Peritel makanan dan minuman (mamin) atau foods and beverages (F&B) berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 18% dalam tiga tahun terakhir.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah. “Masyarakat saat ini trennya, rapat di toko makan seperti kafe atau restoran. Bekerja juga di tempat yang sama. Ngobrol dengan teman atau pergi bersama keluarga juga di tempat makan. Jadi, trennya memang orang lebih mudah mengeluarkan duit ketika di tempat makan,” ungkapnya dikutip SHIFT dari Bisnis.com.

Tren ini juga diikuti oleh pelaku ritel di sektor pakaian dan perlengkapan, peritel di segmen tersebut mulai menawarkan konsep resto atau ruang khusus untuk produk makanan dan minuman. SOGO misalnya. SOGO menyediakan slot bagi Starbucks di dalam gerainya, strategi ini diklaim mampu meningkatkan jumlah pengunjung SOGO.

Meningkatnya minat masyarakat dalam membelanjakan uangnya pada produk mamin membuat sektor bisnis ritel F&B menjadi primadona. Bahkan, pendapatan ritel mamin di Indonesia diproyeksikan Data Statista akan mampu menembus US$793 juta pada tahun ini dan di 2023 diprediksi menembus US$1,4 miliar.

Faktor lain yang juga turut mendukung pertumbuhan ritel mamin disebabkan oleh besarnya proporsi penduduk berusia muda yang diyakini memiliki daya beli yang kuat dan gaya hidup suka berkumpul. Potensi lain juga datang dari pesatnya pembangunan infrastruktur di Indonesia dan juga pesatnya pertumbuhan bisnis waralaba mamin.

sumber : Bisnis.com

Baca juga  Lean Bukan Sekedar Penyesuaian Proses