesel yang jauh lebih rendah daripada pesaing Eropanya. Jadi, merekonstitusi merek, khususnya di Eropa, dengan kendaraan berenergi akan lebih mudah bagi Jepang. Misalnya, mesin diesel hanya menyumbang kurang dari 10% penjualan Toyota tahun lalu di wilayah tersebut, berbeda dengan BMW yang mencapai 65%.

Sebuah langkah yang sangat penting, bulan Juli 2017, Volvo menjadi produsen pertama yang menyatakan bahwa semua kendaraannya akan menjadi listrik atau hibrida pada 2019. Pada saat yang sama, Perancis dan Inggris mengumumkan bahwa pada tahun 2040, mereka akan melarang penjualan bensin atau kendaraan bertenaga diesel. Paris juga telah melarang mesin diesel “yang lebih tua” yang mengeluarkan CO2 yang lebih tinggi. Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya saat ini sedang mempertimbangkan sikap yang diambil oleh negara tetangganya.

Namun dalam hal kesiapan merek, pembuat mobil Jepang termasuk Nissan dan Toyota tampak lebih siap untuk mengalihkan fokus dari mesin diesel ke mobil elektrik dalam jangka waktu yang lebih pendek daripada pesaingnya produsen dari Eropa.

 

Sumber: forbes.com