Laba Toyota Motor Corp kuartal dua tahun ini melonjak hingga 19 persen dari kuartal pertama, melebihi perkiraan para analis dan juga menjadi catatan kinerja terbaiknya dalam dua setengah tahun terakhir.

Meningkatnya penjualan dan penurunan biaya di Asia menjadi dua faktor kuat yang mendorong laba Toyota tumbuh melesat. Laba operasional produsen mobil terbesar Jepang ini mencapai 683 miliar yen, lebih tinggi dari prediksi para analis yang hanya di angka 639 miliar yen.

Penjualan kendaraan ritel mereka secara global naik 1 persen menjadi 2,6 juta unit di kuartal ini, didorong oleh kenaikan 8,5 persen di Asia. Selama enam bulan pertama tahun 2018, permintaan Camry berhasil mendongkrak penjualan di China hingga 5,4 persen, sementara di Thailang melonjak 26 persen. Penjualan di kedua negara tersebut mendorong kenaikan laba kuartal pertama di Asia sebesar 40,2 persen.

Di Amerika Utara,  yang menjadi pasar regional terbesar Toyota, penjualan naik 3,2 persen didukung peningkatan permintaan truk pick-up, termasuk Tacoma dan Tundra. Namun, laba di wilayah itu turun 29 persen karena insentif penjualan terus membebani.

Di Jepang, penjualan turun 6,3 persen tetapi profitabilitas naik 24 persen karena pengurangan biaya dan peningkatan kendaraan yang diproduksi di Jepang dan dieksport ke luar negeri.

Dilansir dari Reuters, Toyota saat ini secara vokal melawan pengenaan tarif impor otomotif Amerika Serikat (AS). Pada bulan Mei lalu AS meluncurkan penyelidikan apakah kendaraan impor menimbulkan ancaman keamanan nasional, dan Presiden Donald Trump telah berulang kali menyerukan tarif hingga 25 persen.  Menurut Toyota hal ini akan meningkatkan biaya pembuatan sedan Camry, truk pick-up Tundra, dan minivan Sienna di AS hingga $ 3.000 per kendaraan.