PTBA terus melakukan transformasi untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia.

Hal ini disampaikan oleh Suryo Eko Hadianto, Direktur Operasi Produksi PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) ketika berbicara di konferensi OPEXCON, November lalu.

“Dinosaurus yang besar justru mati, tetapi kancil yang hanya kecil sampai hari ini masih bertahan. Kami tidak ingin besar seperti dinosaurus, tetapi kami juga tidak ingin hanya kecil seperti kancil. Maka kami melakukan perubahan, menyikapi perubahan yang ada kami lakukan transformasi. Dari hanya berawal dari sebuah perusahaan tambang batu bara, orientasinya menambang, nyangkul tiap hari. Kami coba bangkit untuk menjadi sebuah perusahaan energi, tidak hanya kelas Indonesia tapi cita-cita kami adalah kelas dunia,” paparnya. Kelas dunia yang dimaksud Eko adalah memiliki keunggulan operasi, kinerja keuangan, dan sumber daya manusia tingkat dunia (excellence). Jadi, bukan berarti harus ada di seluruh dunia. Oleh karena itu perusahaan telah membangun strategi pembangunan.

PTBA adalah perusahaan BUMN batu bara yang imunnya tidak diragukan lagi. Pada tahun 2015, bisnis batu bara dihadapkan pada kondisi krisis, bahkan hampir 50 persen penambang batu bara di Kalimantan Selatan harus gulung tikar. Tetapi PTBA berhasil melewati pasang surut bisnis dengan baik, “lolos dari kondisi VUCA,” kata Eko. Menurutnya, kondisi VUCA membawa ketidakpastian dalam bisnis, suatu hal yang bisa menghancurkan tatanan yang sudah ada. “Ini harus kita hadapi, dan real sedang kita hadapi, dan Bukit Asam atas dukungan seluruh karyawan dan komitmennya untuk melakukan perubahan, bisa menghadapI beberapa kali turbulensi bisnis perbatubaraan yang terjadi dan justru di saat turbulensi terjadi PT BA bisa nangkring di posisi teratas,” terang Eko.

Sebagai seorang Direktur Produksi, dalam kesempatan kali ini Eko ingin berbagi dengan peserta OPEXCON tentang pengalamannya membangun strategi operasi produksi khususnya di bisnis batu bara. Eko selalu mengingatkan pentingnya target volume, target kualitas, dan juga optimalisasi biaya. Selain itu dirinya juga menyinggung para pelaku bisnis untuk terus mempertimbangkan sustainability jangka panjang sehingga tidak terjebak oleh upaya efisiensi yang salah.

Menurutnya diperlukan pemahaman yang baik terhadap kondisi pasar, karena persaingan bukan hanya pada produk tetapi juga daya serap pasar. Kalau dalam bisnis batu bara komponen produk meliputi lokasi, kuantitas, dan juga kualitas. Tiga parameter ini akan berdampak pada komponen cost yang harus ditanggung perusahaan. Sementara pasar memiliki tipikal masing-masing. “Inilah sebetulnya real bisnis yang kita hadapi. Nah, siapa yang akan memenangkan nanti? Kami dari bukit asam melihat dalam struktur persaingan yang seperti ini, selalu terjadi segmen-segmen. Tetapi kalau sudah masuk pada segmennya, maka pertempurannya adalah tinggal harga dengan cost,” jelasnya.  Artinya, pada titik terakhir yang menentukan bisnis kita adalah seberapa mampu kita mengantisipasi harga dan biaya yang tidak pasti.

Lalu bagaimana kita akan memilih strategi? Menurut Eko, paling penting adalah mengetahui karakternya. Harga mayoritas adalah sesuatu yang uncontrollable bagi perusahaan. Karena ada faktor bargaining position yang menentukan, selain pemain ada pembeli yang ikut menentukan. “Tetapi perusahaan masih memiliki kontrol sistem operasi, bagaimana efisiensi, bagaimana optimasi, bagaimana memilih bahan baku dan sebagainya itu ada di kebijakan internal perusahaannya sendiri,” jelasnya. Jadi apa yang dimiliki perusahaan bukanlah kendali terhadap harga, tetapi biaya yang harus terkendali.

OPEXCON 2018 mengusung tema “Agility, Customer Centricity & Operational Transformation in VUCA World”. Melihat ketidakpastian dalam bisnis seperti hari ini, SHIFT Indonesia ingin memberikan inspirasi kepada seluruh pelaku bisnis sehingga mampu sustain dan terus maju. Menyoal VUCA, VUCA adalah volatility, sebuah perubahan yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan terus terjadi. Tidak ditemukannya titik keseimbangan. Uncertainty, kondisi yang tidak menentu dan tidak dapat diprediksi. “Kita hari ini siapa yang bisa memprediksi bahwa ada Go-Jek, Bluebird yang dulunya sudah menjadi raja apa transportasi di Indonesia, tau-tau goyang,” kata Eko. Complexity, di dalam bisnis banyak hal yang tidak bisa kita pikirkan secara linier. Logika yang kita pakai hari ini tidak bisa hanya menggunakan logika linear, kita harus menggunakan logika lateral. Ambiguity, di dalam informasi-informasi  bisnis juga terjadi, terdapat berbagai macam interpretasi.