Agar sustain, perusahaan membutuhkan agility, kerjasama, dan koherensi tim yang lebih besar untuk dapat mencapai tujuan. Disinilah psychological safety memainkan peran penting.

Lingkungan kerja yang semakin dinamis dapat mengancam kesehatan fisik dan mental karyawan jika secara psikologi mereka merasa tidak aman. Oleh karena itu, organisasi yang ingin berhasil perlu menciptakan budaya yang bisa memfasilitasi inovasi dan kolaborasi tim dengan baik yang memungkinkan setiap karyawan berani untuk mengambil resiko di lingkungan kerja. Organisasi membutuhkan sebuah mekanisme yang bisa menjamin karyawan merasa aman secara psikologi. Para pemimpin harus memberi penekanan bahwa kesalahan bisa saja terjadi, bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar dan setiap orang diajak untuk berkontribusi mendapatkan solusinya.

Ketika kesalahan dinilai sebagai peluang belajar, maka tim akan menggunakan kesempatan tersebut untuk bereksperimen mendapatkan hasil yang lebih baik. Artinya, semua anggota tim merasa punya wewenang untuk menyampaikan ide mereka. Jika hanya beberapa orang yang mau terlibat dalam diskusi, sementara yang lain hanya mengiyakan, maka tim berpotensi kehilangan input yang berharga. Lalu, seberapa aman (psikologi) di tempat kerja Anda?

Mengapa Penting?

Konsep keamanan psikologis bukanlah hal baru. Konsep ini sudah mulai diperdebatkan sejak tahun 1960-an dan menuai kepopuleran pada tahun 1990-an, terus berlanjut hingga hari ini. Menurut akademisi Harvard, Amy Edmondson, studi telah menunjukkan bahwa psychology safety atau keamanan psikologi adalah faktor penting dalam pembelajaran organisasi, memotivasi orang menjadi lebih inovatif.

Ada beberapa indikator yang mengisyaratkan lingkungan mengalami krisis keamanan psikologi termasuk keengganan anggota tim untuk berbagi informasi tentang pencapaian mereka, baik apa yang berhasil ataupun tidak berhasil, karyawan merasa tidak nyaman membicarakan masalah dan merasa sulit untuk mendiskusikan apa yang ada di pikiran mereka. Dalam hal ini, peran pemimpin sangat dibutuhkan. Setiap karyawan sangat sadar akan perilaku pemimpinnya, dan bagaimana cara mereka merespons satu situasi akan mempengaruhi persepsi karyawan untuk bertindak lebih aman.

Pemimpin dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dengan meningkatkan keamanan (psikologi) karyawannya. Misal, memberi toleransi kegagalan dan juga terlibat secara pribadi dalam tugas apapun. Selain itu juga penting untuk memahami perbedaan antara keamanan psikologi dan akuntabilitas, bahwa benar tidak memberi hukuman berat seseorang karena kesalahannya tetapi itu bukan berarti tidak ada konsekuensi atas kinerjanya yang kurang.

Baca juga  Benarkah Obesitas Membahayakan Kesehatan Otak?

Proven!

Survei Google tentang efektivitas tim, menemukan bahwa ada lima kunci utama keberhasilan tim.

  •  Psychological safety – Ini tentang perasaan aman dan percaya dalam tim. Bagaimana orang-orang berani mengambil resiko dan melakukan tindakan tanpa rasa malu dan takut.
  • Dependability – Ketergantungan disini adalah kemampuan tim untuk saling mengandalkan, percaya bahwa semua anggota mampu melakukan pekerjaan tepat waktu dan berkualitas tinggi.
  • Structure & Clarity – Tim harus tahu tujuan mereka, peran mereka dan tanggung jawab masing-masing individu.
  • Meaning of Work – Setiap individu di tim bekerja sesuai dengan prioritas pekerjaan masing-masing. 
  • Impact of Work – Tim memiliki keyakinan pada nilai pekerjaan yang mereka investasikan.

Google menempatkan keamanan psikologi di urutan pertama, paling berpengaruh bagi  keberhasilan tim. Di dalam tim yang efektif, setiap individu merasa aman untuk mengambil resiko. Mereka tahu bahwa mereka bebas untuk bereksperimen, mengajukan pertanyaan, dan menawarkan ide-ide baru tanpa merasa malu atau takut. Dalam sebuah publikasi Amy Edmondson mengatakan bahwa keamanan psikologis dalam tim dimaksudkan untuk menjadi pengaruh positif yang berkelanjutan, menumbuhkan rasa percaya diri bahwa tim tidak akan mempermalukan, menolak, atau menghukum seseorang karena berbicara. Keyakinan ini muncul dari rasa saling menghormati dan kepercayaan di antara anggota tim. Jadi, bagaimana tim terbaik menjalankan pekerjaan mereka?

  1. Mentoleransi kesalahan untuk mencari solusi yang lebih realistis. Mereka tahu bahwa siapapun bisa melakukan kesalahan dan yang terpenting adalah mereka tahu dan memiliki jalan keluarnya.
  2. Kegagalan sebagai proses pembelajaran. Untuk itu perlu menjadwalkan pertemuan dimana setiap orang bisa terbuka menceritakan pengalaman mereka,apa yang sudah coba mereka lakukan tapi belum berhasil, dan pengalaman yang mereka dapat.
  3. Fokus pada kemajuan, bukan kesempurnaan. Ini adalah cara mudah untuk meningkatkan kepercayaan diri semua anggota tim.
Baca juga  Benarkah Millenial Krisis Loyalitas?

Sumber : HBR, forbes, hrzone, IT-online